Samsung Galaxy A8, perdebatan antara kantong kresek dan tas mahal

Intro, jadikan kategori lebih sederhana

Tidak semua vendor smartphone memiliki range kelas smartphone yang komplit, dari hi-end flagship hingga entry-level smartphone. Kebanyakan brand global memilikinya, biasanya terbagi 3 golongan besar , low-end atau entry-level, mid-end, dan hi-end.

Samsung salah satu brand global yang bisa bertahan dengan semua kategori kelas smartphone, terkadang saking banyaknya tipe smartphone yang di-release, kategori kelas smartphone ini terlihat overlap. Terlihat beberapa tahun belakangan ini Samsung berusaha menyederhanakan kelas kategori smartphone-nya dengan penggolongan dan penamaan yang lebih mudah, seri hi-end flagship ditandai dengan seri S dan Note, seri mid to hi-end dengan seri A, dan seri mid to low-end dengan seri J.

Tetapi penggolangan ini bukan berarti batas kelas smartphone sudah baku, tahun lalu seri A masih memiliki banyak tipe, A3, A5, A7, bahkan A9, demikian juga seri J, dari J1 hingga J7, dan kalau kita mengira seri J akan berada di bawah seri A, kita akan bingung dengan seri J7+ yang menyaingi kemampuan seri A3 bahkan A5, baik dari sisi teknologi dan harga. Belum lagi masih ada seri tambahan seperti seri C, yang biasanya hanya dikeluarkan untuk negara China.

Galaxy A series 2017

Memang perkembangan teknologi smartphone ini sangat cepat, dan setiap vendor harus berusaha keep-up untuk tetap bisa melayani kebutuhan pasar yang bermacam-macam permintaan dan pilihannya.

Tahun 2018 ini sepertinya strategi penggolongan kelas smartphone Samsung juga berubah, berusaha lebih ramping dan lebih mudah diikuti. Seri S dan Note yang dulu berbeda angka, sekarang disamakan, S8 series berdampingan dengan Note 8. Demikian juga sekarang dengan seri A.

Seri A8 2018 yang baru saja di-release untuk Indonesia sebenarnya bukan lagi penerus seri A8 yang pertama kali diperkenalkan di tahun 2015. Galaxy A8 2018 sebenarnya meneruskan Galaxy A5 2017, dan Galaxy A8+ 2018 meneruskan seri A7 2017. Jadi sekarang seri A, S, dan Note sama berurutan dengan angka 8, dan nanti sejajar lagi tahun berikutnya dengan angka 9. Mungkin saja nanti akan diteruskan juga dengan seri J, sehingga mudah bagi pengguna untuk melihat lebih jelas kategori dan smartphone terbaru dari Samsung.

Perdebatan

Galaxy A8 dan A8+ saat baru akan hadir sudah ramai mengundang berbagai komentar netizen, terutama karena pandangan mereka akan kategori smartphone ini yang dianggap mid-end, tetapi penetapan harganya mendekati produk hi-end Samsung.

Harga pricelist nya 6.5 juta rupiah untuk Galaxy A8, dan 8.1 juta rupiah untuk Galaxy A8+. Sementara netizen banyak dikenalkan produk mid-end yang kebanyakan dari Tiongkok  dengan harga 3-5 juta rupiah. Harga ini langsung saja membuat banyak netizen berkomentar, bahwa Samsung overprice.

Serbuan fantastis produk Tiongkok memang berhasil mempengaruhi cara pandang banyak konsumen Indonesia,  untuk melihat produk berdasarkan spesifikasi, yang sayangnya sering dalam artian sempit. Memang spesifikasi ini sebenarnya bagian yang “kabur” jika tidak di test, dan kita tidak memiliki background teknis yang cukup untuk memahami apa impact nya spesifikasi terhadap smartphone. Netizen banyak dicekoki hanya melihat dari artian sempit prosesor yang digunakan, ukuran RAM, internal storage, dan harga. Membandingkan spesifikasi di atas kertas, apalagi sebatas prosesor, RAM, dan internal storage, seperti melihat isi sebuah ruang dari lubang kunci, dan seringnya dengan hanya mengintip bagian ini, banyak yang menganggap sudah melihat seluruh isi ruang.

Sudah bisa diduga pertanyaan tentang dimana kelas kategori Galaxy A8 | A8+ dan mengapa harganya ditetapkan lumayan tinggi pasti dilontarkan ke pihak Samsung, apalagi disaat yang sama banyak brand lain berlomba-lomba dan bertarung membuat device mid-end murah.

Saat launching, pertanyaan mendasar ini dilempar pihak media. Begini penjelasan dari pihak Samsung:

———

Samsung memang mendorong seri A ini sekarang lebih ke kategori smartphone hi-end. 70% lebih pasar smartphone hi-end Indonesia dikuasai Samsung. Dengan mendorong Galaxy A8 ke kategori ini, lebih memperkuat portfolio Samsung untuk smartphone hi-end.

Presiden Samsung Indonesia, Jaehoon Kwon

Walaupun sudah punya lini flagship seperti seri S dan Note, yang ditujukan untuk konsumen yang sudah mapan, Samsung melihat masih ada segmen pasar yang besar dimana konsumen yang kebanyakan anak muda, sedang meniti karir, mereka dianggap membutuhkan smartphone kelas hi-end, dengan sebagian besar fitur smartphone flagship, tetapi lebih terjangkau dan mewakili jiwa mereka. Untuk inilah seri A dibuat.

Satu lagi alasan Samsung yang menarik adalah soal analogi kantung kresek dan tas mahal. Petinggi Samsung berkisah istrinya minta dibelikan tas ber-merek, yang harganya cukup mahal. Sebagai lelaki, kebanyakan mungkin berpikir, mengapa harga tas yang fungsinya hanya untuk membawa barang saja, harganya harus yang mahal. Jika bicara fungsi paling standar, barang yang bisa dibawa di tas mahal, bisa juga dibawa di dalam kantung kresek bukan? Tapi tidak mungkin kan suami diminta istrinya membelikan tas bagus, ber-merek, dan malah membalasnya dengan menyuruh menggunakan kantung kresek? Bisa di-gaplok saya lanjutnya…(dan saya juga mengamini bahwa itu problem laki-laki hahaha 😂)

“Fungsinya mungkin sama, tapi beda dong kantong kresek dan tas ber-merek..”

Kita menyadari smartphone selama ini sudah mengalami transformasi yang luar biasa, dari yang fungsi utamanya hanya sebagai bertukar suara, kini sudah menjadi segalanya. Orang memilih smartphone sekarang juga bukan sekedar hanya fungsi, tetapi menimbang banyak aspek lain, desain, teknologi terbaru, bahan yang digunakan, fitur pelangkap, dan juga sebagai gaya hidup.

————-

Gaya ini tidak bisa dianggap remeh, lihat saja bagaimana anak muda memilih merek sepatu, atau pakaian yang dikenakan. Tidak bisa dipungkiri ini memberikan mereka kepuasan, achievement atau pencapaian. Jika kita bertanya kepada anak-anak millenial di kota-kota besar, tentang brand sepatu saja, apa yang mereka pilih dan tipe seperti apa, kemungkinan besar mereka sudah mengetahui apa yang ingin mereka punyai.

Saya pernah berkesempatan berkeliling dari sekolah-sekolah, baik di pusat kota maupun sekolah pinggiran memberi info tentang internet sehat, terkadang saya iseng menanyakan, jika mereka diijinkan memilih smartphone-nya sendiri, smartphone apa yang akan mereka pilih? Jawabannya baik mereka yang bersekolah di sekolah mentereng di kota, sampai yang dipinggiran, ternyata sama, mereka menyebut brand global besar. Saya memberikan alternatif pilihan, mereka tetap pada pilihan mereka, ketika ditanya apa alasannya? “Keren”.. jawab mereka.

Jadi, alasan gaya atau keren, tidak bisa disingkirkan dari opsi orang memilih smartphone. Banyak brand bisa membuat smartphone murah dengan spesifikasi bagus, tetapi untuk menjadi brand yang dianggap gaya atau keren, jauh lebih sulit.

Tapi benarkah Galaxy A8 | A8+ ini punya harga tinggi karena sekedar brand dan gaya? 

Mari kita lihat apa yang menarik dari Galaxy A8 | A8+

  1. Layar kekinian, Infinity Super AMOLED

Walau Samsung termasuk yang pertama memperkenalkan layar dengan rasio baru yang memanjang, 18.5:9 di Galaxy S8, berdekatan dengan LG G6, tetapi butuh waktu cukup lama untuk layar rasio memanjang ini ada di versi non flagship Samsung, dan Galaxy A8 | A8+ menjadi yang pertama. Sementara brand-brand lain mendekati akhir tahun, banyak me-release smartphone mid-end dengan layar rasio baru ini.

Memang tidak bisa dipungkiri, layar dengan rasio memanjang ini membawa angin segar bagi desain smartphone, terasa lebih modern, terlihat lebih langsing dan futuristik dengan dominasi layar dan bezel yang tipis.

Layar rasio baru 18.5 : 9

Desain Galaxy A8 | A8+ menarik perhatian karena sekilas mirip dengan flagship Galaxy S8, termasuk bahan premium yang digunakan, seperti balutan body frame metal dan kaca di bagian belakang, cukup berbeda dengan mid-end brand lain yang sebagian menggunakan body dari plastik kembali.

Salah satu kekuatan smartphone Samsung tentu di layar super AMOLED nya, karena sudah ditekuni secara khusus oleh Samsung bertahun-tahun, bisa dikatakan layar OLED terbaik memang dihasilkan Samsung, sementara banyak brand lain baru mulai menggunakannya sekarang ini. Layar Super AMOLED menghasilkan warna-warna kaya yang pop up untuk dilihat, dengan kontras dan brightness yang membuatnya tidak kedodoran saat dilihat di bawah sinar matahari, atau menyilaukan saat dibaca di dalam gelap.

Layaknya fitur layar super AMOLED di smartphone flagship Samsung, layar super AMOLED di Galaxy A8 | A8+ juga sudah dilengkapi fitur yang sama, seperti screen mode yang bisa berganti cakupan color space, seperti Adaptive Display, AMOLED cinema, AMOLED photo, dan Basic. Dengan menggunakan layar SAMOLED, fitur always on display (AOD), yang tetap menampilkan informasi seperti jam atau kalender, dan notifikasi aplikasi termasuk memutar lagu tanpa harus menyalakan layar saat standby, tersedia di Galaxy A8 | A8+.

AOD, Always On Display

 

  1. Dual Camera Selfie dengan teknologi baru.

Samsung bisa jadi sangat ketinggalan dengan dual selfie camera, sementara brand-brand lain sudah mempopulerkannya. Brand-brand lain dengan tag selfie yang kental, sudah mencoba mempopulerkan teknologi selfie dual camera, baik dengan memadukan lensa lebar dan super lebar, termasuk fitur efek bokeh atau blur untuk background.

Samsung menggunakan dua kamera depan 16 MP dan 8 MP , keduanya dengan aperture f/1.9. Kamera 16 MP dengan lensa 76 derajat dan kamera 8 MP untuk wefie atau selfie beramai-ramai dengan sudut lebar 85 derajat. Gabungan kedua kamera ini untuk selfie bisa membuat efek bokeh, wajah pelaku selfie jelas, dan background blur.

Dual Cam Selfie

Sekilas tidak ada yang baru dari dari kombinasi dual camera ini, karena brand lain juga ada yang mempunyai kombinasi dan fitur seperti ini. Tetapi saat dicoba ada hasil yang berbeda dengan perpaduan dual camera ini.

Pertama efek blur atau bokehnya bagus. Problem efek bokeh ini pada kamera smartphone biasanya pemisahan antara objek dan background yang kurang rapi. Tracing rambut seringkali bagian yang sulit, sehingga tepian objek atau bagian ujung-ujung rambut sering terlihat ikut blur juga. Hal ini wajar karena sensor dan lensa kamera smartphone yang kecil, harus mengandalkan juga algoritma software. Samsung menamakan efek bokeh ini sebagai fitur live focus. Perpaduan dua kamera depan dengan focal length yang berbeda membantu memisahkan mana objek yang berada di depan dan mana yang di belakang. Kemudian secara instan akan tampil tanda live focus, jika kamera sudah pas pada jarak tertentu bisa menangkap mana objek dan mana bagian background yang langsung tampak blur. Ada slider pada layar kamera yang bisa digeser untuk mendapatkan efek level blur, dari tanpa blur hingga sangat blur. Level blur ini juga bisa diatur ulang dari galeri foto saat nanti gambar sudah diambil.

Efek Blur Minim

Efek Blur Maks

Galaxy A8 | A8+ bisa dikatakan berhasil melakukan pemisahan yang baik antara objek dan background. Garis tepi objek hingga bagian rambut rapi di tracing, dan background bisa disesuaikan level blurnya. Efek blur ini selain membuat objek tampil lebih menonjol, juga berguna di tempat-tempat dimana saat foto selfie , background tidak terlalu menarik untuk ditampilkan, misal di ruang kantor, kamar, atau sekedar menghilangkan “selfie bomb”, orang lain yang tertangkap di belakang saat melakukan selfie.

Kedua, dan ini hal yang penting, biasanya kamera depan selfie walau dibuat dengan MP besar sekalipun, menyerah di lokasi lowlight atau yang penerangannya kurang. Untuk mengatasinya banyak vendor mencoba mengatasinya dengan memberikan lampu flash di kamera depan, atau membantu penerangan dengan menyalakan layar smartphone dengan terang. Tetapi bagaimanapun lampu flash ini tidak bisa memberikan efek natural, wajah objek mungkin terlihat lebih jelas, tetapi background menjadi lebih gelap. Intinya ambien di sekitar tidak bisa ditangkap dengan baik.

Cukup mengejutkan selfie di area temaram bisa dilakukan Galaxy A8 dengan sangat baik, tanpa perlu bantuan lampu flash yang tidak disertakan pada smartphone ini, atau menggunakan bantuan penerangan dari layar.

Lowlight Selfie Galaxy A8 (croped)

Bahkan kamera selfie pada smartphone flagship seperti Galaxy Note8 juga menyerah jika diadu foto selfie dalam kondisi lowlight seperti di bawah ini.

Galaxy Note8 vs A8, lowlight selfie

Dengan kemampuan selfie di lowlight, memungkinkan penikmat selfie mengambil foto sekaligus ambien suasananya, apakah di cafe yang temaram, atau foto selfie di tempat wisata di malam hari. Teknologi selfie yang bisa bagus di kondisi cahaya minim karena penggunaan teknologi sensor kamera baru Samsung, ISOCELL bright tetracell. Ketika kondisi gelap, otomatis pixel sensor kamera yang ukurannya sangat kecil 1×1 micron, digabungkan menjadi menjadi 4 buah pixel untuk mendapatkan pixel berukuran besar 2×2 micron.

Ketiga, super-duper wide selfie. Sudah bertahun-tahun Samsung mengatasi sempitnya area selfie yang bisa dijangkau dengan satu kamera depan, menggunakan fitur kamera depan wide selfie. Saat foto selfie diambil, kamera digerakkan sedikit pivot ke kiri dan ke kanan, sehingga kira-kira ada 3 foto depan berbeda arah, kemudian dijahit menjadi satu foto selfie yang lebar. Fitur ini digunakan untuk wefie. Kamera yang tadinya hanya bisa menjangkau 76 derajat, bisa di-ekspan dengan fitur ini menjadi 120 derajat.

Sekarang, walau sudah menggunakan tambahan kamera depan dengan sudut lebih lebar, ternyata fitur ini tidak dihilangkan, sehingga dengan wide lense 8 MP dan fitur wide selfie, foto selfie bisa dilakukan lebih lebar, tanpa perlu menggunakan tongsis, dan sederetan muka wefie bisa terlihat lebih dekat dan detail, dibandingkan jauhnya jarak lensa dengan wajah karena panjangnya tongkat selfie.

  1. Kamera utama yang OK

Semua bagus di bawah matahari, begitu bisa dikatakan untuk kamera smartphone jaman now. Saat cahaya cukup, teknologi kamera smartphone sekarang, walaupun kelas entry-level, sudah sangat lumayan hasilnya dibanding beberapa tahun lalu.

Yang menjadi perhatian sebenarnya, hanya sebagian kecil kamera smartphone yang sanggup menghasilkan foto yang baik di kondisi lowlight atau kurang cahaya. Dan kebanyakan kamera yang sanggup mengatasi kondisi ini adalah kamera dari smartphone flagship.

Kamera-kamera smartphone lainnya banyak menggunakan mode malam hari untuk mengatasi kekurangan ini, dengan cara membuat bukaan lebih lama untuk cahaya masuk lebih banyak. Tetapi cara ini rentan terhadap goyangan tangan sehingga gambar yang dihasilkan mudah blur. Seringkali juga mode malam hari menggunakan ISO yang tinggi, hanya saja teknik ini menghasilkan gambar yang banyak noise.

Yang sulit lagi foto pada kondisi lowlight, bisa menangkap ambien, atau suasana yang tepat seperti mata kita melihat, misal efek lampu kekuningan pada ruangan, pantulan cahaya pada bangunan, dan lain sebagainya, dimana ambien ini sering hilang jika hasil foto hanya sekedar terang.

Berbeda dari seri A sebelumnya, Galaxy A8 menunjukkan hasil yang baik untuk foto malam hari berkat sensor kamera buatannya sendiri ISOCELL fast dengan teknologi tetracell. Kamera 16 MP ini tidak dilengkapai OIS (Optical Image Stabilization), tetapi dari hasil foto-foto di kondisi lowlight, menariknya hasilnya tidak mudah menjadi blur. Kecepatan fokus dan tombol shutter-nya mengalami peningkatan jauh dibanding Galaxy A sebelumnya, baik saat memotret siang hari atau malam hari. Untuk perekaman video, sudah dilengkapi dengan vDIS (Video Digital Image Stabilisation) untuk gambar yang steady saat kita merekam video sambil bergerak. Mungkin supaya ada batasan dengan smartphone flagship atau pertimbangan hasil optimal, resolusi video maksimal pada Galaxy A8 | A8+ masih full HD 1080, belum 4K, padahal secara kemampuan SoC prosesornya, sudah mendukung.

Kalau dulu hasil foto malam hari seri A cukup terpaut jauh dengan flagship device, sekarang hasil fotonya sudah mendekati, hanya masih kalah selangkah dibanding flagship device dalam beberapa bagian detail dan ketajaman. Tetapi untuk banyak orang, hasil foto dari Galaxy A ini sudah cukup bisa diandalkan dalam banyak situasi.

4. Kinerja dan daya tahan baterai yang seimbang.

Tidak semua orang butuh smartphone yang paling kencang, yang biasanya ditawarkan smartphone flagship. Seringkali untuk penggunaan sehari-hari, orang membutuhkan smartphone yang cukup gegas tetapi dengan baterai yang tahan lama.

Memang pilihan orang berbeda-beda, ada yang tidak keberatan smartphone-nya banyak menempel di power bank, ada yang banyak bekerja di luar kantor dan berharap bawaannya lebih minim tak perlu membawa power bank.

Kebanyakan smartphone flagship yang berkinerja sangat tinggi, biasanya jika digunakan mereka yang sangat aktif, membutuhkan charging di sela-sela hari. Sementara smartphone dengan baterai yang tahan lama, seringkali kinerjanya tidak cukup kencang untuk sebagian orang. Sebagian orang mungkin berpikir mengapa produsen smartphone tidak menambahkan saja kapasitas baterai yang besar saja. Banyak hal yang harus dipikirkan dari sekedar membesarkan kapasitas baterai, misalnya desain smartphone yang terlalu tebal dan berat juga tidak menarik dan nyaman digunakan.

Galaxy A8 | A8+ menggunakan SoC atau prosesor Exynos 7885 baru dari Samsung, dengan 8 inti berkonfigurasi berbeda dengan kebanyak smartpone mid-end yang ada sekarang. Dari 8 inti prosesor ini, 2 inti merupakan CPU berkinerja tinggi seperti yang digunakan smartphone flaghship, Cortex A73, dan 6 inti lainnya lebih untuk efisiensi penggunaan daya, Cortex A53. Kebanyakan smartphone mid-end yang ada di pasaran sekarang menggunakan seluruh inti dengan CPU hemat daya A53.

Geekbench 4, CPU Benchmark

Kehadiran 2 inti CPU berkinerja tinggi ini, sangat membantu keseluruhan kinerja smartphone ketika diperlukan untuk me-loading aplikasi dengan cepat, multitasking, akan terasa gegas, dibanding smartphone yang keseluruhannya menggunakan CPU irit daya. Core CPU yang kencang ini juga membantu untuk pengguna menjalankan aplikasi-aplikasi berat, termasuk bermain game 3D, sementara kebanyakan aplikasi-aplikasi yang digunakan sehari-hari, akan berjalan dengan CPU yang efisien dalam daya.

Tentu saja kinerja yang baik ini juga bukan melulu kerja CPU, karena SoC Exynos 7885 juga sudah menggunakan GPU atau prosesor grafis kelas atas yang sama tipenya seperti yang digunakan pada flagship Galaxy S8 atau Note8, Mali G71, hanya dengan core yang lebih sedikit, plus sudah ditunjang RAM LPDDR4, yang lebih cepat dibanding yang digunakan kebanyakan smartphone mid-range lain yang masih menggunakan LPDDR3.

Dengan konfigurasi ini, smartphone bisa diajak bekerja berat, tetapi tetap memiliki daya tahan baterai yang baik.

Sebagai perbandingan, hasil benchmark daya tahan baterai 3500 mAh pada Galaxy A8+ dengan PC Mark 2.0, mendapat score 11 jam kurang 9 menit, lebih tinggi dari flagship Galaxy Note 8 dengan skor baterai 8 jam 48 menit.

PC Mark Battery Benchmark, 200 nits

 

  1. Dual SIM dan slot micro SD.

Walau terkesan sederhana dan sudah umum dimiliki banyak smartphone, kebanyakan Samsung flagship smartphone memiliki slot hybrid, kita harus memilih menggunakan dua kartu SIM tetapi harus bergantung sepenuhnya kepada memori internal, atau hanya satu SIM card dengan tambahan memori eksternal. Ini karena konsep dual SIM tidak banyak diadopsi dan diperlukan di negara-negara maju, yang kebanyakan menggunakan SIM pasca bayar.

Banyak orang Indonesia dengan kemudahan memiliki nomor dan juga mungkin karena ketidakpastian koneksi, membutuhkan smartphone dengan dual SIM, satu untuk nomor utama, satu untuk koneksi data, paket data yang mereka bisa andalkan atau bisa jadi juga sedang promo. Jadi keberadaan dual SIM dan memory card seringkali menjadi pilihan berarti untuk pemilik smartphone di Indonesia. Galaxy A8 | A8+ untuk kecepatan data sudah mendukung 4G+, atau sering disebut dengan istilah LTE advance atau 4.5 G. Saat kita menggunakan SIM card dari operator yang sudah mendukung, 4G+ ini bisa mendapatkan kecepatan data yang lebih kencang dibanding 4G biasa di tempat yang sama.

Kecepatan 4G+ dan 4G

Kalau tahun lalu pada Galaxy A5 dan A7 berbeda ukuran layar dan kapasitas baterai, pada Galaxy A8 dan A8+ perbedaan yang ditambahkan juga pada kapasitas memori internal dan RAM. Galaxy A8 RAM 4GB dan 32 GB internal memory, dan Galaxy A8+ 6GB RAM dengan 64 GB internal memory. Keduanya bisa ditambahkan micro SD hingga 256 GB.

 

  1. Asisten Pintar Bixby

Mungkin tidak banyak orang mengerti mengapa Samsung harus memiliki sendiri asisten AI (artificial Intelligence), padahal untuk perangkat android, Google sudah memilikinya dengan kemampuan sangat maju. Tahun ini kita akan melihat ekosistem IoT (Internet of Things) akan mulai banyak diwujudkan, dimana setiap perangkat elektronik bisa saling terhubung menjadi satu kesatuan ekosistem. Ketika IoT ini sudah berjalan, kita akan lebih mudah mengerti mengapa Samsung harus memiliki asisten pintarnya sendiri.

Sementara ini Bixby hanya dimiliki smartphone flagship Samsung, dan sekarang Galaxy A8 | A8+ mulai mendapatkannya. Bixby sebenarnya terbagi dalam beberapa bagian kategori, Home, Vision, Voice dan Reminder. Untuk Galaxy A8 ini hanya BIxby Voice yang masih belum dibuka.

Galaxy A8 | A8+ mengutamakan Bixby vision sebagai kemampuan tambahan, cukup arahkan kamera ke tulisan misal di papan reklame, koran, buku, maka teks bisa diubah menjadi digital yang bisa kita copy paste dan edit, atau diterjemahkan ke 105 bahasa lain. Ini memudahkan mereka yang bepergian dan menemukan banyak bahasa asing, di papan reklame, menu makanan, dan lain sebagainya, dengan bantuan kamera dan Bixby vision. Fitur yang sama bisa digunakan untuk membaca QR code atau barcode tanpa membutuhkan aplikasi tambahan, membaca kartu nama, mengubahnya dalam informasi digital dan langsung memasukkannya ke dalam kontak, hingga mengenali gedung-gedung dan lokasi di mana kita berada, untuk memberikan informasi lebih.

Salah satu fungsi Bixby Vision, mengenali gambar/lokasi

Karena Bixby dibuat berdasarkan machine learning atau AI, maka kemampuannya akan semakin baik seiring waktu.

7. Beyond Smartphone

Ekosistem IoT besar akan menghubungkan banyak perangkat dari mesin cuci, AC, security, kulkas, TV dan banyak lagi peralatan elektronik, adapula ekosistem kecilnya dimana smartphone bisa terhubung dengan banyak gadget lain untuk saling melengkapi.

Samsung cukup banyak memiliki ekosistem ini dengan menjadikan smartphone bisa terhubung dengan gadget lain seperti gear VR (Virtual Reality), smartwatch, kamera 360 derajat, wireless earphone, dan lain sebagainya. Sayangnya beberapa gadget tambahan ini biasanya hanya diperuntukkan bekerja dengan smartphone flagship. Sekarang dengan kehadiran Galaxy A8 | A8+ kemampuan untuk saling terhubung ini sudah bisa dilakukan, misalnya kita menggunakan gear VR yang sebelumnya untuk Galaxy S8, sekarang juga berjalan baik dengan Galaxy A8.

Galaxy A8 Virtual Reality

Selain itu beberapa fitur yang jarang ada di smartphone mid-end (bahkan terkadan hi-end) dari smartphone lain ada di Galaxy A8 | A8+ , seperti ketahanan air IP68 untuk smartphone ini bisa diajak berenang atau berendam, fast charging, NFC, dan Samsung Pay, yang kelak ketika jalan di negara kita, akan bisa menggantikan fungsi kartu kredit atau debit untuk pembayaran dengan mesin EDC.

Untuk pelengkap fungsi keamanan biometrik, Galaxy A8 | A8+ selain sudah dilengkapi fingerprint sensor di bagian belakang, juga sudah bisa dilengkapi face recognition atau pengenalan wajah, untuk kemudahan unlock smartphone hingga menggantikan pengetikan password pada website sebagai otentifikasi dengan mudah dan cepat. Kali ini penempatan fingerprint sensornya juga sudah diubah seperti kebanyak permintaan pengguna, yang pada flagship phone masih di sebelah kamera, sekarang berada di bawahnya, walau saya percaya sebenarnya para pengguna smartphone sebenarnya sangat cepat adaptif untuk bisa mengakses dengan tepat posisinya setetalah beberapa saat penggunaan.

Masih banyak yang bisa kita bicarakan tentang Galaxy A8 | A8+ , dari membahas lebih dalam soal kamera dengan sensor dan ISP barunya, hingga teknologi SoC smartphone non flagship secara detail yang lebih menarik. Mungkin lain kali kita akan bahas secara terpisah. Sementara ini silahkan menilai saja, apa Galaxy A8 | A8+ memang layak di-push untuk naik kategori menjadi smartphone hi-end.

 

One thought on “Samsung Galaxy A8, perdebatan antara kantong kresek dan tas mahal

  1. Nah, ini harus ada komparasi nih Om. antara Note F.E dan A8+ yang notabene mirip harganya. hehehe. Flagship tahun lagi yang Gatot VS new entry High End A8+.

    Kayaknya bakal menarik ini, hehehe. Ditunggu ya Om Lucky 🙂

Leave a Reply