Site icon Lucky Sebastian

LG G2 Review

LG G2

LG G2

0031

Review ini (edited version) juga sudah dimuat dan bisa dibaca di  yangcanggih.com  http://goo.gl/V3HDjb

Tahun 2013 sepertinya menjadi tahun kesepakatan, untuk brand-brand papan atas, mencoba menghadirkan kembali smartphone android dengan teknologi yang baru dan khusus, untuk bisa merebut supremasi sebagai device android terbaik.

Demikian pula yang dilakukan oleh brand LG. LG memang membutuhkan device baru, yang bisa me re-branding lagi nama mereka supaya masuk pertarungan device android papan atas.

Sebagai pembuat smartphone android, LG sudah cukup berpengalaman malang-melintang bertahun-tahun di kancah ini. Tetapi sayangnya, device-device mereka yang terakhir kurang mendapat tempat sebagai pilihan utama penggemar android papan atas, sampai mereka mengeluarkan devicenya yang terbaru, LG G2.

Bisa jadi, LG G2 ini akan menjadi kebangkitan LG untuk merangsek lagi ke persaingan smartphone papan atasnya.

Desain

LG mengawali desainnya dengan basis Learn From You.

Dasar keinginan pemakai smartphone sekarang berbeda dengan waktu awal handphone keluar. Kalau dulu handphone keluar dengan ukuran sangat besar, kemudian orang ingin semakin kecil, supaya muat dan mudah disakukan. Sekarang kebanyakan orang ingin layar smartphone yang semakin besar, karena kebutuhan akan multimedia, web browsing, chatting, membaca email, berita dll, ..sedangkan ukuran tangan manusia sebenarnya tidak berubah. Adalah tantangan membuat 2 keinginan ini bisa terpenuhi.

Kalau mengacu device phablet 5” yang banyak keluar di awal-awal tahun dan menjadi trend, kita akan terpana betapa sebenarnya ukuran LG G2 ini lebih kecil dan kompak dari phablet-phablet tersebut, tetapi dengan ukuran layar yang sebenarnya malah lebih besar.

Layar 5,2 inci LG ini secara keseluruhan hanya menghasilkan device dengan ukuran 13.8cm x 7.1 cm dan bisa dibilang tipis karena tebalnya hanya 8.9mm.

Sedangkan kebanyakan phablet 5 inci, memiliki ukuran 14,5 cm x 7.5cm dan tebal diatas 1cm.

Jadi sebenarnya, membesarkan ukuran layar adalah perkara “mudah”, tetapi membuatnya tetap kompak, apalagi tetap ringan, memang sekarang ini hanya bisa dilakukan oleh brand-brand papan atas. LG G2 ini beratnya hanya 143gram, sedangkan kebanyaka phablet 5 inci 30-70 gram diatasnya.

Keberhasilan LG di G2 yang menonjol adalah kemampuannya membuat layar edge to edge display dengan frame layar bisa sangat tipis. Ini dimungkinkan dengan teknologi yang dinamakan dual routing.

Biasanya dibutuhkan tempat cukup besar untuk berjejernya “kabel” konektor di tepian layar yang menyambungkan beberapa segmen LCD dan dikumpulkan dibawah. Dengan dual routing, kumpulan konektor ini dibagi ke atas dan ke bawah, sehingga frame layar bisa menjadi lebih tipis. Saat ini sepertinya LG G2 yang memiliki frame layar paling tipis.

Kebanyakan orang akan cukup surprise ketika memegang unit ini, ukurannya nyaman di genggam, ditambah bentuk belakangnya yang melengkung dan sudut-sudutnya yang membulat membuatnya semakin pas dengan bentuk genggaman tangan.

Satu yang unik dan membuat kebanyakan orang pertama kali memegang harus memutar-mutar unitnya adalah untuk mencari dimana tombol power dan tombol-tombol lainnya berada. Berbeda dengan kebanyakan device yang tombol power nya ada di bagian atas atau di samping body, LG G2 memilikinya di belakang unit.

Dasar desainnya menarik, ketika orang menggenggam smartphone, jari telunjuk akan digunakan untuk menahan device. Daripada jari telunjuk ini menganggur di belakang, sebaiknya dibuatkan sesuatu, dan LG G2 menempatkan tombol power plus tombol volume +- di belakang, tepat dibawah kamera, yang mudah diakses oleh jari telunjuk ini. Sangat menarik dan berbeda.

Pertama dalam prakteknya, memang harus ada kebiasaan yang berubah, dan kita harus beradaptasi. Ternyata menekan tombol power di belakang bukan perkara nyaman dan mudah untuk pertama kali, dan bisa jadi membutuhkan cukup waktu untuk terbiasa. Tanpa melihat posisi tombol, kita mengharapkan jari kita mempir pada sebuah tonjolan tombol power dan menekannya.

Bebarapa orang pada awalnya berpikir kalau tombol power diletakkan dibelakang, saat device diletakkan di atas meja, apakah tombol power akan mudah tertekan? Ternyata tidak, karena disisi kiri-kanan tombol power kalau diperhatikan ada tonjolan casing yg menahan supaya tombol power tidak tertekan tanpa sengaja.

Bagaimanapun juga butuh waktu lama untuk membiasakan diri menekan tombol power di belakang, dan mungkin para pemilik G2 bisa jadi tidak menyadari kalau tombol powernya ditekan, akan ada lingkaran cahaya menyala disekeliling tombolnya, yang memberikan efek futuristik.

Dari kerepotan harus beradaptasi dengan posisi tombol power, bagusnya LG menyiapkan jalan pintas lain yang lebih menarik, Knock On. Cukup mengetuk/men-tap layar dua kali, maka layar akan menyala. Tap 2 kali lagi di halaman homescreen yg kosong, layar akan mati.

Cara ini sebenarnya sangat memudahkan untuk para pemakai phablet, dimana biasanya satu tangan saja agak sulit menekan tombol power, atau setidaknya dibutuhkan merubah posisi tangan untuk mencapai tombol power, kemudian kembali ke posisi yang dianggap nyaman untuk menggenggam device. Tetapi memang terkadang tidak semua tap 2x akan berhasil. Terkadang juga layar tidak bereaksi menyala. Tapi persentasi gagalnya cukup kecil, jadi bisa kita anggap tap 2x dilayar ini sangat membantu.

Ide menyalakan layar bukan melalui tombol power, sebenarnya juga sudah ada dibeberapa perangkat lain, salah satunya seperti di Blackberry 10, cukup dengan menswipe dari dasar layar ke atas, maka device akan menyala. Tetapi bagaimanapun juga, knock on, seperti layaknya kita mengetuk pintu untuk dibukakan, memiliki nilai tambah yang besar untuk LG G2 ini.

Tidak adanya tombol volume, power, di semua sisi body menjadikan device ini enak dikantungi, Ketika kita mengeluarkan dari saku, atau ketika telepon berbunyi dalam saku, ketika dikeluarkan, tangan kita tidak menyentuh salah satu tombol tersebut.

Pada bagian atas unit terdapat port infrared kecil yang bisa menjadikan LG G2 ini perangkat pengganti remote untuk TV segala merk, set-top-box, perangkat audio, DVD, Projector bahkan sampai AC.

Disebelahnya ada lubang kecil berupa secondary mic, yang biasanya digunakan untuk mendengarkan dan mengeliminasi suara dari lingkungan sekitar, ketika kita sedang bertelepon.

 

Pada bagian bawah unit, tedapat sepasang lubang speaker mengapit lubang koneksi micro SD. Posisinya lubang speakernya seperti pada iPhone. Suara yang dikeluarkan cukup lantang, tetapi penempatan speaker seperti ini bukan tidak beresiko, apalagi untuk sebuah device yang cukup besar.

Ketika tangan kita menggenggam device yang cukup besar, biasanya kita menyelipkan sebuah jari sebagai penahan dari melorotnya device dari genggaman. Biasanya jari kelingking digunakan sebagai penahan, dan ini memungkinkan salah satu buah speaker tertutup jari.

Disebelah speaker kiri, terdapat lubang jack 3.5” untuk audio.

Tergantung bagaimana cara kita memegang device, dengan tangan kiri atau tangan kanan, dan posisi ditengah atau agak kebawah, (dimana bantalan tangan kita membantu menahan unit untuk tidak jatuh), penempatan lubang dengan posisi ini, ketika dipasangkan jack earphone akan cukup mengganggu pegangan jika kita menggenggam menggunakan tangan kiri.

Dan berdasarkan posisi jari telunjuk yang akan menempel di tombol volume, posisi menggenggam unit ini dipastikan bukan ditengah tetapi agak kebawah.

Ditambah lagi kecenderungan orang yang kebanyakan right handed, memegang device selayaknya selalu tangan kiri, karena jari  telunjuk tangan kanan akan digunakan untuk digerakkan diatas layar.

Bahan yang digunakan LG G2 sebagai flagship papan atasnya adalah plastik. Walau sebenarnya terkesan bagi banyak orang kalau plastik adalah bahan yang murah, ini tergantung juga bagaimana manufaktur mengolah desain dan finishingnya. LG G2 dibuat cukup baik, tidak tampil plastiknya terlihat murah, unit body nya kokoh, solid,  tidak ada deformasi bentuk atau bunyi ketika device digenggam keras. Hanya saja plastik yang mengkilap bagaimanapun juga menjadi fingerprint magnet. Tidak berapa lama dipakai, maka body akan dipenuhi tapak tangan.

Selain tempat SIM card berukuran micro sim pada sisi kiri atas yang harus dibuka dengan cara ditusuk pada bagian lubang sim, tidak ada bagian lain pada body LG G2 yang bisa dibuka. Tutup baterai, fix menutup baterai 3000 mAh yang tertanam di dalam, bersama memory internal 32giga tanpa ada tambahan slot memory external.

Performa.

Secara spesifikasi , LG G2 hadir dengan spesifikasi hi-end konfigurasi terbaru. Prosesor Qualcomm Snapdragon 800 berkecepatan 2.26 GHz Krait 400 quadcore menjadi otak utamanya. Qualcomm S800, sementara ini menjadi prosesor buatan Qualcomm yang paling tinggi dan cepat spesifikasinya.

Ke-empat inti prosesornya dengan pintar bisa bekerja sendiri-sendiri, tergantung load dari kebutuhan komputasi yang sedang dikerjakan. Hanya sekedar membaca email, atau mendengarkan lagu, dari 4 inti prosesornya, hanya 1 yang bekerja, sementara 3 lainnya “tidur”, untuk menghemat daya. Setiap ada beban komputasi tambahan, prosesor ke-2 baru jalan. Ketika dirasakan kurang prosesor ke-3 akan ikut jalan dan seterusnya sampai prosesor ke-4.

Qualcomm prosesor S800 ini sudah dilengkapi graphic processor yang sangat mumpuni, Adreno 330.

Selama dipakai LG G2 ini tidak pernah kekurangan tenaga atau lag untuk melakukan banyak multitasking, selain karena prosesornya yang kencang juga karena memory RAM yang disediakan sudah besar , 2 GB.

Walaupun benchmark sebenarnya bukan harga mutlak, dan sebenarnya tidak bisa menggantikan user experience, tapi setidaknya bisa menjadi acuan dasar bagi orang untuk melihat seberapa cepat unit tersebut sanggup bekerja.

 

Percobaan menggunakan benchmark Quadrant dan Antutu, hasil yang di dapat memang angkanya menunjukkan kinerja yang sangat baik. Bahkan beberapa review lain memperlihatkan hasil dengan score beberapa ribu lebih tinggi.

Kemungkinan karena unit yang dicoba ini memang dipakai sebagai unit yang dicoba keseluruhan user experience nya, dengan banyaknya aplikasi dan data yang terinstall, bisa saja mempengaruhi hasilnya. Tapi overall, angka yang diperoleh termasuk sangat tinggi.

Dalam uji coba selama kurang lebih 1 minggu dipakai betul-betul untuk bekerja, entertainment, memindahkan data, dll, LG G2 berjalan tanpa kendala berarti. Memang sempat mengalami 2 kali hang, tapi diperkirakan ini sebenarnya masalah OS atau bisa  juga dikarenakan aplikasi yang tidak cocok.

Layar.

Dengan resolusi 1080p, (1920Ă—1080), pada ukuran 5.2 inci, menjadikan layar LG G2 memiliki kerapatan pixel 423ppi. Kerapatan ini sudah lebih tinggi daripada retina display yang dimiliki iPhone.

LCD yang digunakan di G2 ini sepertinya mirip dengan yang dipakai di HTC One, Super LCD3, atau setidaknya memiliki karakter yang mirip.

Pengecekan denga CPU-Z memperlihatkan display dengan kode JDQ39B, sementara di HTC One versi JDQ39. Kemungkinannya ini product LCD display yang lebih advance.

Hasil warnanya sangat akurat, nyaman di mata, crisp, dengan viewing angle yang sangat baik. Orang bisa betah berlama-lama browsing, membaca email, menonton film, dll, di unit ini. Bisa dikatakan layar yang dibenamkan dalam LG G2 ini adalah salah satu layar yang terbaik.

Selain pengaturan koneksi layar dengan Dual Routing yang sudah kita bahas diatas, layar LG G2 ini dilengkapi teknologi G-RAM, atauh Graphic-RAM.

Seperti kita ketahui, display, apalagi dengan ukuran besar dan resolusi tinggi, menghabiskan banyak daya baterai. Dengan teknologi G-RAM ini, pemakaian daya akan irit sampai 26%. Dengan kebutuhan daya untuk layar yang lebih irit ini, berarti bisa menghemat daya device sampai 10% secara keseluruhan.

Kekurangannya display di LG G2 ini  hanya pada auto brightness saja. Entah mengapa auto brightness di LG tidak berjalan dengan baik. Harus benar-benar extreme ambience nya baru bisa bekerja, misal dibawah sinar matahari. Yap layarnya bisa dibaca dengan baik dibawah sinar matahari.

Atau, dalam kondisi gelap, baru autobrightness ini bekerja dengan cukup baik. Tetapi di ambience yang cukup cahaya, atau kurang cahaya sedikit, kita harus benar-benar mengandalkan penyetelan manual yang sesuai. Entahlah apakah hal ini memang disadari pabrikan atau hanya butuh adjustment di update software berikutnya. Lagipula mengatur secara manual kecerahan layar ini sangat mudah di menu dropdown, sepertinya memang sudah disediakan menunya secara khusus.

Pengaturan auto-brightness yang tepat memang sepertinya tidak mudah. Samsung mengalaminya juga dibeberapa produk terdahulu. Sony bahkan tidak punya menu ini sebelum produk 2013 nya. Semoga LG segera bisa mengatasinya pada update berikutnya.

Kamera

Bicara device android papan atas, sekarang ini tidak bisa lepas dari membicarakan kemampuan kameranya juga. Kamera menjadi salah satu pertimbangan penting untuk konsumen dalam membeli smartphone. Apalagi dengan tersedianya beragam aplikasi sosial media yang mendukung untuk berbagi hasil foto, plus aplikasi-aplikasi pengeditan foto yang semakin baik. Ini semua memicu penggunaan kamera pada smartphone dianggap menjadi cukup krusial.

Kalau mengacu kepada kamera di device LG sebelumnya, yaitu Google Nexus 4, teknologi kamera LG sepertinya tertinggal cukup jauh dengan brand lain. Tetapi di LG G2, sepertinya ingin diperlihatkan kalau LG juga sanggup membuat teknologi kamera yang bagus.

Kamera belakang LG berkekuatan 13 MP, dengan teknologi BSI (Back-illuminated Sensor) dan kamera depan 2.1 MP.

Teknologi penting kamera yang sekarang harusnya ada di device papan atas adalah OIS, Optical Image Stabilization, dimana teknologi ini memungkinkan lensa kamera bergerak sampai sudut tertentu untuk mengkompensasi gerakan tangan ketika sedang membidik. Pada G2, LG sudah membenamkan teknologi OIS ini. Sementara ini device smartphone lain yang sudah memiliki teknologi OIS ini adalah Nokia dan HTC.

Teknologi OIS ini terasa gunanya ketika pencahayaan kurang, sedikit saja tangan bergerak, maka foto akan blur. Dengan OIS kemungkinan ini diperkecil. Juga teknologi OIS ini sangat terasa pada perekaman video, apalagi ketika kita bergerak. Tapa OIS biasanya penonton akan pusing karena gambar bergerak naik turun atau mengoleng. Dengan OIS hal ini bisa diredam.

Format asli foto yang dibenamkan LG berukuran 4:3. Jika kita ingin membuatnya menjadi 16:9 sesuai ukuran layar, maka ukuran foto berkurang ke 10 MP, karena cropping. Untuk kebutuhan Video G2 sudah berkemampuan membuat full HD 1080p video.

Keseriusan LG di G2 untuk kameranya terasa dipilihan bahan penutup lensanya, yaitu Shappire Crystal.

Ingat posisi power, dan tombel volume di body bagian belakang dan berada tepat dibawah kamera? Posisi ini akan membuat pemakai dipastikan sering salah sentuh dengan menyentuh lensa kamera.

Kamera yang sering tersentuh tangan meninggalkan noda, biasanya akan membuat gambar menjadi menjadi sedikit buram. Belum lagi posisi kamera di belakang akan memungkinkan lensa banyak bergesakan dengan benda lain, misal diletakkan di meja, ketika dikeluarkan dari kantung, tas dll,  yang memungkinkan lensa penutup menjadi tergores. Dengan sapphire crystal ini, lensa kamera menjadi tahan gores dan tidak membekas jika tersentuh tangan. Setiap kali dibutuhkan, kita tinggal mengambil gambar foto tanpa harus memusingkan membersihkan dulu lensa kamera.

Kali ini jauh dari perkiraan, kamera LG G2 boleh dibilang sangat bagus, berbeda dengan versi kamera di Nexus 4 nya yang hanya sekedar cukup. Akurasi warna foto yang dihasilkan sangat baik, termasuk suasana ambience bisa dirasakan mirip dengan kondisi asli.

Beberapa contoh foto seperti di bawah ini.

 

Dalam mode fotonya, LG G2 menyertakan 12 mode foto, seperti Normal, Burst shot, panorama, night mode dll. Bahkan termasuk mode dual camera seperti di Samsung, dimana kamera depan dan belakang jalan berbarengan. Sebagian orang menilai mode tersebut gimmick saja, tetapi banyak anak muda dan ibu2 menyukainya.

Jika kita melakukan pemotretan di objek wisata yang banyak orang, mode shot and clear, bisa menghapus orang di belakang yang lewat.

Ada beberapa mode yang menurut saya menarik yang bisa membuat hasil foto lebih maksimal.

Dynamic tone, misalnya. Ini sebenarnya istilah dari HDR, High Dynamic Range, dimana saat foto diambil, sebenarnya kamera menangkap 2 atau lebih foto dengan fokus yang berbeda ke bagian yang lebih terang dan lebih gelap kemudian di blend. Sangat berguna diantaranya semisal kita mengambil foto di dalam ruangan dengan latar belakang pemandangan yang terang, yang biasanya membuat object menjadi siluet. Dengan HDR, object dan latar belakang bisa sama-sama terlihat lebih jelas.

Ini contoh foto dari G2 dengan dan tanpa HDR.

Mode berikutnya yang menarik adalah Night Mode. Kamera smartphone terkini sekarang mencari prestisius dengan kemampuan foto saat suasana kekurangan cahaya, atau lowlight. Kebanyakan smarphone biasa fail di suasana ini. Padahal bisa jadi sebagian foto yang kita ambil, sebagian besar termasuk di dalam ruangan yang kekurangan cahaya. Berbeda saat foto diluar ruangan yang penuh cahaya matahari, dimana kebanyakan kamera bisa menghasilkan foto yang bagus, banyak kamera ponsel akan kedodoran di dalam ruangan yang kekurangan cahaya, bahkan temaram.

LG G2 memiliki kemampuan yang baik untuk menangkap ambience foto dalam kondisi malam hari atau lowlight. Memang terkadang dalam suasana yang terkadang cukup ekstrim kekurangan cahayanya, butuh waktu lebih lama untuk kamera bisa melock target. Terlihat di night mode ini sebenarnya LG G2 memberikan algoritma tambahan pos processing, dimana hasil foto yang disajikan sebenarnya sudah diproses lebih lanjut dibelakang layar untuk menghasilkan foto lowlight yang lebih terang dan bisa menangkap ambience, plus menghilangkan/ memperkecil noise.

Terkadang hasil pos processing ini sering berlebihan di area yang benar lowlight, dan menghasilkan foto seperti cat air. Tetapi sebagian besar foto lowlightnya menarik dan cukup low noise. Bisa dikatakan hasil foto lowlight LG boleh bersanding dengan jagoan lowlight seperti HTC One atau Nokia 920. Bahkan pada saturasi warnanya bisa dikatakan lebih seperti aslinya.

Mode kamera yang dirasakan baik lagi adalah Intelegent Auto. Sebenarnya mode ini adalah mode otomatis yang bisa memperkirakan kita sedang mengambil gambar dalam suasana apa. Algoritma dan setelan kamera disesuaikan sesuai ambience suasana sekitar, jika sedang lowlight sebenarnya intelegent auto mengambil gambar dengan setelan night mode, jika objek bergerak akan menggunakan mode sport dll. Jika kita tidak yakin akan mode kamera apa yang harus dipilih, mode intelegent auto ini bisa membantu.

Kemungkinan juga para wanita akan suka dengan mode kamera Beauty Shot. Dengan mode ini, foto wajah akan diproses menjadi lebih halus, kulit lebih terang, jerawat dan noda di wajah hilang, plus mata lebih bersinar secara instan.

Untuk membantu settingan manual, seperti besaran ISO, white balance, dll semua bisa diatur dari bagian setting. Bahkan untuk mengambil foto dengan filter hitam putih, sepia, foto makro, semuanya terletak di setting.

 

Ada tambahan setting yang menarik juga, dimana jika kita berkumpul bersama untuk mengambil foto, kamera bisa bereaksi bukan hanya dengan sentuhan shutter atau timer, tapi dengan mode suara ketika kita berkata cheese, atau kimchi.

Dan untuk mereka yang senang foto diri sendiri atau yang dikenal dengan   selfie, tombol volume di belakang bisa diaktifkan sebagai shutter untuk mengambil foto dari lensa depan 2,1 MP nya.

Hanya ada bagian kecil yang dirasakan kurang di kamera LG G2 ini, untuk object bergerak, terutama di ruangan indoor, sulit sekali untuk didapat fotonya tanpa blur, entah bergerak pelan, atau cepat, seperti bayi menoleh, anak kecil berlari dll. Walaupun sudah dicoba dengan mode kamera di set di sport, foto yang dihasilkan masih blur. Hanya dengan bantuan kedipan flash, objek baru bisa ditangkap “diam”.

Untuk penangkapan gambar Video, terasa sekali OIS sangat membantu. Satu menu yang menarik di video adalah Audio Zoom, yang bisa kita aktifkan di setting. Setelah diaktifkan, ketika mengambil video, dan kita memperbesar (men-zoom) gambar ke object yang berbunyi atau bersuara, maka audio yang dihasilkan pun lebih besar untuk suara tersebut, selayaknya kita mendekat kepada objek.

Sound

Ada hal menarik soal suara dan musik yang bisa kita bahas khusus untuk LG G2 ini.

Pertama saat di launch di New York, LG membawa nama Vienna Boys Choir (VBC), paduan suara anak2 yang sangat terkenal, dan menjadikan suara mereka sebagai ringtone di G2.

Sebenarnya ada maksud lebih dari LG selain memberikan ringtone dengan VBC. Pertama suara ringtone itu bisa menjadi pertanda pengenalan orang akan sebuah brand. Dari suara ringtone default, kita bisa mengenal suara ini keluar dari handphone brand apa, misal ringtone khas Nokia, HTC, Samsung dll.

LG berusaha memberi pendekatan lain, bukan poly ringtone, tetapi lagu Life is Good oleh VBC. Langkah yang bagus, seperti dulu berhasil dilakukan oleh Sony di handphonenya, yang kalau kita ingat ringtonenya suara wanita bernyanyi hanya dengan kata ring…ring..ring saja, memberikan pengenalan yang berbeda kepada sebuah brand. Beberapa suara VBC yang lain masih menghiasi untuk petanda notifikasi bahkan sampai alarm untuk bangun tidur.

Kedua sebenarnya LG memperkenalkan format music yang lebih advance di LG G2.

Kebanyakan orang mengenal format MP3, yang akhirnya membuat industri musik dengan format kepingan cd maupun pita kaset tumbang. Tetapi sebenarnya format MP3 ini adalah format musik dalam kondisi di kompres untuk menghasilkan besaran data file yang tidak terlalu besar. Akibatnya sebenarnya ada bagian-bagian detail musik yang hilang. Belum lagi jika kompres music mp3 nya dibuat semakin kecil kbps nya. Performa MP3 yang baik sebenarnya berada di kompresi 320kbps, ini mendekati kualitas rekaman CD, tetapi tentu saja filenya mejadi cukup besar, bisa mencapai 7-15 MB per lagu.

Sebenarnya kualitas kepingan CD audio itu ada di atas format MP3. Nah format ini jika ingin dicapai kesetaraanya dalam kompresi lagu, salah satunya yang dikenal umum adalah format FLAC ( Free Lossless Audio Codec) dan juga WAV. File lagu original, di kompres besarannya menjadi 50%  tanpa kehilangan informasi data nya.

FLAC ini terbagi dua kompresinya, 16 bit dan 24bit.

FLAC 16 bit setara dengan rekaman CD quality.

FLAC 24 bit setara dengan rekaman  Studio quality.

Nah LG G2 ini, dengan mengandalkan prosesor qualcomm s800 mampu meng-encoding format lagu FLAC 24bit 192KHz.

Semua handphone android kebanyakan bisa menghandle format lagu MP3, sebagian kecil bisa menghandle FLAC 16bit. Tapi sebagian besar tidak bisa menghandle FLAC 24bit.

Para penggemar music serius yang sering disebut audiophile, biasanya berusaha mendengar lagu serius dalam format ini. Keuntungannya, detail suara musiknya akan berbeda dengan MP3. Suara penyanyi bisa didengar sampai tarikan nafasnya, cymbals berdenting pelan di belakang sampai getaran sisanya bisa didengar, gesekan jari diatas senar gitar, posisi suara mana yang dibelakang, mana yang didepan, dll, memberikan efek seolah-olah kita mendengar pemain music ada di depan kita. Hal-hal “kecil” ini yang banyak hilang jika suara di kompres dalam format MP3.

Analogi mudahnya, bayangkan kita masuk kesebuah kamar temaram yang jendelanya masih tertutup gorden. Kita bisa melihat ada tempat tidur, ada meja tulis, buku , lemari dll. Itu kira-kira format MP3. Ketika gorden dibuka dan cahaya matahari masuk, kita bisa melihat judul buku yang ada di meja, poster didepan lemari, retakan di dinding, pola pada sarung bantal dll. Itu kira-kira gambaran kalau kita mendengarkan rekaman lagu dalam format FLAC 24bit, lebih kaya akan detail.

Sayangnya format FLAC 24 bit atau WAV mau tidak mau akan memiliki besaran file yang jauh lebih besar dari MP3. Sebuah lagu Norah Jones yang kita pakai untuk testing, satu lagu nya berukuran 200 MB 🙂 , lebih besar daripada satu album MP3. Lagu-lagu lain format FLAC berkisaran 50MB ke atas, per lagu.

Tentu saja setelah pemutar musiknya sanggup mengolah data 24bit, yang harus kita punya adalah earphone atau headphone yang bagus. LG G2 untuk test ini, sayangnya datang hanya unit saja tanpa kelengkapan lain, jadi tidak bisa di test dengan earphone bawaannya. Terima kasih kepada Jaben Bandung yang meminjamkan earphone Shure 535 dengan 3 driver (berharga setara LG G2 nya sendiri), untuk mentest suara yang dihasilkan pemutar musik nya.

Hasilnya benar-benar berbeda. Berkali-kali sudah mendengarkan lagu-lagu dari album Come away with me – Norah Jones, ketika diputarkan versi 24 bitnya, banyak suara yang dulunya tidak pernah kita dengar di lagu MP3nya, sekarang keluar memperkaya lagunya. Detail dentingan cymbals, ketukan kalem bass nya, dentingan piano, terasa jauh lebih jernih dan memiliki jarak masing-masing, dengan pembagian suara yang jelas, mana insturmen dibagian kiri, mana yang dikanan,mana yang diposisi depan atau belakang.

Begitupula ketika mencoba lagu Lana Del Rey, Summertime Sadness (Cedric Gervais Remix), yang lagu aslinya kalem, kemudian diubah menjadi lagu dengan banyak beats. Ketika disandingkan bersebelahan dengan format MP3, terasa format flac lebih bertenaga, suara Lana yang lebih dalam, dan ketukan beats yang lebih panjang.

Dan ternyata lagu ringtone bawaan LG G2 dari Vienna Boys Choir ini formatnya juga FLAC 24 bit. Ketika kita memutar lagu dengan format FLAC 24bit, otomatis semua setiingan audio tambahan seperti bass booster, treble booster, vocal booster, dll tidak bisa di set lagi seperti pada format MP3 atau FLAC 16 bit. Untuk FLAC 24bit, suara dikeluarkan apa adanya seperti rekaman saat di studio. Sangat menarik.

User Interface

Sebenarnya dengan desain hardware yang baru, tanpa ada lagi tombol hardware home di depan, LG sudah mencoba lepas dari gambaran desain smartphone kompetitor senegaranya, Samsung.

Tetapi ketika kita melihat UI atau user interfacenya, LG G2 ini sekali lagi seperti cermin UI touchwiz nya Samsung. Posisi widget dan icon di homescreen, bar menu, sampai kepada fitur seperti smartstay, memperlihatkan LG masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Samsung.

Sejatinya, salah satu pembeda dari smartphone android  brand-brand papan atas adalah User Interface masing-masing, yang dikembangkan untuk memperkaya operating system android. Sepertinya kalau dilihat dari bermacam-macam fitur, sebagian terlihat bagus, tapi sebagian juga terlihat hanya gimmick, UI LG ini sangat berat. Tetapi sukur, karena diimbangi oleh prosesor S800 yang kuat dan RAM 2GB yang mencukupi, tidak sampai membuat unit tersendat.

Fitur-fitur dan settingnya terlalu banyak pilihan, sepertinya ingin semuanya ada. Bahkan ketika kita dropdown notifikasi, setengah halaman layar habis untuk notifikasi asli bawaan LG, dan notifikasi lain seperti email, sms, chatting, dll akan ada dibawahnya dan terpaksa di scroll up. Ada baiknya jika LG mempertahankan sistem notifikasi di Jelly Bean 4.2.2 bawaan google, swipe down 2 jari memberikan kemudahan setting untuk bluetooth, backlight, wifi, dll, sedangkan swipe down dengan 1 jari membuka notifikasi.

Keyboard bawaan LG juga dirasakan sangat ingin semua ada disana, sehingga ukurannya memakan setengah halaman. Bagusnya OS android memiliki banyak type keyboard dari pihak ke-3 yang bisa menggantikan keyboard asli bawaan unit. Sepertinya UI LG ini ingin menyenangkan banyak pihak supaya semua orang bisa memakai LG G2 ini, baik kaum profesional juga termasuk anak remaja, bahkan kemungkinan para wanita remaja yang menyenangi colorful setting dan animasi bermacam-macam. Bahkan setting default awal saja, pergeseran antar halaman, sudah menggunakan gerakan animasi yang cukup menyita perhatian dan waktu perpindahan. Sementara device-device papan atas dari brand lain sudah mencoba semakin se-simple mungkin.

Saya beraharap LG juga lebih memusatkan kepada hal yang lebih simple dan penting di UI nya, dan membiarkan mereka yang ingin lebih macam-macam menggunakan launcher 3rd party saja. Apalagi  LG G2 ini diunggulkan sebagai flagship device, untuk bertarung dengan device terbaik dari brand-brand lain.

Tetapi ini semua tidak berarti semua fitur bawaan LG tidak menarik. Banyak fitur-fitur bawaan LG yang menarik. Misal ketika kita sedang melakukan pekerjaan di unit tersebut, ada telepon masuk, biasanya pada device lain kita harus memilih, mengangkat atau mematikan telepon dan baru bisa melanjutkan pekerjaan. Pada LG G2, jika kita sedang mengerjakan hal penting, dan ada telepon masuk yang kita anggap tidak terlalu penting dan bisa kita callback, kita bisa meng-ignore telepon tersebut, tetap jalan di background tanpa diangkat (penelopon tidak di reject) dan pekerjaan tetap bisa dilanjutkan.

Aplikasi Qslide memungkinkan ketika kita sedang menjalankan sebuah aplikasi, misal office, dan kita membutuhkan kalkulator, kita bisa membawa aplikasi kalkulator jalan diatas aplikasi office dengan ukuran yang bisa kita atur bahkan transparansinya. Selain aplikasi kalkulator kita bisa membawa aplikasi lain running diatas aplikasi lain, seperti browser, youtube, kalender dll.

Quick Translator dan dictionary yang sudah bawaan juga menarik ada di LG G2. Dengan Quick translator, kita bisa memanfaatkan kamera untuk menterjemahkan kata bahkan kalimat yang kita lihat melalui kamera. Fungsi ini bekerja cepat dan bagus seperti google translate. Dictionary bawaannya sudah membawa kamus Inggris-Indonesia. Sementara fungsi voice command nya yang dibuat seperti SIRI, boleh dikatakan harus banyak perbaikan.

Beberapa fitur menyangkut wireless juga membuat nilai tambah di flagship LG ini, seperti NFC, Wifi Direct untuk berbagi file melalui wifi, Smartshare beam untuk berbagi konten sesama device LG, misal dari smartphone ke tablet. Miracast untuk menampilkan video dan music di TV, dan terakhir wireless storage, yang bisa memindahkan data dari smartphone ke PC/Notebook dan sebaliknya, tanpa memerlukan kabel, hanya melalui jaringan wifi dalam network yang sama.

Daya Tahan.

Semakin bagus sebuah smartphone, sebenarnya akan semakin banyak digunakan pemakainya. Semua aplikasi, social media, entertainment akan dibenamkan disana, yang akhirnya membuat smartphone semakin banyak digunakan dan menyala lebih lama. Untuk semua kebutuhan tersebut, akhirnya kemampuan baterai menjadi sangat krusial.

Untuk LG G2 ini , LG berhasil memaksimalkan kapasitas baterai pada ukuran tempat yang lebih terbatas, sehingga baterai Lithium Polymer 3000 mAh berhasil dibenamkan disana, dan tetap berbobot ringan.

Keberhasilannya dengan teknologi G-RAM yang sudah kita ceritakan diatas, dan kombinasi daya yang hemat dari prosesor snapdragon 800, berhasil membuat,  bahkan dalam pemakaian berat sekalipun, smartphone ini setidaknya bisa dipakai diatas 13 jam. Rata-rata dari hasil test selama kurang lebih 1 minggu dengan pemakaian yang bisa dibilang berat 13-18 jam bisa dicapai dengan mudah oleh LG G2 tanpa harus menjalankan power saver mode. Disamping itu LG juga sanggup memberikan automatic standby mode yang bagus, dalam artian, ketika jam 1 pagi charger dicabut dengan kondisi baterai penuh, dibiarkan standby menyala (kondisi layar padam), pada pagi hari dibuka, baterai masih tetap 100%.

Penutup.

Sebagai sebuah device flagship, dengan spesifikasi yang bisa dikatakan terbaru dan buas, LG G2 ini bisa dikatakan sangat cocok untuk konsumen yang masuk dalam kategori power user, yang biasanya aware dengan kemajuan teknologi dan mengharapkan device yang bisa berjalan cepat. Apalagi harga jualnya termasuk kompetitif jika dibandingkan device brand lain yang sekelas. Dibanderol dengan harga Rp.6.799.000,- di Indonesia, bahkan dengan banyak program diskon dan bonus, seringkali LG G2 ini bisa dibeli dengan harga 5 koma, yang benar-benar menjadi harga best value untuk sebuah device dengan spesifikasi kelas atas.

Jika LG lebih serius menata kembali jajaran smartphone kelas atasnya dan terus berinovasi, bisa diharapkan LG bisa menjadi pemain papan atas yang akan mencuat. Apalagi device pabrikannya sudah di endorse google menjadi bagian dari smartphone google nexusnya, termasuk Nexus 5 yang akan segera muncul.

Ada sedikit catatan yang harus ditempuh LG untuk mencapai arah kesana, diantaranya memperbaiki update OS nya yang selama ini dikenal banyak konsumen terbengkalai. Beberapa tahun LG membuat smartphone bahkan tablet android, banyak konsumennya kecewa karena tidak pernah ada update, atau dikeluarkan sangat terlambat sekali. Sedangkan google terus menerus mengeluarkan update OS android dengan cukup cepat.

Jika pola tidak peduli akan update OS ini terus dipertahankan LG, untuk maju ke papan paling atas akan menjadi sulit. Dalam waktu dekat hitungan 1-2 bulan akan terlihat apakah LG berkomitmen akan update ini, karena beberapa brand papan atas lainnya sudah maju ke update 4.3. Dan sebentar lagi OS android 4.4 KitKat akan segera release.

Kiranya LG G2 ini bisa menjadi titik balik dimana LG mau berkomitmen dan bergerak lebih cepat untuk maju sebagai smartphone android papan atas, termasuk melepaskan diri dari bayang-bayang Samsung, dengan berinovasi sendiri, sekaligus termasuk didalamnya, membuat UI yang lebih simple dan lebih cantik tanpa harus mengekor.

Exit mobile version