Site icon Lucky Sebastian

Meizu M2, the review

 

 

Prolog

5 Tahun lagi menurut para ahli dan pengamat, ? smartphone di dunia akan dikuasai oleh mid and low spec smartphone. Tetapi kita belum tahu, 5 tahun lagi apa yang disebut mid atau low itu seperti apa teknologinya nanti, karena tahun 2015 ini, apa yang disebut mid-end smartphone, dari sisi harga sudah mulai menyentuh low end smartphone, tetapi dengan spesifikasi yang kalau kita bandingkan dari sisi kecepatan, sama dengan produk flagship hi-end 1-2 tahun lalu.

Dalam pengamatan saya mengikuti perkembangan smartphone android sejak awal mulai masuk ke Indonesia sekitar tahun 2009, perkembangannya luar biasa cepat. Inovasi-inovasi baru terus bermunculan. Pada saat kita merasa inovasi sudah sampai pada sisi terdepan dan entah harus diapakan lagi, tetap saja inovasi selalu lahir yang baru. Apa yang dulu kemampuannya hanya dimiliki oleh smartphone hi-end, sekarang dimiliki oleh smartphone mid-end bahkan mulai ke low end.

Jadi 5 tahun lagi, mid dan low end smartphone pasti memiliki teknologi yang jauh lebih advance dibanding yang ada sekarang.

Darimana gelombang mid-end low-end smartphone android hadir? Tentu saja brand-brand China. Sebelumnya brand-brand China dipandang sebelah mata, karena kebanyakan menawarkan versi tiruan dari brand global yang lebih murah. Tetapi sekarang banyak dari brand China yang serius menjadi pendobrak model bisnis smartphone terdahulu, menawarkan smartphone dengan spesifikasi bagus, dengan harga yang terjangkau.

Kita mengenal Lenovo yang memberikan pilihan lebih terjangkau untuk pasar Indonesia, dan kemudian setahun lalu Xiaomi hadir dengan gaung yang besar, merubah pandangan kalau smartphone made in China mulai bisa diandalkan seperti brand-brand global, dari sisi teknologi yang bagus, tetapi dengan harga yang terjangkau. Memang ada brand-brand China lain yang sudah lebih dahulu hadir, dengan teknologi yang bagus, tetapi dari sisi harga masih mencoba bersaing dengan brand-brand global. Jadi dengan leluasa, Xiaomi melenggang dengan bagus di Indonesia.

Jadi siapa yang akan menjadi lawan Xiaomi di Indonesia?

Meizu, pabrikan smartphone dari China, kini mencoba ber-ekspansi ke Indonesia. Sama seperti Xiaomi yang merelease smartphone type awalnya dari seri mid-end untuk Indonesia, demikian juga Meizu.

Mengapa kita membandingkan Meizu dengan Xiaomi?

Karena keduanya memiliki produk yang hampir sejajar, dan jika diurut-urut, setiap produk A di Xiaomi, akan memiliki lawan sepadan B di Meizu.

Keduanya memiliki kemampuan yang mirip, produk dengan harga terjangkau, dan spesifikasi yang baik.

Xiaomi sekarang berkembang menjadi raksasa di China, tetapi Meizu sekarang juga dikenal sebagai salah satu perusahaan smartphone yang paling cepat pertumbuhannya.

Senin 28 September 2015, Meizu bekerjasama dengan situs belanja online Blibli.com , resmi merelease Meizu M2. Entah janjian atau bagaimana, kedatangan Meizu M2 ini secara resmi di Indonesia, bertepatan dengan kehadiran Redmi 2 Prime dari Xiaomi.

Masih belum cukup berbarengan, keduanya hadir dengan spesifikasi yang selintas mirip-mirip, bahkan harga yang sangat dekat.

Xiaomi Redmi 2 Prime mulai dijual dengan harga 1.799.000, dan Meizu M2 dijual dengan selisih 100rb rupiah lebih murah di 1.699.000.

Mana yang lebih baik dari kedua produk ini? Akan kita bahas lebih dalam dikesempatan yang lain, sementara ini kita akan fokus mengenal Meizu M2.

 

Desain

Bahasa desain atau design language, sebenarnya cukup memusingkan, karena background setiap orang terhadap apa yang disebut desain bagus berbeda-beda. Dahulu produk-produk China (sebenarnya masih berlangsung sampai sekarang), punya design language yang berbeda dengan produk global. Harus ada sesuatu yang “mengkilap” , glow, silver, emas, yang dianggap sebagai pembawa keberuntungan bagi yang memakainya. Sedangkan bahasa desain global sekarang lebih kepada aliran yang simpel, minimalis, dan banyak menuntut desain yang ergonomis.

Banyak produk dari China yang sekarang mencoba menjadi brand global, sudah mementingkan desain yang lebih umum dan mudah diterima oleh banyak orang, dibanding desain yang hanya bisa diterima sebagian orang. Kalau dulu fungsi dianggap paling penting dan desain adalah nomer kesekian, sekarang desain menjadi salah satu hal penting yang turut menentukan hype nya sebuah device.

Meizu dari line up nya terlihat menempatkan desain sebagai prioritas dan menganut design language global. Pada seri affordable Meizu M2, walau tidak terbuat dari bahan metal, casing polycarbonate unibody nya terlihat bergaya minimalis, dengan built quality yang bagus dan presisi,  tidak sedikit pun terlihat seperti smartphone dengan harga murah.

Karena lebih diperuntukkan untuk anak muda, ada 2 warna standar disediakan, putih dan abu-abu, dan dua  lagi dengan warna pop up, biru dan pink.

Lekukan body belakangnya dibuat dalam “sudut” yang pas, sehingga ketika diletakkan diatas meja, body Meizu M2 seolah-olah lebih tipis dari aslinya, walau sebenarnya tebal 8.7mm bisa dikatakan sudah masuk kategori smartphone yang tipis.

Karakter desainnya pasti mengingatkan banyak orang dengan iPhone. Yang membedakan home button-nya tidak berbentuk bundar, lebih mirip home button dari device Samsung. Tetapi lubang speaker dan lengkungan body dibagian bawah, sulit dilepaskan dari desain iPhone, apalagi banyak tema yang disediakan untuk OSnya berkarakter tema iPhone. Jika tema ini dipilih, sekilas benar2 device ini mirip iPhone 🙂

Pada bagian belakang tidak banyak olahan desain, Meizu mengambil desain simetri dengan menempatkan kamera 13MP yang flat atau rata dengan body dengan lampu kilat dibawahnya. Desain kamera yang rata ini menarik untuk device mid-end, dimana banyak device sekelas, kameranya harus menyembul/protruding, karena semakin besar MP kamera, biasanya membutuhkan jarak dari lensa ke sensor yang samakin besar. Ini sedikit memberikan gambaran kalau desain hardware di dalamnya, di desain dengan baik. Hal yang agak langka untuk sebuah desain smartphone dari kelas mid-end.

Smartphone sekarang juga dituntut untuk memiliki screen to body ratio yang baik, dimana sebisa mungkin ukuran body smartphone tidak terlalu besar dibanding ukuran layarnya. Dengan layar 5 inci HD 720P, Meizu M2 memiliki screen to body ratio 75,6%, sangat baik di kelasnya mengingat ini adalah device mid-end yang terjangkau. Dengan design rasio tersebut didapat bezel yang tidak tebal, dan lebar yang cukup untuk layar 5 inci yang masih dapat digenggam nyaman oleh satu tangan.

Sepertinya Meizu menginginkan desain yang sebisa mungkin lebih sedikit memiliki celah atau bukaan pada body, termasuk desain slot SIM card. Setelah menggunakan baterai tanam tanpa penutup baterai yang bisa dibuka, slot SIM card yang digunakan bertipe hybrid. Dengan slot ini kita bisa menempatkan Dual SIM LTE berukuran nano, atau single SIM dengan micro SD card, yang support hingga 128 giga.

 

Kinerja

Otak dari Meizu M2 menggunakan prosesor Mediatek. Terkadang orang memandang rendah prosesor mediatek, karena prosesor ini dianggap untuk mass market dan memulai dari smartphone android kelas bawah. Tetapi banyak orang tidak menyadari kalau Mediatek juga berkembang pesat dalam teknologi prosesor, bahkan kelas hi-end.

Untuk Meizu M2 digunakan prosesor Mediatek MT6735 Quadcore. Banyak orang membandingkan prosesor ini dengan Snapdragon 410 dari Qualcomm. Tetapi menurut hasil benchmark dan tahun keluar, Mediatek memang lebih unggul dibanding snapdragon 410. (Perbandingan diambil dengan Xiaomi Redmi2 Prime, smartphone sekelas Meizu M2 yang menggunakan prosesor Snapdragon 410)

Prosesor MT6735 adalah prosesor relatif baru yang keluar di Q2 2015, sementara Snapdragon prosesor yang keluar di pertengahan tahun 2014. Walau sama-sama mendukung komputasi yang sudah 64 bit, kebanyakan device yang menggunakan prosesor Snapdragon 410 belum bisa mengaktifkan optimalisasi dari 64 bit, karena keluar disaat OS android masih kelas KitKat 4.4.

Sementara MT6735 keluar disaat yang tepat, dimana OS android Lollipop yang mendukung komputasi 64bit sudah lebih umum dimiliki baik device hi-end maupun mid-end.

Sepertinya lebih tepat kalau prosesor MT6735 dari Meizu M2 ini disandingkan dengan prosesor Qualcomm yang lebih baru, Snapdragon 615. Jika diperhatikan, prosesor Snapdragon 615 sekarang ini hanya bisa dijumpai di smartphone android mid-end diatas 2jt rupiah. Pilihan prosesor MT6735 oleh Meizu M2 bisa menjadi langkah yang cerdas, mendapatkan kinerja yang mirip, tetapi dapat menekan cost smartphone dengan harga dibawah 2jt rupiah.

RAM yang digunakan di Meizu M2 berkapsitas 2GB, bertipe LPDDR3. Sepertinya RAM 1GB sekarang dianggap sudah tidak mencukupi, dan RAM 2GB dianggap sebagai batas minimal device android untuk memiliki “ruang” yang cukup menjalankan multitasking dari banyak aplikasi.

Sementara internal memori pada Meizu M2 berkapasitas 16GB, dari pabrikan Samsung dengan spesifikasi eMMC 5.0. Untuk ukuran device mid-end dibawah 2jt, eMMC 5.0 ini adalah komponen “mewah”, karena kinerja kecepatannya hanya selangkah dibawah dibawah memori UFS 2.0 yang dimiliki sedikit saja hi-end devices.

Dengan perpaduan prosesor quadcore yang pas, RAM yang baik, dan tentu saja OS baru dengan UI yang ringan (kita akan membahasnya lebih jauh nanti), maka kinerja device dibawah 2 juta ini ketika di benchmark cukup mengagumkan, dengan AnTuTu score sekitar 28.000. Rata-rata score ini diatas 7000-8000 poin diatas smartphone dengan prosesor Snapdragon 410.

Supaya kita mendapat gambaran seperti apa hasil benchmark 28.000 poin itu, kita berkaca kepada flagship hi-end android 1-2 tahun lalu. Melihat dari hasil benchmark saja, ini berarti Meizu M2 mid end dengan harga hanya 1 koma,  lebih cepat dibanding flagship 2 tahun lalu HTC One M7, dan hampir mendekati score flagship tahun lalu LG G3.

Untuk mendapatkan kinerja yang maksimal, dibagian setting dari Meizu M2 kita bisa memilih 3 “kecepatan” kinerja device, yang ber-impact terhadap ketahanan baterai internalnya yang berkapasitas 2500mAh.

Power Saving, Balance dan High Performance, menjadi pilihan kinerja smartphone, berbanding dengan daya tahan baterai. Default setting device standarnya adalah balance, tapi saya pribadi lebih memilih menggunakan High Performance. Dengan high performance, gama-game lumayan berat seperti Asphalt 8 airborne bisa dimainkan dengan lancar dan mudah.

Ketika device ini dicoba dengan penggunaan berat layaknya menggunakan device high-end dengan berbagai aplikasi dan multitasking simultan bergantian, ketahanan baterai dari Meizu M2 yang berprosesor quadcore 1.3GHz arm A53 yang dikenal irit baterai, menunjukkan daya tahan yang lumayan. Walau tidak sanggup dipakai seharian penuh dengan kerja yang berat, daya tahannya bisa dikatakan cukup. Digunakan dari jam 8 pagi, device ini akan bersisa baterai 20% disekitar pukul 4 sore. Ketika baterai sudah 20% otomatis kecepatan performa akan diturunkan untuk menghemat baterai. Jika kita merasakan kinerja Meizu M2 mulai menurun, perhatikan kapasitas baterai ini.

Untuk penggunaan tidak terlalu berat, untuk cukup digunakan seharian bisa dicapai oleh device ini dengan cukup mudah.

 

Layar.

Dulu kita berpikiran kalau device “murah”, tentu saja layar -bagian yang masuk komponen mahal dari sebuah smartphone- akan menggunakan type layar murah, seperti TFT LCD biasa.

Pada Meizu M2 sudah dibekali layar dengan teknologi IPS untuk mendapatkan sudut pandang yang lebar, dengan kaca pelindung dragon trail (sekelas dengan gorilla glass), dan layar fully laminated (touchscreen, lapisan pelindung dan LCD menyatu). Dengan teknologi layar yang termasuk baru ini, layar selain menjadi lebih tipis dan ringan, juga jauh lebih tidak reflektif dari pantulan sinar luar, sehingga lebih mudah dibaca dan dapat menampilkan warna-warna yang lebih jernih.

Secara umum layar Meizu M2 dengan kerapatan hampir 300 ppi, nyaman dimata dan terlihat halus. Ada pilihan temperatur warna yang bisa kita set, apakah lebih warm atau cold, dengan default standar berada diantara keduanya. Dengan pilihan warm, warna akan lebih cenderung kekuningan dan cold lebih kebiruan. Walau tidak se pop up warna dari layar AMOLED, layar Meizu bisa dikatakan menghasilkan gambar gambar yang baik, dengan backlight yang tidak bocor, dan setting auto brightness yang cukup tepat, bahkan support touch untuk 10 jari, yang jarang dimiliki device mid-end .

 

Gesture, Flyme UI

Dulu android device pada awalnya memiliki 4 tombol untuk masing-masin fitur, Home, back, recent apps dan menu.

Kemudian berkurang menjadi 3 tombol , Home, recent apps, dan back button, dimana tombol ini bisa berbentuk hard button atau touch icon pada layar.

Pada Meizu M2 dan line up Meizu lainnya hanya ada satu tombol hard button, yaitu home button, dan Meizu lebih senang menyebutnya mBack button.

Meizu merasa penyederhanaan ini lebih cocok dengan UI yang didukungnya yang dinamai Flyme UI. Pada Meizu M2, Flyme UI sudah menggunakan Flyme seri 4.5 yang dibuat diatas android versi 5.1 Lollipop. Flyme UI mereka terbaru, versi 5.0 yang dibenamkan di device terbaru Meizu Pro 5. Berbeda dengan device dari China yang biasanya dipenuhi bloatware, atau aplikasi-aplikasi yang belum tentu diperlukan sangat banyak, Meizu M2 bisa dikatakan sangat sederhana. Pada device yang dicoba ini, bahkan google apps sendiri hanya tersedia playstore. Ada disediakan aplikasi market dari Meizu, (mengingat di China sendiri produk-produk google masih dilarang) , tetapi dengan mudah aplikasi market ini bisa di-uninstall.

Home button ini memiliki 3 fungsi, jika ditekan klik, sama seperti home button pada Samsung devices yang akan membawa layar balik ke halaman home screen, home button ini juga mengenali gesture berupa tap ringan, yang akan berfungsi sebagai tombol back. Jika home button ini di klik dan ditahan, maka akan mematikan layar.

Sebagai pengganti fungsi tombol recent apps, Flyme UI menggunakan gesture dengan menggeser jari ke atas dari sisi pad ditepi kiri kanan home button ke arah layar, yang akan memunculkan icon-icon dari aplikasi yang sedang running. Tinggal tap icon untuk berpindah aplikasi atau swipe icon ke atas untuk menutup aplikasi.

Masih belum puas menggunakan hardware button, pada bagian setting gesture, tersedia banyak cara mengakses device ketika layar dalam keadaan mati. Bisa memilih double tap di layar seperti pada LG (knock on), atau cukup swipe jari dari bawah ke atas seperti Blackberry.

Selain itu, masih banyak gesture lain seperti membentuk huruf C untuk mengaktifkan langsung kamera dari layar mati, huruf E, huruf M, O, dll yang bisa di set untuk menjalankan banyak fungsi atau aplikasi ketika device dalama keadaan standby.

Masih belum cukup, kita bisa mengaktifkan SmartTouch, yang akan menampilkan icon bundar transparan seperti pengganti home button pada iPhone. Bedanya icon bundar ini berfungsi lebih banyak, karena selain bisa di tap, bisa di double tap, bisa di swipe kiri kanan atas bawah untuk menjalankan berbagai fungsi seperti back, home, launch, end task dll. Lucunya bentuk icon bundarnya bisa berubah memanjang ketika di swipe, mengikuti arah swipe.

 

Sensor

Salah satu yang sulit dipenuhi device android murah biasanya adalah kelengkapan sensor. Device android murah biasanya hanya memiliki sensor secukupnya, bahkan tidak ada digital compass, apalagi gyroscope.

Meizu M2 memiliki beberapa sensor utama yang cukup seperti Hall Effect sensor, Gravity sensor,

IR proximity sensor, Ambient light sensor, Touch sensor, Digital compass.

Satu yang cukup banyak ditanya orang adalah , apakah ada sensor gyroscope?

Ternyata sensor gyroscope ini secara hardware tidak tersedia, dan uniknya Meizu menggantikannya dengan software gyroscope. Gyroscope ini akan berguna saat kita menggunakan device untuk VR atau virtual reality, misal menggunakan google cardboard, atau tanpa cardboard menonton youtube video 360. Gyroscope juga berguna untuk memaninkan game-game tertentu yang mendukung sensor ini. Sepertinya Meizu berhasil menggunakan algoritma sofware yang kemungkianan memanfaatkan compas dan gravity sensor untuk berperan menggantikan fungsi gyroscope… langkah yang menarik.

Saat dicoba untuk menonton video youtube video 360, dimana kita bisa menyaksikan video dalam keadaan seperti berada di tengah-tengah lokasi, kita bisa mengarahkan layar smartphone ke arah mana saja untuk melihat adegan video dari sisi lain, dan Meizu M2 bisa melakukannya dengan baik.

Sebelumnya banyak orang juga ragu-ragu, apakah SOC dari Mediatek bisa menerima sinyal GPS untuk menunjukkan lokasi dengan cepat dan baik. Meizu M2 sudah support untuk menerima sinyal dari satelit GPS milik Amerika juga Glonass dari Rusia, dan pada test Meizu M2, hasilnya sangat cepat untuk lock GPS baik di dalam dan di luar kendaraan, hanya dalam hitungan detik.

Untuk kelengkapan band 4G LTE yang didukung Meizu M2, bisa dilihat disini:

 

 

Kamera

Kamera yang baik pada smartphone menjadi salah satu alasan penting, untuk banyak orang memilih smartphone. Biasanya device yang dianggap murah, tidak akan memiliki kamera yang bagus, bahkan dianggap cukup baik saja sudah bisa dikatakan beruntung.

Dengan ukuran kamera belakang 13MP dan kamera depan 5MP, pada device dengan harga dibawah 2jt sebenarnya sudah bisa dikatakan menarik. Tetapi jika melihat fitur kamera yang disediakan pada Meizu M2 sedemikian lengkap, cukup membuat heran.

Pertama cara autofokus pada kamera Meizu M2. Biasanya ada 2 macam standar tap to focus pada kamera smartphone, pertama ketika di tap fokus pada sebuah object, maka selain fokus dipusatkan pada object tersebut , exposure juga ikut berubah sesuai kondisi gelap terang object. Dengan cara fokus ini seringkali kita mendapatkan objek yang terang, tetapi disekitarnya bisa terlalu terang atau over exposure, atau bahkan menjadi kebalikannya. Cara tap to focus lainnya, seperti yang banyak dianut smartphone dari Samsung. Ketika jari men-tap fokus, yang terjadi hanya fokus kepada objek yang di tap tanpa merubah ukuran exposure.

Meizu M2 memberikan pilihan pada kita untuk menggunakan cara tap to focus yang mana. Bisa menggunakan cara pertama dimana fokus sekaligus merubah exposure, atau cara ke dua dengan memisahkan antara focus dan eksposure. Cara ini membuat kita bisa mengontrol lebih baik hasil terang dan gelap pada foto. Cukup tap kan focus ke objek pada layar smartphone Meizu M2, yang menampilan sebuah kotak fokus dengan lingkaran didalamnya, kemudian kita bisa menggeser lingkaran didalamnya sebagai pilihan untuk mengatur eksposure sesuai terang gelap objek yang akan kita foto. Misalkan saat kita tap to focus kamera pada wajah orang yang akan kita foto, tetapi merasa fotonya agak gelap, kita bisa tetap fokuskan kamera ke wajah orang dan menggeser lingkaran exposure  ke daerah dimana gambar memiliki area yang bernuansa lebih gelap atau terang, sehingga exposure berubah tanpa fokus berganti.

Menu kamera yang bisa dipilih dengan hanya swipe pada layar juga memudahkan, selain foto dengan konfigurasi auto, kita kan mendapatkan setting foto dengan setting manual yang biasanya hanya dimiliki oleh smartphone hi-end. Pada mode manual ini bisa mengatur sendiri ISO, focal length, exposure sampai kepada shutter speed yang bisa diset paling lama 10 detik.

 

Selain mode manual, ada pilihan beauty yang lebih banyak digunakan untuk foto selfie, tetapi ternyata juga bisa digunakan pada kamera belakang,  mode panorama untuk men-stich beberapa gambar yang tidak bisa masuk dalam sekali capture kamera, Light field untuk menentukan fokus belakangan (bokeh di depan atau di belakang), mode scan untuk membaca QRcode, dan  slow motion video.

Beberapa contoh hasil foto dari Meizu M2 (gambar di kompres):

 

 

Contoh foto-foto yang lebih komplit dalam ukuran asli bisa dilihat di link ini:

Foto2 asli dari Meizu M2

Sama seperti banyak smartphone hasil foto bisa langsung di edit dari gallery, demikian juga pada Meizu M2. Mau edit foto dengan settingan yang langsung jadi seperti pada menu instagram, atau diedit per bagian seperti pengaturan kontras, temperatur, saturasi, dll, bisa dilakukan di gallery Meizu M2. Tetapi menu yang jarang dipunya smartphone lain untuk edit adalah mengkompres ukuran foto menjadi lebih kecil secara langsung tanpa membutuhkan software third party tambahan.

Cukup klik logo i (informasi) pada foto gallery yang akan menampilkan informasi exif foto, ada pilihan rename dan resize. Dengan resize kita bisa membuat ukuran foto lebih kecil untuk di share misal di social media atau email, untuk menghemat data.

 

Audio

Apa sih sebenarnya yang diharapkan dengan audio dari device affordable? Asal bisa berbunyi untuk mendengar lagu juga terkadang kita anggap cukup.

Well, ini yang cukup mengejutkan dari device Meizu.

Sebelum menjadi pembuat smartphone, Meizu dulu adalah pembuat MP3 player. Saat masih menjadi pembuat MP3 player, mereka sudah berhasil menarik banyak peminat dan sanggup membuat antrian pembeli, karena berhasil membuat MP3 player yang berkualitas dan affordable.

Pada kebanyakan smartphone, hanya versi hi-end yang biasanya sanggup memutar lagu dalam format lossless atau sering dikenal dengan high quality audio. Bahkan beberapa smartphone yang mengikrarkan diri sebagai audio phone, seringkali tidak sanggup memutar lossless audio dalam format 24bit.

Device satu koma Meizu M2 ini ternyata sanggup dengan lancar memutar audio dalam berbagai format, format audio kompak dengan standar MP3, sampai lossless seperti Flac audio.

Bagaimana dengan hasil suaranya?

Di dalam packaging, tidak terdapat earphone. Sebenarnya ini bisa menjadi langkah yang baik, setidaknya buat banyak orang yang tidak pernah banyak menggunakan earphone standar bawaan smartphone. Tanpa menyertakan earphone, harga jual smartphone dapat lebih dipangkas. Lagipula, kebanyakan earphone bawaan smartphone kualitasnya hanya biasa-biasa saja.

Meizu M2 melengkapi audio dengan DIRAC HD sound, algoritma paten audio yang dimiliki perusahaan dirac dan banyak digunakan di berbagai macam audio product, bahkan untuk audio mobil2 mahal seperti BMW, Bentley, Roll-Royce dll.

Berbeda dengan efek suara, Dirac audio menganalisa output audio yang gunakan dan memaksimalkan hasil sesuai karakter earphone atau speaker output yang kita gunakan. Pada settingan yang tersedia, dirac hd sound di Meizu M2 sebenarnya hanya tersedia untuk kurang lebih 10 macam earphone, dari Meizu earphone, Sennheiser dan Audio Technica.

Pada test dicoba menggunakan earphone Mi piston 1 dari Xiaomi, untuk memutar lagu dan mencoba konfigurasi dirac sound dari settingan 10 macam earphone yang tersedia. Setiap pilihan memberikan warna suara yang berbeda.

Hasil suaranya cukup mengejutkan, kriterianya bisa dibilang bagus, dan tidak terpikir bisa dihasilkan oleh device affordable sekelas Meizu M2.

 

 

Menggunakan lagu yang sama dan diputar di perangkat Xiaomi dengan mengaktifkan mode earphone piston, hasil audio yang dihasilkan lebih balance dan crisp di perangkat Meizu M2. Tetapi memang harus diingat juga, audio ini sangat bergantung terhadap persepsi dan “kesukaan” dari telinga masing-masing pendengar. Secara umum bisa dikatakan audio yang dihasilkan Meizu M2 memang berkualitas, apalagi  mengingat harganya yang affordable.

Well done Meizu!

 

Konklusi.

Keseriusan China mengembangkan smartphone dari gaya yang asal jadi dan asal jiplak kemudian berubah menjadi device berkualitas dengan harga terjangkau, pastinya membuat peta persaingan smartphone menjadi sangat ketat.

Meizu menjadi salah satu brand China yang sepertinya akan maju pesat dalam persaingan ini. Mencoba Meizu M2 memberikan banyak surprise, dari harapan yang seadanya karena device memiliki level “hanya” mid end dan harga terjangkau, ternyata sanggup memberikan banyak kualitas dan keunikan yang seharusnya baru dimiliki level device diatasnya. Dimulai dari desain yang baik, kualitas hardware yang tidak sembarangan, bahkan fitur yang lengkap,

Harga 1.699jt untuk Meizu M2, worth every pennyÂ….

(Untuk data lengkap spesifikasi hardware dari Meizu M2, bisa dilihat disini: Spesifikasi Meizu M2 )

 

Exit mobile version