Moto G5S Plus vs Xiaomi Mi A1, in-depth Test Comparison

 

Intro

Dual Camera dan Bokeh Effect, walau sudah mulai dari tahun lalu, tiba-tiba jadi lebih riuh di antara kita, karena teknologi ini sekarang masuk ke smartphone mid-end. Keramaian ini dipicu terutama karena hadirnya dua brand besar, Moto dengan smartphone G5S Plus dan Xiaomi dengan Mi A1, androidone terbaru kolaborasi dengan Google.

Kedua smartphone di-launching hanya dalam jeda beda hari, dengan spesifikasi mirip dan harga mirip. Banyak orang menjadi bingung, mending pilih yang mana? Saat ini sebenarnya sudah banyak review baik dalam tulisan dan video yang coba membandingkan kedua device yang menarik ini. Hanya saja terlihat masih banyak yang ragu, mending pilih yang mana? Tetap saja pertanyaan itu sampai saat ini masih sering mampir kepada saya.

Untuk itu saya pikir, baiklah kita buatkan review perbandingan berdasarkan test selengkap mungkin yang lebih in-depth. Sebab kedua device ini banyak sekali miripnya, mungkin dengan membahasnya lebih detail, melihat dari sisi yang belum pernah dibahas, pembaca bisa mendapatkan insight dan melihat mana sisi yang lebih penting untuk mereka pertimbangkan.

Saya tahu perbandingan ini tidak mudah, karena kedua brand cukup memiliki penggemar yang solid. Untuk itu sebisa mungkin, dalam review perbandingan ini  saya mencoba melakukan pembahasan dengan test dan menyertakan data sebagai backupnya, dan sebisa mungkin memberi alasan yang mudah dimengerti dan jelas dalam setiap pembahasannya. Semoga mencerahkan dan membantu memberikan tambahan informasi untuk memilih.

 

Desain

Kedua smartphone berdesain metal unibody, dengan bagian layar dilindungi kaca tahan gores gorilla glass 3 yang bagian ujung-ujungnya sedikit melengkung, atau dikenal dengan istilah 2.5D glass.

Bicara dari segi bahan metal unibody, Moto G5S Plus dibuat dari blok aluminium yang kemudian di-carving atau diukir menjadi casing body. Sementara Xiaomi Mi A1, bahan body terbuat dari plat metal yang kemudian di-press menjadi bentuk casing metal. Dari segi kekakuan dan kekuatan, cara membuat casing seperti Moto ini akan lebih baik, karena keseluruhan body merupakan satu kesatuan tanpa sambungan, dan dari segi biaya pembuatan dan lama pengerjaan juga lebih tinggi.

Jika kita ketuk di bagian belakang body metal keduanya, suara pantulan pada Mi A1 lebih nyaring dan bergema, bisa jadi diakibatkan dua hal, metal yang lebih tipis pada Mi A1, atau “isi” G5S plus yang lebih padat.

Unibody Metal – Carving Moto G5S Plus

Unibody Metal Sheet Press Xiaomi Mi A1

Build quality keduanya sama-sama baik, semua lekukan, sambungan rapi dan halus, samasekali tidak berkesan smartphone mid-end atau murah. Pada pertemuan kaca layar dengan frame body metal Mi A1, terdapat lapisan plastik tipis bagian dari bezel yang posisinya di atas chamfer (bevel), sementara kaca dari layar Moto langsung masuk ke dalam chamfer sehingga permukaan kaca rata dengan metal case.

Xiaomi Mi A1

Moto G5S Plus

Lapisan plastik bezel (yang pada Mi A1 gold berwarna putih), selain bagian dari desain yang membuat frame (gold) tampil lebih tipis, juga bagian dari kemudahan penggantian dan pemasangan layar, yang lebih mudah dibuka karena menggunakan sistem baut, dibandingkan Moto G5S Plus yang dilem dan harus dipanaskan..

 

Secara ukuran kedua smartphone ini hampir juga mirip, hanya terlihat Mi A1 sedikit lebih tinggi, sementara Moto G5sPlus sedikit lebih lebar di atas kertas, tetapi tidak kasat mata. Perbedaan bobot juga tidak terasa hanya 3 gram. Sementara rasio layar terhadap terhadap keseluruhan permukaan depan smartphone, Moto G5S Plus sedikit lebih baik.

Moto G5S Plus – Xiaomi Mi A1

Peletakkan tombol dibagian kanan kedua smartphone sama, dibagian kanan terdapat volume dan power button. Jika diraba, tombol power button Moto G5S Plus memiliki permukaan kasar yang berbeda dibanding tombol volume, sedangkan pada Xiaomi Mi A1 keduanya sama licin. Perbedaan ini walaupun kecil cukup berarti untuk mengurangi kesalahan saat menekan tombol yang posisinya berdekatan.

Pada bagian bawah posisi lubang speaker keduanya sama di sebelah kanan, di tengah terdapat port charger/data yang pada Xiaomi sudah menggunakan USB Type-C, sementara pada Moto masih menggunakan micro USB. Xiaomi tetap meletakkan port audio 3.5mm di bagian bawah, sementara Moto memilih di bagian atas. Kedua peletakkan port audio ini sama-sama memiliki kelebihan, untuk mereka yang suka mendengarkan musik sambil berjalan dan mengantungi smartphone, port audio di bawah lebih nyaman. Sementara untuk mereka yang ingin meletakkan smartphone berdiri (potrait) di atas meja atau kasur sambil menggunakan earphone, port di atas lebih nyaman.

Pada bagian atas Mi A1 memiliki lubang infra red untuk remote control yang tidak dimiliki G5S Plus. Pada sisi kiri, keduanya meletakkan SIM tray hybrid, bisa memilih apakah akan menggunakan dual SIM atau single SIM dengan tambahan memori eksternal.

Kedua smartphone memiliki dua buah mic, yang satu untuk berbicara, satu mic lagi untuk mendengarkan ambien suara sekitar dan mengeleminasinya agar saat bertelepon suara sekitar tidak terlalu mengganggu bagi lawan bicara.

Moto G5S Plus masih meletakkan home button fingerpint di bagian depan, home button ini tidak clickable, tetapi bisa mengenali gestur tap dan swipe. Tap untuk home, swipe ke kiri untuk back, swipe ke kanan untuk recent apps. Gesture ini saat diaktifkan membuat tampilan layar Moto lebih penuh karena navigation bar tidak diperlukan lagi. Di bagian atas teradapat lampu LED untuk membantu pemotretan selfie pada lowlight yang tidak dimiliki Mi A1. Untuk mereka yang terikat kebiasaan sejak jaman Blackberry booming yang berpandu notifikasi pesan berdasarkan pulse notification light, lampu kecil yan berkedip, Mi A1 masih menggunakannya, sementara G5S Plus sudah beralih ke gesture on screen display. Gerakkan sedikit smartphone tanpa harus menyalakannya maka akan ditampilkan notifikasi pesan apa yang masuk beserta jam.

Pada bagian belakang kedua smartphone terdapat dual kamera yang penempatan dan gaya desainnya menentukan keseluruhan karakter desain smartphone. Xiaomi juga menempatkan fingerprint sensor di bagian belakang, fungsi tambahannya bisa di swipe dari atas ke bawah untuk memunculkan notifikasi. Keduanya di desain sama menarik, hanya saja ada tambahan catatan khusus yang harus diberikan kepada Xiaomi Mi A1.

Secara kasat mata penempatan dual kamera, tonjolan kamera, dan lengkung garis antenna atas-bawah, membuat Mi A1 tampil terlihat lebih langsing, well designed.  Hanya sayangnya desain ini tidak orisinal. Supaya saya tidak dikatakan berkomentar asal, saya kutip beberapa tanggapan dari beberap portal gadget dunia:

Tech Radar: On the back, it looks a lot like the OnePlus 5

Androidpolice: But like many of Xiaomi’s previous phones, this device looks very much like an Apple phone – in this case, the iPhone 7 Plus

Androidheadlines: Looks a lot like the iPhone

 Mari kita lihat desain ketiganya, iPhone 7 Plus, OnePlus 5, dan Xiaomi Mi A1:

iPhone 7plus – OnePlus 5 – Xiaomi Mi A1

 

Memang kabanyakan smartphone sekarang kalau tidak mirip iPhone, mirip Samsung. Desain yang mudah dikenal orang memang memiliki daya tarik, karena secara psikologis orang lebih mudah menerima siapa yang mereka kenal. Tetapi rasanya Xiaomi sekarang bukan brand yang kecil lagi. Orang barat pun mengenalnya sebagai Apple dari timur. Xiaomi Mi Mix hanya satu contoh desain yang berhasil membuat orang menoleh, ada desain menarik berhasil dibuat pabrikan China. Jadi sepertinya sudah saatnya Xiaomi berhenti mengekor dan mencari jati diri desainnya sendiri.

Moto G5S Plus malah kembali ke akar desainnya saat masih dimiliki Motorola Amerika, di bawah lingkaran kamera yang besar, ada bundaran yang melekuk ke dalam dengan lambang huruf M, icon Motorola. Desain yang khas sekali yang dengan sekejap melihat kita langsung mengetahui itu smartphone Motorola. Lekukan melingkar ini, sadar tidak sadar membuat banyak orang yang menggenggamnya akan meletakkan jari telunjuk di sana.

Secara garis besar, kedua smartphone di desain sama baik. Tetapi melihatnya secara detail seperti dijabarkan di atas tentang unibody metal casingnya dibuat, perhatian terhadap detail dan orisinalitas desain, angka lebih besar harus diberikan kepada Moto G5S Plus.

Apalagi jika kita mengutip quote dari seniman perupa patung besar Indonesia:

“Seniman justru dia harus berbeda dengan yang lainnya, kalau tidak dia dianggap plagiat” – Nyoman Nuarta

 

Layar

Layar ini jadi elemen yang sangat penting di smartphone. Smartphone bagus, komponen layarnya masuk ke jajaran part yang paling mahal dari keseluruhan part smartphone. Penelitian sekarang memperlihatkan kita semakin adiktif terhadap smartphone, sedikit-sedikit menyalakan smartphone dan menatap konten di layarnya. Rata-rata sekarang setiap orang menurut survey sehari bisa menatap layar sekitar 5 jam. Bayangkan dari 24 jam sehari, ambil 7 jam digunakan untuk tidur, dan dari sisa 17 jam, 5 jam digunakan untuk menatap layar smartphone. Jadi sepertiga waktu sadar kita digunakan untuk menatap layar smartphone, itu belum lagi ditambah jika kita menatap layar laptop/pc dan televisi.

Karena ditatap lama, harusnya layar ini menjadi prioritas untuk kita. Sayangnya harga layar yang bagus mahal, sehingga banyak smartphone-smartphone budget menggunakan layar seadanya. Industri smartphone seringkali mendorong kita hanya berpikir komponen penting dari smartphone adalah kecepatan prosesor, besarnya RAM dan hebatnya kamera, mengalihkan kita untuk berpikir tentang layar yang bagus dan nyaman untuk dilihat.

Kedua smartphone ini baik Mi A1 dan G5S Plus memiliki spesifikasi layar yang mirip, berukuran 5.5 inci, resolusi Full HD, dan menggunakan type layar LCD. Mi A1 lebih fancy dengan menyatakan layarnya LTPS LCD, sementara G5S Plus menggunakan istilah yang umum, IPS LCD. Keduanya sebenarnya sama saja, hanya LTPS ini, Low Temperature Poly-Silicon adalah salah satu bahan/substrat yang digunakan pada TFT-LCD. Mungkin Xiaomi mau menunjukkan bahwa mereka sudah menggunakan bahan yang lebih baru, karena LTPS ini memungkinkan layar memiliki kerapatan ppi yang lebih baik, di atas 300 ppi. Kedua layar juga memiliki kerapatan yang sama, 400 ppi, jadi sebenarnya Moto G5S Plus walau tidak menggunakan istilah LTPS, seharusnya juga sudah menggunakan substrat TFT-LCD yang sama.

Ketika mencoba kedua layar, saya menemukan sesuatu yang beda, di luar kebiasaan Xiaomi men-setting color space. Biasanya Xiaomi, dan produk smartphone China lain, men-setting color gamut, atau luasan cakupan warna menggunakan standar NTSC. NTSC ini sampai sekarang saya juga masih bertanya-tanya kenapa masih digunakan, karena kalibrasi warna ini sudah tidak digunakan, dan hadir jaman televisi tabung. Kamera modern sekarang, layar monitor desain, film bioskop, tidak pernah lagi menggunakan standar NTSC. Standar paling umum sekarang sRGB, DCI-P3, atau adobeRGB. Dari ketiga standar warna digital yang paling umum tersebut, sRGB adalah standar warna yang paling kecil color spacenya dan paling umum digunakan dibanyak device terutama monitor.

Setting layar color gamut NTSC ini menghasilkan range warna yang besar, makanya kita sering melihat layar-layar smartphone China sekarang warnanya pop up. Tinggal masalahnya, warna pop up ini belum tentu sesuai dengan apa yang kita lihat, atau device yang kita gunakan. Misalkan kita menggunakan kamera DSLR memfoto bunga merah, warna merah yang ditangkap kamera DSLR ini belum tentu sama ketika dilihat di layar smartphone.

Kebiasaan menggunakan warna pop up ini akhirnya juga memberikan pengaruh kepada otak dan mata kita. Dan itu yang dialami ketika melihat layar Mi A1, warnanya mute, atau tidak pop up. Mungkin saja tidak banyak yang sadar ketika menggunakannya sebagai single device, tetapi ketika bersebelahan dengan device lain, terlihat warna Mi A1 tampil lebih pucat. Pada settingan warna display, biasanya kita menemui settingan warna standar, atau vibrant. Pada Mi A1 pilihan ini tidak ada, tetapi ada di Moto G5S Plus, dan by default, Moto menggunakan standar warna yang lebih vibrant.

Warna mute ini sangat terasa ketika digunakan untuk menonton, dan color space ini baru salah satu masalah. Ketika di coba menonton trailer Black Panther, ada bagian2 gambarnya gelap, menandakan dynamic range di Mi A1 juga kurang. Ketika trailer yang sama diputar bersebelahan dengan Moto G5S Plus, gambar yang dihasilkan moto lebih enak dinikmati. Warna pucat ini berimbas ketika digunakan menonton film, dimana color space untuk film-film bioskop berbeda standar dengan warna natural. Itu makanya kita senang menonton di bioskop, dan film yang sama terasa berbeda ketika diputar ulang di televisi oleh stasiun TV. Kita akan menyukai warna toko Black Panther yang berkulit gelap tampil dengan warna kulit yang lebih bercahaya dan pantulan cahaya pada kulitnya lebih hidup, dibanding warna seperti kulit gelap yang seolah diberi sedikit bedak seperti telihat di Mi A1.

Black Panther Trailer – Youtube , Xiaomi Mi A1  – Moto G5S Plus

Lihat warna pakaian dan kulit dari kedua smartphone secara bersebelahan, lihat warna emas yang melingkar di leher dan tangan, gambar-gambar ini  lebih hidup di Moto G5S Plus.

Pada film 1080 Pirate of Caribbean, senja hari lebih terasa di Moto G5S Plus dengan warna lembayung dan pantulan rumput yang menguning, sementara warna-warna ini tidak terasa di Mi A1.

Xiaomi Mi A1 – Moto G5S Plus

Mohon maaf untuk mengatakan ini, di Mi A1 menonton film bioskop agak terasa seperti menonton sinetron atau film seri di televisi, color tonenya mute dan standar.

Karena penasaran dengan tampilan Mi A1 yang berbeda dengan kebiasaan Xiaomi ini, saya mencoba lebih jauh mengamati dan mengukur brightnessnya, karena salah satu kunci gambar dan film terlihat lebih baik adalah brightness yang cukup. Makanya ketika kita melihat smartphone demo display di toko-toko resmi, misal toko Apple, toko Samsung, toko Sony, dll, semua produk display diberikan aplikasi khusus untuk selalu menampilkan layar dengan brightness maksimum yang memperlihatkan kemampuan layarnya.

Cukup mengejutkan ternyata ketika auto brightnenss diaktifkan, seperti kebiasaan kita menggunakan layar smartphone, agar semakin terang ketika di tempat terang dan menjadi lebih gelap di tempat gelap, Mi A1 memberikan brightness “seadaanya” , dan G5S Plus pada settingan yang sama memberikan kecerahan 2-3 kali lipat. Pada ruangan dengan kecerahan lampu kira-kira 80 lux, Xiaomi dengan auto-brightness dan bar manual ditengah memberikan kecerahan layar sekitar 25-50 lux, sedangkan Moto 60-80 lux.

Menurut saya, setting auto-brightness Xiaomi ini terlalu rendah dan berkontribusi terhadap mute nya warna-warna yang ditampilkan, termasuk dynamic range-nya. Makanya foto-foto perbandingan di atas, diukur dengan layar tanpa auto brightness dan di set 200 lux untuk melihat perbedaan colour space yang sesungguhnya. Entah apa alasan Xiaomi mengkalibrasi rendah auto-brightnessnya, apakah untuk menjaga daya tahan baterai lebih baik?

Color space yang kecil juga yang membuat hasil kamera Mi A1 saat dilihat di layarnya warnanya seperti wash-out, tetapi ketika dipindahkan ke layar PC yang terkalibrasi, ternyata warna-warna yang dihasilkan bagus.

Moto G5S Plus – Xiaomi Mi A1 , color space layar

Mungkin Xiaomi dan Google, pada next update sebaiknya memikirkan untuk men-setting ulang kalibrasi brightnessnya dan menambahkan color space yang lebih besar, atau memberi pilihan pengguna untuk bisa memilih colour space yang ingin digunakan.

Beberapa foto di bawah ini memperlihatkan lagi perbedaan warna yang dihasilkan antara layar Mi A1 dengan G5S Plus. Pada bagian warna hijau dan merah yang masuk bagian warna primer, terlihat lebih jelas layar Mi A1 lebih dull. Bahkan ketika Moto G5S Plus menggunakan kalibrasi warna standar, bukan vibrant, warna primer ini terlihat lebih hidup di Moto G5S Plus. Pada foto-foto ini kedua layar di set dengan kecerahan yang sama tanpa auto brightness.

Moto G5S PLus – Xiaomi Mi A1 , tampilan layar

Ini salah satu contoh hasil foto dari masing-masing smartphone yang ditampilkan di masing-masing layar. Warna makanan mana yang lebih menarik?

 

 

Bahasan di atas bukan berarti layar Xiaomi jelek, jika kita menggunakannya sebagai single device, untuk sebagian banyak orang mungkin tidak terasa dan terlihat baik-baik saja. Apalagi mata manusia mudah beradaptasi. Tetapi ketika dibandingkan dengan device lain akan tetap  terlihat bedanya, apalagi bagi mereka yang sudah terbiasa melihat layar-layar smartphone hi-end yang terkalibrasi dan memiliki range warna yang luas.

Untuk kualitas layar, kedua device memiliki sudut pandang yang baik karena sudah berteknologi IPS. Untuk kecerahan layar tanpa auto brightness, keduanya bisa dimaksimalkan hingga 450 nits. Dengan auto-brightness keduanya juga bisa dibaca di tempat yang terang seperti dibawah matahari. Hanya saja dalam satu dua kali kebetulan, auto brightness ini terkadang lambat beradaptasi untuk Mi A1, sehingga ketika Mi A1 dikeluarkan dari kantung di bawah sinar matahar, saat ingin memotret, layar Mi A1 seolah-olah terlihat blank, padahal sesungguhnya sudah tampil, hanya saja brightness nya belum otomatis terpompa.

Untuk kualitas layar, kelebihan harus diberikan kepada Moto G5S Plus, karena adanya pilihan color space yang lebih besar untuk menikmati beragam konten, dan setting auto brightness yang lebih baik.

 

Daya Tahan Baterai

Kedua device lagi-lagi mirip soal kapasitas baterai, 3000 mAh. Xiaomi menyebutnya 3080 mAh tapi dengan catatan min 3000 mAh, perbedaan yang bisa dianggap sama. Type prosesor yang sama dan layar yang sama, operating system yang sangat mendekati stock android, harusnya di atas kertas keduanya akan sama daya tahan baterainya.

Tetapi mengingat setting auto-brightness yang berbeda dikeduanya, saya melakukan ujicoba kecil. Ujicoba ini tidak bisa dianggap akan mewakili keseluruhan kinerja baterai karena hanya melihat dari satu sisi penggunaan saja.

Kedua smartphone di-set tanpa auto-brightness agar tidak berubah terangnya, dan diukur kecerahannya pada menit dan detik film yang sama, 200 lux (jika warna putih akan lebih dari 300 lux). Smartphone diletakkan dalam posisi airplane mode, tidak ada aplikasi lain berjalan di belakang selain video. Kedua smartphone memutar film yang sama, Pirate of the Caribbean dengan resolusi 1080p dan berdurasi 2 jam 9 menit.

Dalam waktu 2 jam 9 menit tersebut terdapat perbedaan penggunaan daya baterai.

Xiaomi Mi A1 menggunakan 28% baterai, sementara Moto G5S Plus 21% baterai. Jadi kira-kira untuk memutar film, baterai Moto lebih irit 25% dibanding Xiaomi.

Xiaomi Mi A1 – Moto G5S Plus , test penggunaan baterai

Tentu saja percobaan ini tidak bisa mewakili keseluruhan daya tahan baterai, karena setiap penggunaan aktivitas bisa berbeda-beda, ada smarthone yang irit saat digunakan menonton film, tetapi lebih boros saat browsing, dan sebagainya.

Sebenarnya ada benchmark daya tahan baterai yang mulai banyak digunakan , PC Mark Work 2.0 Battery Life. Benchmark ini mensimulasikan penggunaan smartphone sehari-hari dan mengukur daya tahan baterainya. Pengukuran ini menggunakan standar kecerahan layar 200 lux. Entah mengapa device Moto dengan prosesor snapdragon 625 tidak kompatibel dengan aplikasi ini dan selalu berhenti di tengah, seperti terjadi pada Moto Z2 Play dan sekarang juga pada Moto G5S Plus. FYI, Mi A1 hasil benchmarknya 7 jam 38 menit.

 

Smartphone-smartphone terbaru saat ini menggunakan baterai yang berkapasitas besar, bahkan sekarang, smartphone dengan  baterai dibawah 3000 mAh sering dianggap tidak mencukupi. Kapasitas ini sebenarnya bukan satuan yang pasti dalam artian semakin besar kapasitasnya akan berarti lebih tinggi daya tahannya, karena daya tahan baterai ditentukan banyak hal. Sama seperti mobil jeep dengan kapasitar tanki bahan bakar besar, belum tentu lebih jauh daya tempuhnya dibanding kendaraan sedan kompak yang lebih kecil kapasitas tanki nya. Tetapi baterai kapasitas semakin besar ini biasanya juga membutuhkan waktu yang lama untuk di charge. Untuk itu teknologi charging sekarang memperkenalkan charging cepat yang kita kenal dalam berbagai istilah, seperti turbo charging, fast charging atau quick charging.

Tujuan charging cepat ini terutama dalam waktu singkat bisa mengisi daya baterai setinggi-tingginya, mengingat orang-orang yang semakin sibuk dan mungkin hanya memiliki waktu sebentar untuk men-charge baterainya. Misalnya saat bangun pagi ternyata smartphone ternyata lupa di-charge, sehingga sambil mandi dan sarapan kilat, smartphone diharapkan sudah sebagian terisi, atau dalam waktu terbatas sambil makan siang dengan kolega, smartphone bisa cukup mengisi daya untuk bertahan hingga waktu pulang. Jika kita mengandalkan charging smartphone hingga penuh saat kita tidur dalam kurun waktu 6-7 jam, hampir pasti tidak membutuhkan teknologi charging cepat ini.

Charging cepat ini kebanyakan teknologinya disematkan pada smartphone hi-end, selain membutuhkan chip pengatur arus khusus, juga membutuhkan charger yang berbeda. Tetapi teknologi ini juga mulai merambah ke smartphone seri mid-end, salah satunya bisa kita nikmati di Moto G5S Plus, sayangnya tidak demikian dengan Xiaomi Mi A1.

Secara kemampuan prosesor Snapdragon 625, salah satu keunggulan yang digaungkan Qualcomm pada prosesor ini adalah mendukung charging cepat versi 3.0 atau quick charge 3.0. Tetapi ini tidak berarti semua smartphone yang menggunakannya akan otomatis bisa menikmatinya, karena penggunaan teknologi charging cepat ini juga harus membayar biaya lebih kepada Qualcomm sebagai pemilik teknologi, belum lagi harus menyiapkan charger yang berbeda, yang lebih membutuhkan biaya produksi ekstra. Pada Redmi Note 4, Xiaomi tidak menggunakan kesempatan ini, demikian juga pada Mi A1.

Sebenarnya melihat charger bawaan Mi A1 yang mendukung tegangan 5V – dan arus 2A, bisa digolongkan charger ini masuk teknologi quick charge 1.0, teknologi charging cepat yang diperkenalkan 4 tahun lalu.

Original Charger Bawaan Xiaomi Mi A1 (white) dan Moto G5S Plus (black)

Sementara itu Moto yang menamakan charging cepatnya sebagai turbo charging, sudah melengkapi G5S Plus dengan charging multi tegangan multi arus, 5V-3A, 9V-1.6A, dan 12V-1,2A yang kira-kira setara untuk kelengkapan quick charge 2.0.

Dalam ujicoba charging saat kedua baterai ini hasilnya.

(Kondisi airplane mode dan posisi standby tanpa running apps di background)

Moto G5S Plus

15 menit mengisi 21% kapasitas baterai

30 menit mengisi 41% kapasitas baterai

60 menit mengisi 78% kapasitar baterai.

Untuk mengisi dari 10% hingga 100% dibutuhkan waktu 1 jam 34 menit

Xiaomi Mi A1

15 menit mengisi 12% kapasitas baterai

30 menit mengisi 24% kapasitas baterai

60 menti mengisi 55% kapasitar baterai.

Untuk mengisi dari 10% hingga 100% dibutuhkan waktu 1 jam 56 menit

Untuk sesi daya tahan baterai dan kelengkapannya, bagi mereka yang sangat mementingkan baterai pada smartphone, nilai lebih besar layak diberikan kepada Moto G5S Plus

 

Performa

Kedua smartphone sama-sama menggunakan prosesor yang sama, Qualcomm Snapdragon 625 dan besaran RAM yang sama 4GB LPDDR3. Dengan hardware yang sama, secara kinerja harusnya keduanya mirip, tinggal ditentukan dari sisi software dan kernel. Secara software sendiri OS yang digunakan sama Nougat dan keduanya bisa dikatakan stock android atau android pure, walau ada sedikit penambahan menu/fitur, tetapi lebih sebagai aplikasi tambahan.

Beberapa pengukuran benchmark dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh perbedaan setiap smartphone. Harap diingat lagi hasil benchmark bukan angka pasti, senantiasa bisa berubah, kita gunakan untuk mendapatkan gambaran global.

 

AnTuTu

Benchmark ini menghitung kesatuan kemampuan CPU, GPU, UX dan RAM. Jadi kira-kira menggambarkan kinerja keseluruhan device jika diberi load yang besar. Hasil AnTuTu keduanya mirim sekitar 60 ribu lebih, perbedaan angka 1000-3000 point pada AnTuTu tidak berpengaruh. Sebagai pembanding saja, smartphone android hi-end sekarang score AnTuTu nya dikisaran 170.000.

An TuTu Benchmark Moto G5sPLus – Xiaomi Mi A1

 

Basemark X

Benchmark ini mengevaluasi performa smartphone untuk bermain game dan pengolahan grafisnya. Karena menggunakan SoC dan GPU yang sama, kedua smartphone ini juga menampilkan hasil yang sama dengan score basemark X sekitar 21 ribuan. Untuk pembanding, kelas smartphone hi-end seperti Galaxy S8, basemark X nya sekitar 44 ribuan.

 

PC Mark Work 2.0

Benchmark dari PC Mark ini mensimulasi smartphone dipakai aktivitas normal sehari-hari seperti kebanyakan yang dilakukan orang, browsing, mengedit foto / video, mengetik dokumen, dan lain-lain.

Hasil benchmark ini, Xiaomi Mi A1 sedikit lebih tinggi sekitar 200 point,  menariknya jika dilihat grafis penggunaan CPU. Pada Moto G5S Plus clock CPU naik turun sesuai beban kerja, sementara Xiaomi Mi A1 menggunakan clock yang cenderung tinggi terus di atas 1.7 GHz hingga mentok 2.0 GHz.

 

Geekbench 4

Benchmark ini betul-betul hanya mengukur kemampuan CPU prosesor saja, tanpa memperhatikan kelengkapan SoC lainnya. Karena keduanya menggunakan chipset Snapdragon 625, salah satu chipset terbaik dari Qualcomm yang seimbang akan penggunaan daya dan komputasi yang bagus, hasilnya juga mirip. Hasilnya dibagi dua, hasil pertama score untuk kerja single processor atau satu saja dari prosesor, dan hasil lainnya multi core, atau kerja bersama semua inti. Rata-rata aplikasi kasual sehari-hari bisa cukup dikerjakan oleh satu prosesor saja, tetapi berbagai aplikasi berat seperti bermain game besar, pengolahan grafis, dan multitasking membutuhkan beberapa prosesor bekerja bersamaan. Hasil Geekbench ini biasanya juga senada dengan smartphone lain yang menggunakan SoC yang sama, single core sekitar 800 dan multicores sekitar 4000.

 

Androbench

Test ini untuk mengukur kecepatan storage, dalam hal ini kita mengukur kecepatan internal storage yang digunakan baik oleh Xiaomi maupun Moto untuk kecepatan tulis dan baca.. Biasanya hasil yang sering diukur adalah random read dan write, misalnya saat kita menjepret kamera, untuk menyimpan gambarnya kita membutuhkan write yang bagus, dan saat membuka hasil fotonya di galeri, kita menghitung dari read untuk kecepatan loading. Ini berlaku juga untuk aplikasi lain. Hasilnya untuk read Mi A1 lebih cepat, tetapi untuk write G5S Plus lebih baik.

 

Kekuatan Sinyal

Kedua smartphone sama-sama diukur di tempat yang sama, dalam waktu berdekatan, menggunakan SIM card yang sama bergantian (Telkomsel).Ditempat yang lebih tertutup dan lebih sulit ditembus sinyal, Moto G5S Plus mencoba selalu mempertahankan untuk memperoleh sinyal 4G, sementara Xiaomi Mi A1 lebih segera berpindah ke 3G, kemudian mencoba lagi ke 4G. Jadi untuk di daerah yang sinyal 4G nya lemah, Mi A1 lebih cepat drop dibanding G5S Plus.

Untuk keseluruhan kinerja berdasarkan beberapa test, bisa dikatakah hasil keduanya tetap mirip, jika selisih pun sangat sedikit dan cenderung bisa diabaikan. Hanya yang perlu menjadi catatan adalah kinerja penangkapan sinyal dari Mi A1 yang cenderung lebih mudah drop. Tetapi ini biasanya jika bukan masalah antenna, bisa diperbaiki melalu software update jika banyak laporan yang masuk.

 

Kamera

Ini salah satu bagian paling menarik mengapa terjadi perdebatan panjang diantara dua device ini diantara netizen, karena keduanya sama-sama menggunakan kamera ganda yang sekarang sedang menjadi trend pada smartphone. Biasanya kamera ganda hanya disematkan di smartphone hi-end, sekarang smartphone mid-end juga memilikinya. Apalagi promo Xiaomi selain konfigurasi kameranya menyerupai flagship Xiaomi Mi 6, juga digadang-gadang kalau kamera gandanya dalam foto potrait (bokeh effect) lebih baik dari iPhone 7plus, yang tentu saja membuat orang berharap sangat banyak. Walaupun menggunakan stock android OS, untuk Mi A1 fitur dan menu kamera menggunakan olahan Xiaomi di MIUI.

Kedua smartphone memiliki konfigurasi dual camera berbeda, Xiaomi Mi A1 memadukan antara lensa standar (wide) dengan telephoto. Perbedaan focal length lensa ini memungkinkan Mi A1 mendapatkan “zoom optikal” 2x.

Moto G5S Plus memilih konfigurasi dual camera yang berbeda, satu lensa dengan sensor RGB (berwarna) dan satu lensa lagi dengan sensor Monokrom. Lensa dengan sensor monokrom menangkap perbedaan kontras yang besar, tujuannya selain menambah dynamic range pada hasil foto, juga membantu hasil foto lowlight.

Kita akan membahas beberapa aspek dari kemampuan kameranya untuk mendapat gambaran lebih utuh.

 

Bokeh Effect

Bokeh, fitur yang lagi dikejar banyak smartphone sekarang, membuat background tambak blur dan objek menjadi lebih stand out. Capture dari dual camera, memungkinkan fitur ini yang biasanya hanya bisa dihasilkan lensa DSLR, juga bisa dimiliki smartphone, tentu saja dengan bantuan software. Jadi peran software pada efek bokeh ini juga sangat menentukan.

Xiaomi Mi A1 menamakan fitur bokehnya dengan potrait mode, seperti iPhone, saat digunakan lensa 2x zoom otomatis digunakan. Butuh jarak optimal antara objek dan smartphone, agar foto bokeh ini bisa dihasilkan, dan kita bisa melihat tanda depth effect muncul jika jaraknya sudah pas. Urusan bokeh diatur oleh algoritma smartphone langsung, tidak dapat diatur manual.

Moto G5S Plus menamakan mode bokehnya sebagai depth enabled. Tidak ada aturan jarak yang ditetapkan untuk bisa membuat efek bokeh, lebih ke posisi objek dan background. Dari awal sebelum foto diambil efek blurnya bisa diset manual dengan slider, ingin seberapa blur. Sesudah gambar diambil efek ini masih bisa diset ulang tingkat blurnya bahkan dipilih ingin fokus ke objek depan atau malah ke objek belakang.

Untuk hasil bokeh yang baik, kedua smartphone harus berada di-penerangan yang sangat baik, paling baik di outdoor. Di dalam ruangan dengan penerangan lampu standar, efek bokeh ini lebih sulit diambil dan gambar tidak tajam.

Untuk objek manusia  dan benda-benda besar di bawah penerangan yang cukup, Mi A1 lebih rapi memberikan efek bokeh, separasi antara objek di bagian depan dan belakang terasa lebih jelas, sedang pada G5S Plus lebih mudah blur pada bagian tepian dan sering ada bagian belakang yang harusnya blur, tetapi tidak dibuat blur..

Mi A1 – Bokeh

G5S Plus – Bokeh

Tetapi Moto G5S Plus juga memiliki kelebihan untuk foto produk, karena jarak antara lensa dan objek yang tidak perlu jauh, misalnya contoh  foto di bawah ini, moto bisa mem-blur botol di belakang produknya dengan lebih menarik.

Moto G5S Plus

Xiaomi Mi A1

Olahan hasil foto bokeh ini pada Moto masih ada pilihan lebih apakah akan dibuat background belakang menjadi hitam putih sementara objek tetap berwarna, atau sekalian mengganti background belakang dengan gambar lain. Hanya saja kedua fasilitas ini masih beta dan masih butuh banyak update untuk lebih sempurna.

G5S Plus – BW Background

 

Makro

Jika mengukur batas maksimum kedekatan lensa dengan objek, Mi A1 memiliki keunggulan untuk foto makro, bisa lebih dekat ke objek dengan jarak lensa dengan objek bisa dibawah 6cm. Kemudian 2x zoom juga bisa membantu membuat objek yang kecil tampak lebih dekat, memberikan alternatif lain untuk foto makro.

Untuk foto makro standar, misalnya contoh foto bunga di bawah ini , kedua kamera hampir identik hasilnya, bahkan warna-warna yang dihasilkan juga dekat. Pada pembesaran juga hasil detailnya mirip.

Moto G5S Plus – Makro

Xiaomi Mi A1 – Makro

 

HDR

Kedua kamera memiliki menu HDR, kelebihan Moto, menu HDR nya selain on dan off, ada pilihan auto, jadi algoritma software yang menentukan kapan HDR diperlukan kapan tidak. Sementara Xiaomi hanya ada pilihan HDR on atau off.

Untuk foto dengan kondisi beda kontras yang besar, kamera Mi A1 cenderung menaikkan brightness lebih tinggi, untuk menghasilkan foto yang lebih jelas di sisi yang lebih gelap. Pada contoh hasil foto di bawah perhatikan tulisan tunggal di bagian kiri atas yang lebih terbaca pada kamera Xiaomi. Tetapi impact nya, warna yang dihasilkan menjadi berubah tidak seperti aslinya, dan dynamic range sedikit lebih flat, seperti hijau pada papan reklame the kiosk yang harusnya hijau tua, tampil menjadi lebih muda, dan warna biru langit menjadi lebih ringan.

Kamera G5S Plus sendiri lebih coba mempertahankan brightness yang terkendali pada foto HDR, dan mempertahankan dynamic range yang lebih terasa dan warna yang tidak berubah

Xiaomi Mi A1 – HDR

Moto G5S Plus – HDR

 

Lowlight

Lowlight ini sering menjadi pertarungan pamungkas, karena kebanyakan smartphone masa kini bisa menghasilkan foto yang baik saat cahaya melimpah, tetapi tidak demikian saat minim cahaya. Pengambilan foto di lowlight cukup “tricky”, membesarkan ISO membuat gambar lebih terang tapi noise, lebih besar shutter speed untuk menangkap cahaya, lebih rentang goyangan. Bukaan lensa dan sensor smartphone yang kecil turut menyumbang terhadap sulitnya foto lowlight.

Untuk smartphone mid-end sering ditambahkan menu khusus untuk foto yang lebih baik dalam kondisi gelap. Xiaomi menggunakan HHT – Hand Held Twilight, dan Moto tinggal memilih icon lowlight bergambar bulan sabit. Keduanya kira-kira sama cara kerjanya, antara menggunakan shutter speed yang lebih lama agar cahaya yang masuk lebih banyak, dan ini berarti posisi tangan kita harus lebih diam untuk menghindari gambar yang goyang, atau dalam waktu tersebut beberapa foto diambil dan digabungkan. Jika diperhatikan foto lowlight keduanya menggunakan menu auto atau khusus lowlight, akan terlihat di menu khusus, noise lebih terkendali.

Xiaomi Mi A1 – HTT (night mode)

Moto G5S Plus – LowLight mode

Pada Mi A1 jika dilakukan crop 100%, sepertinya mode HHT yang berusaha menekan noise juga berimpak kepada detail dan ketajaman. Perhatikan pada ketegasan huruf Pet Park dan detail tangga di bawahnya. Menu HHT ini sepertinya membuat hasil foto lebih soft.

Dari metadata file foto, jika diperhatikan Mi A1 senantiasa menyimpan file format JPEG cenderung lebih besar dibanding G5S Plus, termasuk penggunaan ISO, misalnya untuk foto yang sama, Xiaomi menyimpannya dalam ukuran 4,1 MB dan menggunakan ISO 400, sementara G5S Plus 3,4 MB dan ISO 162, walau sebenarnya resolusi kameranya lebih kecil dibanding Moto, 12 MP vs 13 MP.

Kedua kamera juga memiliki fitur kamera pro atau manual. Untuk shutter speed Moto memiliki sedikit keunggulan untuk range exposure timenya dari mulai 1/6000 hingga ¼ , sementara Xiaomi di 1/1000 hingga 1/15.

Tetapi untuk menu video tambahan, Moto hanya mendukung slow motion, sedang Xiaomi mendukung baik mode slow motion dan time-lapse.

Untuk perekaman Video Moto memiliki keunggulan pada EIS atau Electronic Image Stabilization, gambar video yang direkam sambil bergerak cenderung lebih stabil dan tidak bergoyang-goyang, sementara Xiaomi lebih cocok digunakan untuk membuat video dalam posisi tidak bergerak. Hasil video keduanya bida dilihat di bawah ini:

Untuk urusan resolusi, keduanya bisa merekam hingga 4K video dengan 30fps, hanya saja di full HD atau 1080 video, Moto sekali lagi lebih unggul karena tersedia 1080 dengan 60fps yang menghasilkan gambar yang lebih halus dan rapat. Xiaomi hanya memiliki mode 30 fps untuk video 1080 nya.

 

Selfie Kamera.

Ukuran MP kamera selfie di Moto sedikit lebih besar dengan 8MP , sementara Xiaomi 5MP. Keduanya memiliki aperture yang sama f/2.0.

Untuk foto selfie di tempat temaram, Moto melengkapi kamera selfie dengan lampu LED, sementara Xiaomi tidak memilikinya.

Dalam jarak jangkauan tangan yang sama, area yang dicapai kamera depan Moto lebih wide atau lebar, cocok untuk foto selfie dengan menonjolkan juga backround kita sedang berada dimana, sementara muka kita kan terlihat lebih besar dan dekat pada kamera depan Xiaomi, yang mungkin cocok untuk mereka yang lebih ingin menonjolkan tampilan muka cantik dan gantengnya tanpa terdistraksi dengan kondisi background.

Untuk urusan beautify, membuat wajah lebih mulus, kulit lebih licin Xiaomi memiliki mode smart dan pro, smart ini kamera mencoba menerka sebaik apa wajah kita di permak, sementara pro kita mode pro bisa menambahkan tingkat kelicinan kulit dan kelangsingan muka. Satu yang dibanggakan xiaomi, kamera depannya bisa menebak gender dan umur mereka yang selfie, walau urusan umur ini setiap kali dicoba bisa senantiasa berubah.

Moto sendiri pendekatan beautify-nya lebih simple hanya manual dengan pilihan 7 tingkat, auto, dan off.

Kedua kamera juga memiliki mode khusus untuk foto  group selfie atau wefie yang berbeda pendekatan. Jika kita adalah genk the more the merrier, foto beramai-ramai ingin masuk semua, Moto menjadi pilihan yang baik, karena mode wide selfienya bisa pivot, sedikit diputar ke kiri dan kanan, menggabungkan 3 foto sehingga hasilnya lebar dan bisa mengcover banyak orang.

Xiaomi sendiri pendekatan group selfienya berbeda, seperti fitur yang dulu pertama digunakan HTC, grup selfie ini mengambil beberapa foto sekaligus dan kemudian menggabungkannya sebisa mungkin sehingga semua orang tampak tersenyum dan tidak sedang tertutup matanya.

 

Sedikit Perbedaan Fitur

Selain spesifikasi dasar yang kita bahas di atas, ada fitur yang berbeda di antara keduanya, dimana yang satu memilikinya, yang satu tidak. Mungkin saja ini bisa jadi bahan pertimbangan tambahan untuk mereka yang masih bingung memilih. Ini fitur lebih yang dimiliki masing-masing smartphone.

Moto G5S Plus

NFC

Neaf Field Communication ini biasanya disematkan di smartphone hi-end. Tujuan utamanya sebenarnya untuk cashless payment dan pengganti kartu kredit, misalnya dengan google pay. Sekarang ini banyak yang menggunakan untuk kartu e-money, memeriksa saldo dan mengisinya dari smartphone. Kartu e-money ini semakin populer seiring banyak sarana umum seperti transjakarta, KRL , dan terakhir gerbang toll menggunakannya. Selain e-money, NFC juga digunakan untuk pengenalan cepat, misal sync dengan peralatan bluetooth, atau sticker nfc yang bisa diprogram banyak hal ketika disentuh, seperti otomatis menyalakan GPS di mobil atau mematikan suara saat diletakkan di sebelah tempat tidur.

Radio FM

Walau untuk sebagian orang fungsi ini jadul karena radio juga bisa didengar secara streaming, tetapi mereka yang banyak bepergian ke remote area seringkali memerlukannya. Bahkan di Amerika, negara yang maju, saat terjadi bencana semua listrik dan sinyal telepon mati, radio FM menjadi penyambung berita untuk evakuasi sehingga pemerintah bahkan memaksa Apple untuk menanamkan di devicenya.

Splash Resistant Nano Coating

Part elektronik di dalam device Moto, dilapisi nano coating yang berfungsi sebagai penahan air. Jika terkena hujan dan cipratan yang membuat device kemasukan air, tidak akan menjadikannya mudah korslet dan rusak.

 

Xiaomi Mi A1

IR Blaster

Walaupun teknologi infrared remote ini sudah jadul dan ada sejak jaman device Palm, tetapi sampai sekarang televisi dan beberapa peralatan elektronik kita masih menggunakannya. Dengan remote ini kita bisa menggunakannya juga untuk mengganti channel televisi di tempat umum, misalnya di cafe atau ruang tunggu. Xiaomi sudah menyediakan database dari berbagai peralatan yang menggunakan infra red remote control, televisi, setup box tv, dll, dari banyak brand global hingga brand yang kita tidak pernah dengar namanya.

Kompas Magnetik

Sensor kompas berguna selain untuk menunjukkan arah kompas, juga saat navigasi dan posisi  kita berhenti, kita bisa berputar dan melihat arah kita menghadap pada peta. Ketika kita berkendara dan bergerak, kompas ini tidak terlalu krusial, bisa tergantikan pergerakan titik koordinat GPS. Tetapi beberapa aplikasi memang membutuhkan sensor kompas magnetik ini. Keberadaan kompas tidak berpengaruh terhadap penerimaan sinyal GPS, kedua device bisa mendapat posisi GPS dengan cepat hanya dalam hitungan detik.

Penerimaan sinyal GPS dalam ruang, Moto G5S Plus dan Xiaomi Mi A1

Audio Gain

Mi A1 dilengkapi dengan stand alone amplifier untuk memberikan tenaga yang lebih besar pada audio sehingga bisa men-drive high impedance headphones. Walaupun biasanya jarang untuk pengguna headphones high impedance menggunakan smartphone langsung sebagai source-nya, setidaknya kehadiran amplifier bisa membuat  settingan volume di Mi A1 lebih tinggi tingkat volumenya dibanding Moto G5S Plus. Saat volume suara Moto G5S Plus sudah sampai maksimum, di Mi A1 masih ada 2 level lagi untuk maksimum. Mungkin bagi mereka yang sangat senang mendengarkan suara musik di telinga sangat-sangat keras, bisa merasakan manfaat dari kerasnya volume yang bisa dihasilkan port audio Mi A1 untuk penggunaan headphones. Untuk suara speakernya sendiri dalam volume maksimal baik Xiaomi dan Moto sama-sama imbang disekitaran 88 db.

 

Kesimpulan dan Kata Akhir

Kedua smartphone ini semakin sengit bertarung karena direlease dalam waktu yang sangat berdekatan, beda sekitar 2 hari dengan harga yang berdekatan juga.

Moto G5S Plus dibanderol 2.99 jt sementara Xiaomi Mi A1 3.099 jt, hanya selesih 100rb. Keduanya juga habis saat pre order.

Cerita dan test yang panjang di atas secara garis besar, jika dikumpulkan memang menunjukkan di banyak hal, Moto G5S Plus memiliki keunggulan lebih dibanding MI A1,  termasuk pada hal-hal yang krusial seperti kualitas layar, teknologi baterai, kualitas sinyal, desain yang lebih orisinal dan bahan yang lebih baik.

Untuk kualitas kamera sendiri bisa dikatakan imbang, untuk mereka yang khusus mencari foto potrait, Mi A1 bisa menjadi petimbangan lebih, tetapi dalam mode yang sama Moto bisa “memaksa” foto produk menjadi lebih spesial dengan bokeh dan jarak yang bisa diatur.

Tetapi terkadang urusan memilih smartphone memang tidak sama untuk semua orang, bisa saja hal remeh temeh bisa menjadi penghalang, atau satu fitur kecil, bisa jadi pendorong besar untuk memilikinya. Semua akhirnya kembali ke selera dan background calon pembeli. Semoga breakdown di atas bisa cukup memberi informasi hingga hal-hal kecil tersebut.

Saya berterima kasih untuk mereka yang mau sabar membacanya dari atas hingga selesai tulisan yang sangat panjang ini, semoga tidak sia-sia waktu yang sudah diluangkannya, dan tergantikan dengan mendapat sedikit tambahan pencerahan tentang teknologi smartphone.

Have a nice day !

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9 thoughts on “Moto G5S Plus vs Xiaomi Mi A1, in-depth Test Comparison

  1. Ferry on

    Technology di smart phone yang 4 tahun lalu htc bawa lewat ultrapixel di htc m8 sekarang malah booming..poor htc..

  2. Rido on

    Sayang hal krusial yg membuat saya urung memilih moto tidak dibahas. Internal storage. Karena sy butuh storage min.64gb dengan dual sim on. Andai versi yg 64gb keluar resmi pasti langsung disikat.

    Memang bisa diakali dengan adapter/oprek microSD tapi ya sayang nanti desain yg bagus begitu malah jadi jelek, atau malah bisa jadi rusak.

    Btw thanks om lucky. Banyak ilmu baru yg didapat dari review ini.

    • Lucky on

      Iya kalau memang kebutuhannya harus dual SIM, internal lebih besar menjadi pilihan penting.
      Terima kasih sudah mau membaca artikelnya 😀

  3. Edi on

    Terima kasih kak Lucky atas ulasan mendalamnya.

    Izin kak
    Moto g5s plus kapasitas 32gb
    Mi A1 64gb

    Mungkin bisa jadi bahan pertimbangan.

    Dan izin nanya,
    Pada EIS bisa berlaku di mode kamera?
    Andai tidak di g5s+ apa di hape lain ada yg terbantukan (pernah baca komentar pengguna oppo r9s eis membantunya waktu selfie)

    Lalu untuk hybrid yang dipaksakan supaya bisa dualON+ext akan ada efek negatif?
    Maaf bila OOT

    • Lucky on

      Sepengetahuan saya, EIS hanya bisa digunakan pada video saja. Kalau ada yang buat marketing EIS untuk foto, sebenarnya mereka hanya men-set bukaan yang cepat saja supaya gambar tidak terlihat blur, tapi akan suffer pada foto lowlight, jadi bukan benar EIS.
      Dual On + Ext jika tidak bagus modifikasi tebalnya, akan mudah nyangkut dan mungkin mematahkan pin SIM di dalam. Hati-hati juga jika smartphonenya tahan air, ketebalan yang lebih bisa membuat tray sim tidak rapat dan rembes air.

  4. nice explanation mas Lucky. ini bisa dibilang depth review paling dalem nih. very detail.

    pada akhirnya tetep galau ambil yang mana hahaha

  5. Andry Widjaya on

    Salah satu review terbaik yang pernah sya baca, bahkan untuk orang yang “buta” ttg teknologi2 pada smaartphone pun dapat dengan mudah mengerti..

    Satu keunggulan lainnya yang saya kagumi setelah panjang lebar mereview, Mas Lucky Sangat Adil dalam menampilkan kelebihan dan kekurangan masing2 smartphone, suatu hal yang “sulit kita temukan” pada reviewer lain kebanyakan.

    Akhir kata, terima kasih Mas Lucky, reviewnya sangat membantu dari awal sampai akhir saya baca, dan semangat terus jangan pantang menyerah untuk menciptakan review berkualitas lainnya
    #pertamakalikomensepanjangini..

    • Lucky on

      Hahahah terima kasih sudah mau komen, ini berharga sekali buat saya untuk terus rajin menulis yang baik.
      Semoga saya bisa terus berkarya dengan baik.

Leave a Reply