Hands-on, Dibalik Teknologi Baru Galaxy S9 | S9+

Prolog

26 Februari lalu, flagship seri S dari Samsung, Galaxy S9 | S9+ baru saja diperkenalkan di hajatan Mobile World Congress 2018 Barcelona. Kali ini Indonesia bisa menjadi negara gelombang pertama yang akan menerima lebih dulu device unggulan tersebut, setelah biasanya Indonesia menjadi negara gelombang kedua, kalah cepat oleh negara tetangga seperti Singapura, atau negara utama pasar Samsung seperti Amerika Serikat.

PO Galaxy S9 | S9+ sudah berlangsung dan baru selesai di galaxylaunchpack.com, yang kali ini juga punya varian dengan internal memory besar 256 GB. Sepertinya penjualan Galaxy Note8 tahun lalu sangat bagus, sehingga sekarang Indonesia mendapat prioritas

Memang paling mudah melihat perubahan berdasarkan desain, sehingga ketika bocoran Galaxy S9 merebak, dan ternyata desainnya tidak jauh berbeda dengan pendahulunya, Galaxy S8, banyak orang langsung mengambil kesimpulan, kalau kali ini perubahan di Galaxy S9 hanya incremental, atau sedikit saja. Berbeda saat Galaxy S7 berganti ke Galaxy S8, perubahan rasio layar dari 16:9 ke 18.5:9 membuat desain jauh berbeda.

Hal yang wajar yang pasti dialami oleh vendor smartphone kelas atas seperti Samsung atau Apple, apapun yang mereka buat akan selalu dikomentari, karena orang berharap lebih pada mereka yang dianggap memimpin dalam membawa perubahan. Berbeda dengan banyak brand lain yang sedang berkembang, banyak dimaklumi, bahkan saat mereka meniru desain smartphone lain pun dianggap biasa-biasa saja.

Mungkin secara desain, Samsung menganggap desain Galaxy S8 masih sangat menarik dan masih terlihat kekinian, karena walaupun sekarangn berbagai vendor juga berganti ke rasio baru yang memanjang, masih jarang yang bisa mengkombinasikan dimensi memanjang ini dengan layar lengkung, sehingga ukuran bezel di samping menjadi tidak terasa. Samsung memilih untuk memperbaiki apa yang dirasa kurang dari desain Galaxy S8, kemudian memberi perhatian lebih pada pengembangan spesifikasi di dalam dan fitur-fitur baru.

Secara desain, Galaxy S9 dan S9+ walau berukuran layar sama, sedikit lebih pendek dibanding Galaxy S8 dan S8+ sekitar 1 mm lebih.

Jika diperhatikan di bagian bezel atas yang dipenuhi kamera, sensor, iris scanner, pada Galaxy S9 dan S9+ lubang-lubang ini lebih sulit dilihat, sehingga ketika layar dalam keadaan mati, smartphone akan terlihat lebih hitam dan solid. Mungkin saja ini desain transisi, karena Samsung sudah memiliki paten smartphone yang seluruhnya dipenuhi layar, dan kamera bisa diletakkan di bawah layar.

Bezel bagian atas yang lebih gelap menutupi berbagai lubang sensor

Pada bagian belakang Samsung merubah posisi finger print scanner, yang banyak di protes orang karena berada di samping lensa kamera, sekarang ditempatkan di bagian bawah lensa kamera belakang.

Beda berikutnya pada Galaxy S9+ memiliki dual camera belakang, sementara Galaxy S9 hanya single camera.

Mungkin banyak orang lupa, di bagian belakang di bawah lampu LED CRI Flash, Samsung sudah cukup lama menempatkan heart rate sensor, sensor yang jarang dimiliki flagship smartphone lain. Cukup letakkan jari di sana dan sensor akan menghitung detak jantung kita. Masih ada fungsi lain dari heart rate sensor ini, seperti menghitung oksigen dalam darah, stress level hingga gula darah.

Kali ini bekerjasama dengan Univ California, Sensor di Galaxy S9 | S9+ bisa digunakan juga untuk mengukur tekanan darah dan kaitannya dengan tingkat stress.

Jeroan Baru

Galaxy S8 | S8+ menggunakan prosesor custom buatan Samsung Exynos 8895. Kali ini Galaxy S9 | S9+ menggunakan prosesor yang lebih baru Exynos 9810. Prosesor baru ini menjanjikan performa hingga 40% lebih baik. Yang menarik, kinerja single prosesornya dijanjikan Samsung foundry naik 2 kali lipat.

Saya sempat melakukan ujicoba terbatas, pada unit yang belum komersial dan OS yang belum maksimal dengan melakukan benchmark Geekbench 4. Geekbench ini mengukur kecepatan CPU, dan hasilnya menjanjikan dengan single core terlihat lebih tinggi dibanding versi SD 845.

Sebagai pembanding uji sementara ini Exynos 9810 single core 3700 an, sementara SD 845 2400 an. Multicore Exynos 9810 mendekati 9000 sementara SD 845 sekitar 8400 an.

Geekbench Galaxy S9+

Yang membedakan kali ini ukuran RAM, Galaxy S9 dibekali RAM 4 GB, sementara Galaxy S9+ dibekali RAM 6 GB. Demikian juga kapasitar baterai 3000 mAh untuk Galaxy S9 dan 3500 mAh untuk S9+.

Dual Speaker Stereo

Speaker bersuara lantang pada smartphone banyak, tetapi tidak semua enak didengar. Kita berharap suara yang dihasilkan smartphone cukup keras tetapi memiliki bass, treble dan mid yang cukup seimbang. Memang tidak bisa sekarang ini kita berharap speaker smartphone sebagus speaker portable.

Sampai sekarang flagship Samsung hanya memiliki satu speaker di bagian bawah, suaranya lumayan keras, diatas 80 db, dan tidak pecah. Tetapi bagaimanapun banyak orang berharap layar bagus Samsung diimbangi juga dengan suara yang bagus. Beberapa brand flagship lain seperti HTC sudah cukup lama memiliki dual speaker yang suaranya enak di dengar.

Sebenarnya Samsung di Galaxy C9Pro menempatkan 2 speaker, satu speaker di bawah dan satu lagi speaker kuping bisa bersuara lebih keras untuk menghasilkan efek stereo. Konfigurasi ini yang juga dipakai di Galaxy S9 | S9+, speaker di bagian kuping mendeteksi kalau kita tidak sedang menempelkan speaker tersebut ke dekat telinga, dan menjadi pelengkap speaker stereo. Untuk lebih powerful, dual speaker ini di tune oleh AKG, brand audio kenamaan yang sekarang dimiliki Samsung. Untuk melengkapi pengalaman menonton yang lebih baik agar kedua speaker bisa menghasilkan suara surround, Galaxy S9 | S9+ dilengkapi dengan Dolby Atmos, pengatur tata suara yang sering kita dengarkan di bioskop.

Dual Speaker Dolby Atmos

Saat masih single speaker terkadang kita harus meletakkan tangan dalam posisi melengkung agar speaker smartphone Samsung dibagian bawah terpantul dan suaranya lebih jelas terdengar, terutama saat menonton percakapan. Dengan hadirnya speaker kuping yang menghadap depan menjadi speaker stereo, film dan video yang penuh percakapan bisa didengar lebih jelas tanpa harus memposisikan lagi tangan, membuat menonton terasa lebih santai.

Saya akan mengulas lebih dalam sebaik apa kualitas dual speaker tuned by AKG Dolby Atmos ini di review mendatang.

Camera Reimagined

Kali ini titik berat Samsung di flagship barunya soal kamera. Memang secara survey, kamera ini menjadi fitur penting pertama yang dipikirkan banyak konsumen saat membeli smartphone. Beberapa tahun belakangan ini memang kualitas kamera Samsung senantiasa masuk jajaran papan atas. Tetapi beberapa flagship global juga berkembang dalam teknologi kamera smartphone, seperti iPhone, Google Pixel dan Huawei, sehingga pertarungan untuk menyajikan hasil dan teknologi kamera smartphone flagship semakin seru.

Ada beberapa teknologi baru dan fitur baru yang diusung Samsung di Galaxy S8 | S9+ yang menjadi perhatian utama Samsung, mari kita lihat teknologi di baliknya.

  • Dual Aperture

Ini teknologi kamera smartphone yang paling ditunggu dari Samsung. Sejak bocorannya mengumandang, banyak orang menebak-nebak, bagaimana caranya teknologi ini bisa bekerja. Sampai sekarang rata-rata kamera smartphone menggunkan fix aperture.

Aperture

Aperture atau sering disederhanakan menjadi bukaan, adalah banyaknya cahaya masuk yang bisa diterima sensor kamera. Aperture ini bekerja seperti pupil mata kita, saat kita melihat cahaya yang kuat di siang hari, maka pupil mata kita akan mengecil, sementara di malam hari pupil mata kita akan membesar agar cahaya bisa masuk lebih banyak ke retina dan kita bisa melihat lebih baik di area yang gelap. Semakin besar bukaan aperture, justru ditandai dengan angka yang makin kecil, misal f/1.5 aperturenya lebih besar dibanding f/2.4 , karena angka tersebut posisinya sebagai angka pembagi f/xx.

Modul Kamera Smartphone

Nah kamera smartphone ini ruangnya terbatas, aperture ini bergantung dengan ukuran lensa, sehingga aperturenya juga rata-rata fix, sampai Samsung mencoba terobosan baru ini.

Pada Galaxy S9 | S9+ lensa 12 MP utamanya memiliki variable aperture, bisa f/1.5 dan f/2.4. Aperture f/1.5 ini sekarang merupakan aperture terbesar di jajaran smartphone. Bagaimana Samsung bisa membuat lensa yang fix ini memiliki aperture yang bisa di ataur?

Variable Aperture Galaxy S9 | S9+

Ternyata kalau kita perhatikan dengan cermat lensa kamera Galaxy S9 | S9+ saat dipilih aperture, ada bagian yang bergerak, saat aperture f/1.5 lensa membesar, dan saat f/2.4 diameter lensa mengecil. Samsung ternyata membenamkan “aperture blade” seperti rana pada lensa DSLR untuk mengatur besar diameter lensa, sehingga bisa didapat variable aperture. Teknologi yang sangat menarik, tidak terpikirkan kalau lensa kamera yang sangat kecil bisa diatur diameternya dengan menambahkan aperture blade di bagian depan lensa.

Aperture in bekerja secara otomatis, saat cahaya cukup otomatis akan menggunakan f/2.4, sementara saat cahaya minim, seperti malam hari atau di dalam ruangan, akan menggunakan aperture f/1.5. Kita bisa secara manual memilih aperture ini pada mode pro kamera.

Apa bagusnya dual aperture? Mengapa kita tidak menggunakan aperture terbesar saja f/1.5? Jadi aperture ini selain berurusan dengan jumlah cahaya yang masuk, juga berurusan dengan fokus. Semakin besar aperture, semakin sempit fokusnya. Jadi aperture yang besar juga bagus untuk bokeh, atau blur di bagian belakang. Dengan sempitnya fokus, seringkali ada bagian-bagian dari foto yang lebih soft. Saat momen tertentu, misal kita foto beramai-ramai, kita ingin setiap orang terlihat jelas, maka kita menggunakan aperture f/2.4 .

Pada saat pencahayaan tertentu, aperture yang besar juga terkadang membuat bagian background foto yang penuh cahaya akan over exposure, jika penggunaan mode HDR masih tidak membantu, kita bisa beralih ke aperture yang lebih kecil.

  • Super Low Light

Kebanyakan smartphone masa kini sudah bisa menangkap hasil gambar yang baik di siang hari, atau ketika cahaya berlimpah. Ketika matahari terbenam, ini ujian sebenarnya dari kemampuan smartphone, dan sebagian besar kamera smartphone gagal dalam ujian saat cahaya kurang.

Beberapa tahun terakhir ini, kamera smartphone flagship Samsung sudah memiliki kemampuan yang mumpuni di kondisi lowlight. Setiap keluar flagship yang baru, kemampuan ini semakin baik.

Ada bagian penting dari foto lowlight yang harus diperhatikan. Banyak orang mengira foto lowlight sekedar terang saja. Hal yang penting, kamera selain bisa menangkap dengan jelas objek di kondisi lowlight, juga harus bisa menangkap ambient pencahayaan di sekitar objek tersebut. Misal kehangatan lampu kuning di jalan, temaram lampu kota di kejauhan, suasana cafe dan lain sebagainya, sehingga saat kita melihat foto tersebut kita bisa merasakan seperti apa rasanya ambient di sana.

Bagian lain yang penting dari foto lowlight adalah noise, semakin ISO besar digunakan, semakin terang gambar tetapi gambar akan banyak bintik atau noise sehingga terlihat kasar. Post processing foto lowlight juga jika berlebihan, gambar akan terlalu soft bahkan terlihat seperti cat air.

Dengan aperture f/1.5 Galaxy S9 | S9+ akan terbantu untuk menerima cahaya lebih banyak saat foto lowlight. Diperkirakan smartphone baru ini akan bisa menghasilkan 28% foto lowglight yang lebih terang dibanding pendahulunya. Secara kasat mata, hasil foto lowlight Galaxy S9 | S9+ seringkali lebih terang daripada mata kita memangdang scene yang sama.

Untuk mengatasi noise di foto lowlight, dalam satu kali jepret, sebenarnya Galaxy S9 | S9+ mengambil sekaligus beberapa gambar,  kemudian menyatukannya. Cara ini memungkinkan gambar menjadi lebih tajam, ISO yang digunakan bisa besar, tapi noise tetap terkendali. Cara ini bisa mengurangi noise hingga 30%.

Dalam satu take, beberapa foto diambil dan disatukan

Tidak ada proses yg terasa lambat saat jepretan ini mengambil beberapa gambar dan menggabungkannya, proses ini terasa seperti mengambil foto biasa, cepat, walaupun malam hari. Padahal di baliknya ada banyak proses yang rumit. Kebanyakan smartphone seringkali terlihat memiliki jeda waktu saat shutter ditekan sampai siap mengambil foto lagi pada kondisi lowlight.

Perbandingan Lowlight Galaxy S9 – hasil foto sudah terkompres

Selain untuk foto, aperture besar ini juga sangat baik untuk membuat konten video. Kita bisa memilih resolusi video dari 4K 60 fps yang tertinggi hingga HD 720 fps. Untuk menstabilkan guncangan kedua kamera baik depan dan belakang sudah dilengkapi VDIS (Video Digital Image Stabilizaion), sehingga walaupun kita merekam sambil berjalan, atau vlogging dengan kamera depan sambil bergerak, gambar yang dihasilkan tidak melompat-lompat dan terlihat stabil. Untuk auto focus pada video yang cepat berganti objek, keberadaan super speed dual pixel akan terasa membantu, karena kebanyakan kamera smartphone cukup lambat untuk berpindah fokus sehingga sering ada jeda gambar blur dahulu kemudian baru fokus.

  • Dual Main Camera Galaxy S9+

Khusus Galaxy S9+, kamera belakang dilengkapi lagi dengan tambahan sebuah lensa telephoto dengan zoom optical 2x. Keberadaan lensa telephoto ini utamanya untuk membuat foto dengan efek bokeh atau blur di bagian belakang. Dual camera ini sudah dimualai pada Samsung Galaxy Note8. Berbeda dengan iPhone X atau Google Pixel 2, tingkat bokeh atau blur di bagian background ini pada Galaxy S9+ bisa diatur levelnya, dari cukup blur hingga sangat blur. Lensa telephoto ini juga dilengkapi dengan OIS (Optical Image Stabilization), jadi dua lensa belakang Galaxy S9 | S9+ kedua-duanya dilengkapi OIS.

Fitur tambahan bokeh yang menarik di Galaxy S9+ yang belum dimiliki Note8 adalah kita bisa mengganti bentuk binar cahaya bokeh di background dengan berbagai bentuk dengan bokeh filter. Biasanya pada foto dengan background banyak lampu, saat blur lampu ini akan menjadi bulatan-bulatan cahaya yang dianggap menarik dalam bokeh. Beberapa asesoris kamera DSLR dibuat untuk bisa membuat bulatan-bulatan cahaya ini berganti bentuk menjadi bentuk hati, bintang, dan lain sebagainya. Pada Galaxy S9+ dengan bantuan bokeh  filter, bulatan-bulatan cahaya ini juga bisa diganti bentuk menjadi berbagai macam, dari hati, bintang, kupu-kupu, hingga pesawat terbang.

Setelah keberhasilan Google Pixel 2 dengan single camera tetapi bisa membuat efek bokeh yang bagus pada foto potrait dengan bantuan AI, banyak orang bertanya, apakah kamera kedua ini masih dibutuhkan. Perbedaan focal length antara 2 lensa kamera memberikan jarak yang lebih pasti mana objek di depan dan mana di belakang. Sementara penggunaan AI, belajar dari potongan tubuh manusia. Biasanya bokeh berdasarkan AI ini terkadang salah jika objek yang di foto bukan satu orang, tetapi misalnya orang sedang menggendong anak, atau foto wefie, beberapa orang sekaligus dengan jarak yang berbeda-beda. Blurnya sering salah tempat, termasuk blur pada objek. Komposisi seperti ini akan lebih baik dieksekusi oleh dual camera. Tetapi bisa saja nanti AI semakin lama semakin pintar dan juga bisa melakukannya dengan baik. Tetapi sementara ini, kehadiran dual camera banyak membantu untuk bokeh yang lebih tepat.

Kita juga memiliki opsi walaupun mengambil foto bokeh yang disebut Samsung sebagai live focus dengan otomatis pembesaran optik 2x, tetap bisa menyimpan juga gambar dari kamera utama yang lebih lebar dan lebih menangkap banyak objek, sehingga kita akan mendapatkan 2 komposisi gambar. Dibantu tingkat blur yang bisa diedit belakangan, membuat kita tidak banyak berpikir untuk menangkap momen, dan nantinya bisa meilih mana foto yang komposisinya terbaik.

Kamera kedua dengan dengan ukuran 12 MP dan f/2.4 ini juga bisa dioperasikan terpisah dan membantu untuk foto dari jarak yang lebih jauh, karena kita akan mendapat pembesaran yang lebih baik secara optik. Ini yang tidak dimiliki single camera. Uniknya pada cahaya yang cukup, hampir pasti ketika kita menekan pembesaran 2x, lensa telephoto ini yang bekerja, tetapi pada saat lowlight, smartphone akan mempertimbangkan apakah gambar 2x dari lensa f/2.4 telephoto ini bisa menghasilkan  foto yang lebih baik, atau kalah baik dengan pembesaran digital 2x dari lensa f/1.5 yang menangkap lebih banyak cahaya. Gambar terbaik yang akan digunakan.

DxOmark Mobile List

Selama artikel ini ditulis, ternyata DxOmark, situs yang banyak menjadi acuan untuk menilai kemampuan kamera, menobatkan smartphone Samsung Galaxy S9+ yang baru ini dengan skor total 99, yang berarti menempati tangga sebagai kamera smartphone terbaik saat ini.

  • Super Slo-Mo 960 fps

Pada kamera smartphone flagship, fitur slow motion sebenarnya diam-diam menjadi pertarungan, siapa yang bisa menyajikan slow motion lebih banyak frame dalam 1 detik dengan resolusi sebesar mungkin.

Samsung bukan yang pertama menyajikan fitur super slow-motion 960 fps, Sony sudah lebih dahulu. 960 gambar dalam satu detik tentu saja menjajikan gambar yang bergerak sangat lambat, karena video standar hanya membutuhkan 30 gambar per detik. Jadi dengan 960 gambar per detik atau fps (frame per second), video akan terlihat 32 kali lebih lambat.

Gerakan super slo-mo ini bagus untuk membuat konten video lebih dramatis, seperti air yan memercik, balon pecah, api yang berkobar, pasir yang berserakan, dan banyak lagi. Perekaman super lambat ini juga baik untuk kita belajar memperbaiki posisi saat olah raga, misal saat bermain tenis, golf, bela diri, dan lain sebagainya.

Mengapa setelah smartphone Sony memperkenalkan super slo-mo tidak banyak smartphone lain mengejar teknologi yang sama? Untuk bisa menghasilkan gambar super slo-mo ini dibutuhkan sensor kamera yang khusus. Diantara tumpukan sensor kamera ini diselipkan satu buah memory DRAM, untuk menjadi buffer menampung ratusan gambar, sebelum bisa di proses oleh ISP (Image Signal Processor) dari smartphone menjadi gambar yang bisa kita lihat.

DRAM stack diantara sensor kamera

Sebenarnya saat 960 frame gambar slo-mo diambil, ini hanya berlangsung 0.2 atau seperlima detik saja. Jadi prosesnya sangat cepat. Ketika hasil rekaman 0.2 detik ini diputar, akan menghasilkan video super slo-mo dengan durasi 6 detik. Ini adalah batasan merekam video super slo-mo.

Perekaman super slo-mo ini bisa dilakukan secara multi-take di Galaxy S9 | S9+, jadi selama video di rekam kita bisa menekan 20 kali tombol super slo-mo dan akan memiliki 20 bagian video dengan gerakan super lambat. Karena berlangsung dalam waktu yang singkat, Samsung memberikan menu Auto Motion Detection, berupa frame kotak pada jendela video yang akan otomatis mengenal gerakan yang melewati bagian frame ini dan merekamnya dalam super slo-mo.

Untuk lebih mendramatisir hasil perekaman super slo-mo, pada menu kamera hasilnya bisa langsung disertakan dengan banyak pilihan lagu pengiring sehingga bisa langsung dibagikan menjadi klip video. Yang menarik super slo-mo ini juga bisa bisa diubah menjadi gif dan di loop, di-reverse, atau swing, sehingga konten yang direkam menjadi lebih menarik.

Untuk menghasilkan gambar slo-mo yang baik, dibutuhkan pencahayaan yang cukup, kalau tidak hasil videonya akan mudah under exposure. Hasil perekaman terbaik adalah aktifitas di bawah sinar matahari.

Fitur super slo-mo yang membutuhkan sensor kamera khusus dengan DRAM, selain membuat komponen sensor kamera menjadi lebih mahal, memang saat ini sebagian besar smartphone kamera senantiasa menggunakan sensor kamera kalau tidak buatan Sony, juga buatan Samsung. Jadi kedua brand ini memiliki advantage untuk bisa membuat sensor kamera yang lebih khusus, sehingga saat ini belum banyak brand smartphone yang mengikutinya. Menariknya, untuk mereka yang rajin membuat konten, kamera profesional yang bisa menghasilkan rekaman super slo-mo sangat jarang, biasanya hanya kamera-kamera yang didesain untuk keperluan perekaman cinematic, dan harganya sangat mahal. Jadi fitur super slo-mo bisa dihadirkan pada kamera smartphone bisa menjadi pilihan alternatif untuk mereka pembuat konten.

  • AR emoji

Jika diperhatikan, Samsung senantiasa melakukan 2 hal pada smartphone flagshipnya, teknologi yang serius yang senantiasa dibarengi fitur yang fun. Kemungkinan ini berdasarkan survey internal mereka apa yang ingin bisa dilakukan konsumen dengan smartphonenya.

ARemoji menjadi fitur baru di Galaxy S9 | S9+, kamera depan atau belakang men-scan muka kita dan menjadikannya gambar kartun. Level gambar ini bisa dipilih, menjadi kartun 2 dimensi yang flat, atau 3 dimensi yang bisa di-adjust detailnya, bila kita adjust sampai detail, maka jerawat, tahi lalat bisa tetap terlihat, atau geser slider untuk muka kartun yang lebih mulus.

Setelah avatar kita jadi, kita masih bisa menyesuaikan lagi untuk lebih mirip, dari bentuk rambut, warna rambut, kacamata, pakaian, dan lain sebagainya. Tidak ada orang yang gemuk di ARemoji ini, semua menjadi langsing.

Warna kulit, bentuk mata, bibir, kumis dan janggut bisa terekam dalam karakter ARemoji ini. Saya mencoba menyatukan dengan gambar muka asli, ternyata kemiripan bentuknya sangat baik, hanya saja karena bentuk muka dibuat langsing, mungkin tidak semua avatar akan mudah dikenali, tetapi lamat-lamat akan terlihat kemiripannya.

Setelah avatar kita jadi, kita bisa merekam mimik dan gaya bicara kita untuk menjadi klip pendek dan dibagikan. Selain itu otomatis akan dibuatkan 18 gambar animasi gif sesuai karakter kita yang bisa digunakan untuk melengkapi emoji dengan muka kita sendiri di media sosial dan aplikasi chatting.

Your gif avatar

Selain muka kita, kita bisa menggunakan karakter lain, seperti gambar binatang, robot, atau topeng, dan karakter ini akan terus bertambah. Saat peluncuran Samsung menyatakan ada kerjasama dengan Disney untuk bisa menggukanan karakter ARemoji dengan tokoh-tokoh kartun Disney hingga The Incredibles.

Scanning dan pemetaan muka kita bisa juga memiliki fungsi lain, diantaranya untuk para wanita mencoba make-up secara AR (Augemented Reality). Samsung melakukan beberapa kerjasama dengan brand make-up, sehingga sebelum membelinya, para wanita (atau pria) , bisa mencoba menggunakan produk make-up ini, misalnya lipstick warna tertentu yang akan langsung di”tempel” dalam wajah kita dan mengikuti mimik kita, termasuk eye-shadow dan lain sebagainya. Hanya fitur ini sekarang baru berlaku untuk 4 negara, tetapi setidaknya kita melihat AR ini bisa menjadi fitur yang menarik.

Mencoba Make-up secara Augmented Reality

Karena Apple pada iPhoneX melakukan hal yang sama dengan animoji, banyak yang mengira Samsung dengan ARemoji mengekor Apple. Dalam sesi pertanyaan dengan CEO Samsung DJ Koh, Ia mengatakan kalau Samsung sudah sangat lama mengembangkan fitur ini, dan secara pendekatan teknologi dan arah berkembangnya juga berbeda dengan Apple. Jika melihat time frame, seperti Apple memperkenalkan animoji November 2017 saat iPhone X diluncurkan, dan Samsung Galaxy S9 | S9+ sudah selesai sertifikasi postel bulan Januari 2018, bisa dikatakan pernyataan dari DJ Koh ini benar, karena dalam waktu yang singkat tidak cukup waktu untuk mengembangkan atau rip-off teknologi yang mirip untuk menjadi full code seperti yang dimiliki ARemoji.

  • Selfie

Kemampuan kamera depan Galaxy S9 | S9+ sangat baik untuk selfie, bahkan dengan single camera 8MP f/1.7 tetap bisa dibuat foto potrait dengan background blur di belakang yang dinamai selfie focus. Tetapi Samsung tidak banyak bercerita tentang hal ini.

Biasanya smartphone vendor hanya berkonsentrasi pada satu sisi kamera, kamera belakang atau selfie, tetapi Galaxy S9 | S9+ bisa dikatakan baik untuk keduanya. Hal ini tidak lepas dari jajaran sensor kamera baru buatan Samsung yang sekarang cukup banyak tipe sesuai kebutuhan dengan brand ISOCELL dalam 3 kategori slim, fast, bright.

Kamera depan ini menggunkan sensor ISOCELL S5K3H1, bagian dari ISOCELL bright.

  • Intelligent Scan

Sebenarnya pada bagian depan Galaxy S9 | S9+ memiliki 2 kamera, satu kamera selfie dan satu kamera iris scanner yang dilengkapi infra red.

Sekarang ini bisa dikatakan, Galaxy S9 | S9+ adalah smartphone yang paling lengkap biometrik security-nya, dari fingeprint scanner, face recognition, dan iris scanner.

Kemampuan kamera iris scanner ini semakin diperbaiki di Galaxy S9 | S9+, juga kamera depan. Proses unlock dengan face unlock hampir tidak membutuhkan waktu, dibawah 1 detik, layar menyala langsung unlock. Tetapi bagaimanapun face unlock ini bukan cara biometrik paling aman. Masih ada kemungkinan diakali dengan gambar atau foto dari si pemilik wajah. Ada 2 mode untuk face unlock ini, cara cepat dan cara yang lebih secure. Cara yang lebih secure lebih sulit diakali, tetapi lebih lama dalam pengenalan wajah, tidak instant unlock seperti cara pertama.

Saya mencoba mengakali face unlock fast dengan gambar selfie dari smartphone lain. Sudah mencoba maju mundur, besar kecilkan gambar, tetapi Galaxy S9 | S9+ tetap tidak mau membuka.

Iris scanner biometrik yang dianggap lebih aman dan advance, sehingga selain untuk unlock bisa digunakan untuk pengesahan transaksi digital, seperti membuka web perbankan, bahkan kalau segera jalan di negara kita, Samsung pay, pembayaran menggantikan kartu kredit / debit.

Masing-masing kedua cara unlock baik dengan face recognition dan iris scanner memiliki kelemahan. Iris scanner sulit dilakukan di bawah cahaya sinar sangat terang, seperti di bawah sinar matahari, karena selain pantulan, sinar terang ini menghalangi scanning infra red. Face unlock memiliki kelemahan di tempat yang gelap, karena menggunakan kamera depan sebagai pembacanya.

Intelligent Scan, gabungan iris scanner dan face recognition

Dulu baik di Galaxy Note 8 atau Galaxy S8, kita harus memilih, antara face unlock atau iris scanner, sekarang di Galaxy S9 | S9+ kita bisa menggunakan keduanya dalam satu kesatuan cara unlock yang disebut intelligent scan. Apa yang dilihat smartphone pertama itu yang dijalankan, jika wajah kita dikenali maka face unlock membuka kunci, jika mata kita bisa di scan, maka iris scanner bekerja. Cara ini benar-benar memudahkan, disegala situasi kondisi cahaya kita tetap dapat membuka kunci layar dengan aman.

  • Bixby Vision

Selain untuk foto dan video, kamera pada Galaxy S9 | S9+ bisa menjadi mata untuk AI (Artificial Intelligence). Samsung memiliki asisten pintar yang dinamai Bixby, sampai saat ini walau belum sepopuler google dan Siri, tetapi kemampuannya semakin baik.

Salah satu bagiannya disebut Bixby Vision, melihat dengan kamera dan menterjemahkan apa yang dilihatnya. Dengan mengarahkan kamera ke tulisan dalam bahasa asing, Bixby bisa menterjemahkan langsung ke bahasa yang kita kenal, jadi misal tulisan Korea ke Indonesia, Thailand ke Inggris, dan lain sebagainya. Bekerjasama dengan Google translate, terjemahan ini mendukung ratusan bahasa.

Bixby Vision, Visual Translate

Banyak yang bisa dikerjakan Bixby vision, misalnya membaca kartu nama dan langsung menyimpannya pada bagian yang tepat menjadi kontak di smartphone kita, membaca tulisan dalam buku, nota, catatan, dan menjadikannya data digital yang bisa di edit seperti words dan bisa diterjemahkan, mengetahui objek arsitektur penting yang banyak dikenal dan memberikan informasi lebih, sampai mengenali barcode atau QRcode bahkan botol Anggur atau wine.

Mengetahui Kalori dari Kamera ke Makanan

Yang terbaru dari kemampuan Bixby vision adalah mengenali makanan dan jumlah kalorinya dengan bantuan AI. Fitur ini banyak ditunggu mereka yang sedang menjalankan diet atau pola hidup sehat, dan menggabungkannya dalam data kalori intake. Cukup mengarahkan kamera ke makanan, Bixby akan mencoba mengenali tipe makanan tersebut dan memberitahukan besaran kalorinya. Belum semua makanan bisa dikenali dengan baik, tetapi karena Bixby dibuat berdasarkan machine learning, kemampuannya akan semakin baik seiring waktu.

Layar Terbaik

Galaxy S9 | S9+ meneruskan rasio layar baru yang memanjang, dengan rasio 18.5 : 9, resolusi QuadHD+ 2960 x 1440. Dengan resolusi ini layar 5.8 inci Galaxy S9 akan memiliki kerapatan pixel 570 ppi dan Galaxy S9+ dengan layar lebih besar 6.2 inci memiliki kerapatan 529 ppi.

Setiap kali flagship Samsung muncul baik seri S maupun seri Note, layar Super AMOLED nya senantiasa mendapat upgrade, dan ketika di test di lab layar khusus displaymate, senantiasa ditemukan upgrade yang berarti dan diberi nilai sebagai layar terbaik. Demikian juga dengan Galaxy S9 | S9+ ini, baru saja diberi penghargaan sebagai smartphone dengan layar terbaik dengan peringkat grade A+. Sebelumnya grade ini dipegang Galaxy S8, kemudian digantikan Note8, kemudian sempat diberikan juga kepada iPhone X (yang layar AMOLED nya dibuatkan Samsung), dan sekarang diambil alih lagi oleh Galaxy S9 | S9+.

Layar terbaik ini banyak sekali parameternya, parameter utama salah satunya adalah ketepatan menampilkan warna. Misalnya warna bunga merah, akan banyak sekali gradien warna bunga merah, dari merah muda, merah, maroon, dan lain sebagainya. Layar yang baik harus bisa menampilkan warna yang sesuai dengan warna aslinya.

Untuk bisa menampilkan warna yang sesuai, harus ada patokan standar warna yang diikuti, seperti sRGB, Rec.2020, DCI-P3, dan lain sebagainya, dan kalibrasinya harus setepat mungkin dengan standar. Dengan standar ini, misalnya kita memutar film, warna yang ditampilkan akan sama dengan yang ingin ditampilkan pembuat film. Kalau kita melihat warna baju di online store, harusnya warnanya akan sama dengan warna baju aslinya.

Kalibrasi warna ini tidak mudah, dan banyak smartphone hi-end hanya menampilkan warna sekedar pop-up, tidak peduli dengan kalibrasi dan standar yang umum digunakan. Device yang tidak terkalibrasi, akan sulit untuk digunakan para profesional untuk menampilkan karyanya, misalnya untuk fotografer menampilkan hasil karya mereka.

Seperti sudah dimulai saat era Galaxy Note7, layar Galaxy S9 | S9+ juga sudah mendukung HDR premium, sehingga bisa menampilkan film-film HDR dengan warna yang lebih bagus daripada standar film biasa, yang sekarang mulai marak terdapat dibanyak layanan seperti Youtube, Netflix, Amazon, dan banyak lagi.

Mengingat kemampuan GPU SoC atau prosesor sekarang yang semakin baik, sanggup menampilkan color gamut yang lebih luas, support HDR, rendering yang semakin cepat, cukup disayangkan tidak semua device hi-end mendukungnya dengan layar yang baik, layar dengan kemampuan sesuai kemampuan SoC menghadirkan visualisasi terbaik. Kebanyakan hanya hi-end dari brand global yang mendukung smartphone dengan layar yang support teknologi ini, dan Samsung termasuk gelombang dari awal yang sudah peduli akan hal ini.

Salah satu kelebihan layar Super AMOLED bukan hanya di dalam area gelap, dimana setiap pixel bisa berpendar sendiri dan mencapai kecerahan yang sangat rendah agar mata tidak silau, tetapi layar ini dengan nits atau kecerahan yang tinggi, tampil sangat baik di bawah cahaya sangat terang, seperti di bawah matahari. Menurut ukuran displaymate, kecerahan otomatis Galaxy S9 | S9+ bisa mencapai angka 1130 nits, atau kira-kira setara dengan nyala 1130 lilin yang disusun dalam luas 1 m2.

Always On Display

Dengan setiap pixel layar yang bisa berpendar sendiri dan hemat baterai, tradisi AOD atau alwasy on display masih diteruskan di Galaxy S9 | S9+, dalam kondisi standby, di layar kita ditampilkan jam, tanggal, notifikasi, dan lain sebagainya. Fitur yang baru kita bisa meletakkan gambar gif atau animasi di layar tersebut.

DeX, Desktop Experience

Saat Galaxy S8 diperkenalkan, Samsung juga memperkenalkan asesoris tambahan yang disebut DeX, fungsinya menjadikan smartphone Galaxy menjadi seperti PC untuk layar lebih besar, bukan sekedar mirroring. Tampilan smartphone berubah menjadi seperti PC, baik untuk bekerja, entertainment seperti menonton film pada layar besar, hingga bermain game pada layar besar. Samsung bekerjasama secara khusus dengan Microsoft untuk menghadirkan office yang lebih lengkap pada DeX ini.

Bersamaan dengan Galaxy S9 | S9+ DeX pun berganti model ke versi berikutnya. Kali ini penempatannya horisontal, dan layar dari Galaxy S9 | S9+ bisa menjadi trackpad mouse sekaligus keyboard. Ini memudahkan untuk mereka yang sering presentasi atau traveling tanpa membawa laptop dan menggunakan monitor atau layar televisi di hotel.

Samsung DeX versi 2

DeX yang baru ini juga mendukung resolusi layar hingga 2K (DeX sebelumnya full HD), dan mendukung format rasio layar yang lebih luas.

Untuk Indonesia sendiri kabarnya DeX versi baru ini akan tersedia bulan April 2018.

Kelengkapan fitur lain.

Sepertinya secara fitur baik hardware maupun software pendukung, bisa dikatakan seri Galaxy flagship  paling lengkap. Tidak semua smartphone flagship walaupun sama prosesor dan spesifikasi dalamnya memiliki kelengkapan seperti yang disediakan Galaxy flagship. Hal ini juga masih diteruskan oleh Galaxy S9 | S9+.

Water and Dust Resistant, IP68

Fitur seperti tahan air dan debu IP68, wireless fast charging, fast charging, USB type C yang terbuka untuk USB OTG dan bisa terhubung dengan portable hard disk, earphone jack sekaligus dilengkapi earphone AKG yang berkualitas baik, dan layar dengan laminasi Gorilla Glass. Selain internal storage 64GB, untuk Galaxy S9+ kali ini disediakan juga versi 256 GB untuk pasar Indonesia. Jika dirasa masih kurang slot hybrid dual SIM nya bisa digunakan untuk memoy card hingga 400 GB.

Untuk modem Galaxy S9 | S9+ sudah dilengkapi modem tercepat yang support download hingga 1.2 Gbps, sayangnya jaringan di Indonesia belum mendukung kecepatan ini. NFC untuk digital payment dan bluetooth 5 yang bisa memancarkan secara bersamaan langsung ke 2 perangkat bluetooth juga tersedia di perangkat baru ini, termasuk AOP mic (Accoustic Overload Point) yang bisa merekam suara atau musik (misal saat konser atau live performance) dengan minim distorsi.

Penutup

Walau masih dalam body dengan desain yang mirip dengan pendahulunya, sebenarnya banyak teknologi baru yang menarik yang ditawarkan Galaxy S9 | S9+. Biasanya secara gradual teknologi dan fitur-fitur ini baru terasa kelebihannya saat sudah digunakan beberapa waktu

Pemaparan di atas masih terbatas karena masih berdasarkan hands-on device demo yang dicoba tidak terlalu lama, dalam kurun waktu sekitar 1 jam saja.

Teknologi baru ini akan kita test dalam review lebih mendalam berikutnya. Ditunggu!

 

Leave a Reply