Site icon Lucky Sebastian

Samsung Galaxy Note7 – Hands On

hand on of Samsung Galaxy note 7

Samsung Galaxy note 7

Judul

Pembuka

Baru saja di tanggal 2 Agustus 2016, Samsung melakukan global launching #TheNextGalaxy,  yang diperkenalkan sebagai Galaxy Note 7, di New York.  Saya sempat mencoba device flagship terbaru ini dan mencoba fitur-fitur terbarunya. Karena device yang dicoba bukan final retail model (anggap saja prototype), tidak boleh satupun gambar atau fotonya diambil.

Dalam tulisan ini saya mencoba menceritakan kembali kesan yang saya dapatkan, opini, dan beberapa keterangan teknologi dan kemungkinan alasan di belakangnya. Karena tidak boleh mengambil gambar dari device tersebut, maka gambar yang saya tampilkan disini diambil dari berbagai sumber, dan kebanyakan dari Samsung sendiri sebagai pelengkap untuk bercerita lebih jelas.

 

Desain

Sekilas desainnya mirip dengan Galaxy S7 edge, device flagship dari Samsung yang dikabarkan oleh riset Strategy Analytics sebagai device android yang paling laku dalam paruh pertama tahun 2016, terjual kira-kira dalam jumlah 13,3 juta unit.

Galaxy Note 7 yang saya coba berwarna onyx black, yang kali ini warna hitamnya bisa dikatakan deep black, tidak lagi kebiru-biruan seperti device pendahulunya. Dalam keadaan mati, warna layar yang hitam pekat, menyatu dengan baik dengan warna frame dan body, terlihat sangat solid. Kedua ujung layarnya sama melengkung seperti Galaxy S7 edge, tetapi dengan sudud lengkungan yang lebih menekuk. Hasil lengkungan ini membuat layar 5.7 inci-nya tidak lagi terasa besar, bahkan lebarnya mirip dengan Galaxy S7edge yang berlayar 5.5 inci.

Dibanding pendahulunya, Galaxy Note 5 yang sudah berbezel tipis, layar lengkung ini dengan ukuran sama-sama 5.7 inci, membuat Galaxy Note 7 terlihat dan terasa lebih slim. Dengan desain layar lengkung ini, Galaxy Note 7 bisa memperkecil ukuran lebar hampir 3mm dibanding Galaxy Note 5.

Warna body hitam memiliki keunikan tersendiri, pinggiran bezel tipis hitam disekeliling layar, sulit terlihat lagi, karena lengkungan kaca yang menyatu dengan frame tengah berwarna hitam tidak memberikan batasan jelas mana batas antara bezel tipis tersebut dengan body. Jadi menurut pendapat saya, kali ini setelah warna gold dan silver menjadi primadona beberapa saat lalu, mungkin sekarang saatnya kita kembali ke black.

Samsung menamakan layar lengkung di Galaxy Note 7 sebagai dual edge, bukan lagi hanya bagian sisi kiri dan kanan, tetapi body belakang yang juga terbuat dari kaca, memiliki lengkung yang sama. Kalau kita lihat dari samping, lengkungan kaca depan dan belakang sekarang menjadi simetris. Hal yang terlihat sepele ini ternyata dari sisi ergonomis saat digenggam, memberikan efek yang signifikan dibanding seri Galaxy S7 edge. Galaxy Note 7 lebih nyaman digenggam dibanding Galaxy S7 edge. Mereka yang sering mengeluh tanpa sengaja menyentuh touch screen pada bagian lengkung saat menggenggam di Galaxy S6 edge atau S7 edge, bisa terbantu dengan desain dual edge ini.

Pada Galaxy S6 edge yang memiliki body belakang rata, bagian frame metal pada pertemuan lengkung kaca terasa terlalu tipis, dan device agak sulit diangkat dari meja.

Galaxy S7 edge memperbaiki masalah ini dengan memberikan sedikit lengkung dibagian body belakang.

Galaxy Note 7 dengan symmetrical dual edge, bisa dikatakan menyempurnakan ergonomis desain-nya. Sekarang kita memiliki ketebalan frame metal yang cukup diantara lengkungan dua kaca untuk memberikan grip yang baik.

Gorilla glass 5, yang baru saja diumumkan oleh pabrik pembuatnya, Corning, yang dikabarkan sekarang lebih tahan jatuh dari ketinggian 1,8 meter, ternyata sudah digunakan oleh Galaxy Note 7 sebagai perlindungan tambahan, baik untuk layar depan dan back  casing. Ini melanjutkan tradisi seperti pada Gorilla Glass 4, pertama kali digunakan oleh Galaxy Note 4. Kehadiran Gorilla Glass 5 yang lebih kuat, bisa menambah kepercayaan konsumen, dikarenakan secara kasat mata, layar melengkung dianggap lebih “fragile”.

Jika ada yang bertanya, mengapa desain Galaxy Note 7 kali ini mirip dengan Galaxy S7 edge, penjelasan dari smartphone planner Samsung, Kim Gae-youn, bisa memberikan latar belakang pemikirannya. Menurut riset mereka, mereka sudah coba mendahulukan fungsi pada seri Galaxy Note Edge, sehingga saat di desain memberikan lengkung satu sisi yang lebar. Tetapi desain ini ternyata tidak banyak diterima orang. Galaxy S6 edge yang mengutamakan sisi desain, ternyata digemari, dan saat penyempurnaan dilakukan di Galaxy S7 edge, ternyata sisi layar lengkung ini tidak melulu pertama kali dilihat sebagai fungsi, tetapi sebagai desain yang cantik, dan dianggap sebagi daya tarik utama bagi mereka yang membelinya. Jadi banyak orang sekarang merasa penting untuk memiliki smartphone yang “cantik” dari segi desain, tidak sekedar fungsi saja.

Sepertinya dasar ini yang membuat Galaxy Note 7 memiliki juga layar melengkung di kedua sisi. Menurut opini saya, arah desain seperti ini bisa memperluas target konsumen untuk seri Galaxy Note. Mereka yang sebelumnya belum tertarik untuk menjadi Noter’s (penggemar seri Note), yang secara desain biasanya terlihat lebar dan bergaya “resmi”, akan lebih tertarik memilikinya karena faktor desain yang lebih slim dan cantik. Mungkin sesudah mereka memiliki dan mencoba beberapa keunggulan dan kemudahan dari S-Pen nya, bisa jadi mereka akan menjadi kelompok Noter’s juga. Jumlah Noter’s yang bertambah akan menguntungkan Samsung, karena sampai sekarang untuk seri Note, Samsung memiliki diferensiasi produk smartphone yang lebih jelas dibanding brand lain, dan untuk seri Note secara fungsi, sampai saat ini belum ada pesaingnya.

 

S-Pen

Keberadaan S-Pen sejak awal Galaxy Note pertama, membedakan phablet Samsung dengan phablet brand lain. Walau banyak yang mengira Galaxy Note 7 kemungkinan tidak lagi bisa mengembangkan fungsi S-Pen yang lebih menarik dibanding versi sebelumnya, ternyata S-Pen tetap mendapat perhatian terbesar di Galaxy Note 7.

Secara teknologi, sekarang S-Pen Galaxy Note 7 mendapat sentuhan teknologi lebih baru. S-Pen yang baru dibekali pressure sensor yang lebih peka dengan angka 4096,  2x lipat dibanding S-Pen Galaxy Note 5 yang memiliki kepekaan 2048. Dibanding S-Pen Galaxy Note pertama, S-Pen yang baru memiliki angka kepekaan 16x lipat lebih baik.

Ujung pena S-Pen yang baru juga mengecil 60% , dari diameter 1.6mm menjadi 0.7mm. Pressure sensor yang lebih peka dan ujung pena yang mengecil, membuat penulisan diatas layar Galaxy Note 7 meningkat, terasa lebih halus dan presisi dibanding Galaxy Note 5. Saya mencobanya bersebelahan, pada Galaxy Note 5 masih terasa sedikit delay antara ujung pena dan garis yang tergambar, sedangkan pada Galaxy Note 7 tidak. Berarti respond time pada S-Pen yang baru ini benar meningkat. Ujung yang tipis dan peningkatan pressure sensor, membuat kita bisa menorehkan garis yang tipis, sekaligus menghasilkan arsiran saat pena dimiringkan. Terlihat jelas ketika kita menggunakan mode pensil. Mereka yang terbiasa membuat sketsa menggunakan pensil, akan merasa mendapat digital pen yang manarik kali ini, untuk membuat sketsa yang lebih hidup seperti menggunakan pensil asli.

S-Pen yang baru, sekarang juga dibuat tahan air. Lapisan digitizer dibawah layar Galaxy Note 7 yang juga tahan debu dan  air (IP68), menghasilkan induksi magnet untuk mengenali S-Pen. Hasilnya, walau basah bahkan berada di bawah air, layar Galaxy Note 7 tetap bisa ditulisi S-Pen.

Pasti kita juga berpikir, apa gunanya device ini bisa menulis di bawah air? Saya rasa, banyak orang mengalami juga saat kita mandi, atau berada di bawah shower, seringkali banyak ide menarik muncul dan terpikirkan. Selesai mandi ide tersebut juga cepat mengering dan menguap. Mungkin nanti akan menjadi kebisaan kita yang baru, membawa Galaxy Note 7 sambil mandi, dan ketika ide muncul segera mencatatnya :-D.

Menarik sepertinya bisa menuliskan ide-ide ini saat mandi, atau bahkan berkomunikasi di bawah air dengan tulisan. Untuk banyak orang yang pekerjaannya banyak bertemu dengan daerah yang basah, mungkin pedagang ikan, petugas riset biota air, pekerja saluran, penyelam, dll,  fitur bisa menulis dalam kondisi basah ini bisa menjadi fitur yang sangat berguna.

Sepertinya asa juga  yang bertanya, apa S-Pen yang baru memiliki flaw seperti S-Pen Galaxy Note 5 yang akan macet ketika dimasukkan terbalik, bagian belakang lebih dahulu? Jawabnya tidak, sekarang pada S-Pen yang baru jika dimasukkan terbalik akan tertahan otomatis saat baru saja dimasukkan kira-kira 1cm. Sebenarnya flaw ini juga sudah diperbaiki pada batch Galaxy Note 5 berikutnya.

Para artis, sketcher, akan menemukan hal baru di new S-Pen ini, pilihan brush untuk sketsa yang terdiri dari beberapa model kuas. Kelebihan mode brush yang sekarang adalah bisa mencampur warna meniru kondisi asli, misalnya saat kita memoleskan warna biru pada kanvas, kemudian dilanjutkan memoles warna kuning, maka pertemuan kedua warna ini akan menghasilkan warna kehijauan beserta efek pencampurannya, mirip seperti kita menggambar dengan cat air pada kertas. Setiap tekanan dan “adukan” S-Pen, mengubah komposisi warna yang terlihat, memungkinkan para artis menghasilkan sketsa dan lukisan yang hidup.

Disamping batang S-Pen ada tombol click kecil yang berguna untuk mengaktifkan menu air command. Tombol ini pada new S-Pen mendapat fungsi baru sebagai penghapus saat kita sedang membuat sketsa atau coretan. Fungsi penghapus ini sekarang sesuai gerakan ujung pena, hanya menghapus bagian yang dilewatinya. Tidak perlu repot lagi berganti menu memilih pena dan penghapus saat melakukan kesalahan oretan.

S-Pen yang baru  juga disiapkan untuk  memiliki fitur bukan hanya untuk mereka yang gemar orat-oret, menulis, atau membuat sketsa. S-Pen juga disiapkan untuk penggunaan umum. Menurut saya pengembangan fitur ini menarik, karena dari pengamatan dan berkenalan dengan Noters, para pengguna Galaxy Note series, tidak semua orang memanfaatkan fungsi S-Pen secara konstan, bahkan ada yang jarang sekali mengeluarkan S-Pen nya.

S-Pen memiliki 2 cara pemanfaatan, pertama ujung S-Pen bertemu dengan kaca layar untuk menulis, menggambar, sketsa, crop, dll,  kedua, ujung S-Pen hanya hovering, diletakkan mengambang berjarak beberapa milimeter dari atas kaca, tetapi sanggup memberikan perintah kepada beberapa aplikasi dibawahnya, misalnya melihat isi email tanpa membuka, melihat foto hanya dengan mendekatkannya ke atas gambar index, dll. Kemampuan hovering ini yang sekarang ditambahkan untuk S-Pen, yaitu:

#Translate

Internet dan isinya membuat batasan negara mulai kabur, termasuk bahasa dan tulisan. Terkadang banyak artikel yang kita ingin baca, seringkali terkendala pengertian bahasa. Bahkan bahasa Inggris pun seringkali masih banyak memiliki kata yang kita tidak mengerti sungguh. Pada menu air command S-Pen bisa kita tambahkan fitur translate, cukup hovering S-Pen diatas kata yang ingin kita terjemahkan, diatas kata tersebut akan dikeluarkan terjemahannya.

Sistem pengenalan huruf ini menggunakan teknologi OCR (Optical Character Recognation) dan menggunakan algoritma Google translate. 38 bahasa bisa dikenali dengan cara ini dan diterjemahkan ke dalam 71 bahasa. Setiap saat kita bisa mengganti menu pilihan bahasanya dengan mudah. Tidak hanya text kata-kata yang muncul dalam artikel, pengenalan kata ini juga bisa diterapkan pada gambar. Bahkan jika kita mengaktifkan kamera di depan sebuah buku atau plang yang mengandung tulisan, hovering diatas tulisan pada kamera bisa menterjemahkan kata-kata tersebut. Fitur translate ini sayangnya belum bisa menterjemahkan kalimat, baru kata per kata, dan membutuhkan koneksi internet untuk OCR nya. Bagusnya fitur pengenalan ini cepat dan cukup instan.

Mungkin ada yang bertanya, apa pentingnya fitur ini, karena google translate yang baru sekarang juga bisa pop up (tap to translate). Walau basicnya fungsi translate hovering ini menggunakan algoritma Google translate, cara menterjemahkannya lebih mudah dan cepat. Google translate membutuhkan kita mem-block kata dan copy, S-Pen langsung mengeluarkan terjemahan hanya dengan hovering diatasnya. Google translate “pop up” juga baru berjalan kalau kita menjalankan aplikasi translate ini di background, dan belum bisa berfungsi untuk foto atau gambar secara langsung.

Bagaimana dengan pengenalan tulisan tangan? Jika tulisan tangan bagus mirip text pada buku bisa dikenali, tetapi kalau tidak, OCR agak kewalahan. Saya rasa suatu saat ketika algoritma Google translate ini digabungkan dengan algoritma S-Pen yang bisa membaca tulisan tangan, fungsi translate ini akan semakin hebat pada updatenya nanti.

#Magnify

Sebenarnya fungsi kaca pembesar ini bukan hal baru, sudah lama ada aplikasi pihak ke-3 yang fungsinya mirip di play store. Tetapi ketika fungsi ini dibenamkan di S-Pen, saya merasakan manfaatnya. Cukup hovering S-Pen diatas layar, baik tulisan dan gambar akan diperbesar. Kita bisa memilih seberapa besar intensitas pembesarannya, hingga maksimal 300%. Banyak halaman web belum mobile friendly, dan sebagian halaman web tidak mendukung pinch to zoom. Membaca artikel di Flipboard menyenangkan, tetapi halamannya tidak bisa di pinch to zoom, terkadang disana ada gambar atau bagan yang kita ingin tahu detailnya, tetapi terlihat sangat kecil. Dengan fungsi magnify ini problem seperti diatas bisa dipecahkan. Bayangkan juga orang yang sudah tua dan mulai kesulitan melihat huruf-huruf yang kecil, sekarang dengan mudah bisa membacanya lagi, tanpa harus mengatur semua huruf diubah menjadi besar.

Saya sempat menggunakan dua device, smartphone dan tablet. Fungsi tablet labih banyak untuk membaca majalah atau koran, karena halamannya cukup besar. Tetapi lama kelamaan malas membawa tablet kemana-mana, cukup smartphone di dalam saku. Aplikasi S-Lime dari Samsung yang menawarkan koran cetak gratis seperti Kompas, Sindo, Media Indonesia dan banyak majalah, sangat menarik. Tetapi saya mulai berhenti membacanya sejak menggunakan smartphone only. Ada batas pinch to zoom yang menurut saya kurang besar untuk membaca tulisan sebuah koran kompas. Sebenarnya tulisan tersebut bisa dibaca karena resolusi layar yang tinggi, tetapi bagaimanapun saya akui, ketajaman mata tidak sebagus dulu untuk biasa melihat huruf-huruf kecil berjajar. Dengan fungsi magnifiy ini saya akan bisa lagi membaca koran dan majalah cetak di halaman Galaxy Note 7.

Hobi saya lainnya adalah membaca komik. Juga menyerah ketika membaca komik DC dan Marvel yang banyak memberikan bubble tulisan percakapan, yang  akhirnya terlalu kecil di layar smartphone. Pinch to zoom banyak membantu, tetapi akhirnya malas juga harus bolak balik membesar kecilkan gambar. Saya pikir fitur magnify ini akan sangat membantu membaca komik di layar smartphone. Disini salah satu keuntungan layar resolusi Quad HD juta terasa, ketika hovering S-Pen diatas layar dan dibesarkan hingga 300%, huruf-huruf tidak pecah dan tetap terlihat baik.

Nah saya terpikir juga untuk mereka yang sering bekerja dengan aplikasi office , sepertinya halaman excel yang tampil lengkap, hurufnya kecil-kecil dan kemudian dibaca dengan bantuan magnify dengan menggerakkan S-Pen di atas layarÂ… sepertinya ok ya, tidak perlu scroll sana dan sini lagi.

#Glance

Sewaktu menggunakan fitur Game Pack di Galaxy S7, dimana ketika bermain game bisa di pause dan di minimize menjadi icon – sementara mengerjakan hal lain dulu di smartphone -, dan bisa segera kembali lagi melanjutkan bermain game, saya merasa fungsi ini sangat menarik. Tidak perlu repot-repot buka recent app dan kemungkinan game ditutup otomatis setelah terlewat membuka banyak aplikasi lain.

Fungsi glance ini mirip, untuk mengintip aplikasi lain dan segera kembali ke pekerjaan kita. Misalnya teman mengirimkan foto catatan tangan berisi alamat atau perhitungan belanja. Kita ingin mencatatnya di notes. Ingatan kita sering pendek, dan membutuhkan berpindah aplikasi bergantian untuk mencatat bagian demi bagian. Memang sebelumnya di Samsung smartphone ada fungsi split screen, dimana layar dibagi 2 menampilkan 2 aplikasi berbeda. Tetapi tidak semua aplikasi bisa dibuat menjadi split screen. Dengan fitur glance aplikasi yang ingin diintip akan di minimize seukuran icon yang bisa digeser-geser.

Setiap S-Pen hovering diatas icon tersebut maka aplikasi tersebut ditampilkan penuh, ketika S-Pen digeser menjauh, aplikasi tersebut berubah lagi menjadi icon. Menurut saya fungsi ini lebih mudah daripada split screen untuk digunakan mencatat. Fungsi yang simpel tapi akan banyak berguna.

#Smart Select – Gif Animation

Jika kita orang yang kekinian, kita melihat bahwa sosial media dan chatting, bukan lagi sekedar membagi tulisan dan gambar, tetapi juga video dan gambar animasi (gif). Memang seringkali gambar diam saja tidak cukup untuk menjelaskan sesuatu, dan sebuah video terlalu panjang dan besar untuk dibagikan. Gambar animasi (gif) salah satu jalan tengah yang sekarang sedang di gandrungi untuk dibagi. Bahkan portal media sekarang mulai mengganti gambar diamnya dengan gambar animasi gif untuk memperkuat ilustrasi artikelnya.

Fungsi smart select sudah cukup lama ada sebagai fitur S-Pen yang powerful, untuk instan memotong gambar diam, dan sekarang dikembangkan fungsinya untuk video.

Cara menggunakannya sangat mudah, jalankan air command, pilih smart select dan pilih menu gif. Jalankan video, entah darimana pun sumbernya, apakah video yang kita simpan di memory card atau video streaming. Select area video yang ingin di capture, jadi kita bebas memilih memotong ukuran tampil video, tidak harus seluruh layar video, tetapi bisa mengambil bagian tengahnya atau bahkan ujungnya sesuka kita. Klik record pada bagian yang kita mau rekam dan ubah menjadi gif. Durasi terlama adalah 15 detik. Kita bisa memilih kualitas gif, standar atau high res. Kualitas high res ukuran resolusi dan file lebih besar kira-kira 2 kali lipat dari standar. Ketika saya coba, sebuah animasi gif dengan durasi 15 detik standar memiliki besar file 7MB, dan kualitas high res 16MB. Hasil convert gif ini bisa langsung di share ke berbagai aplikasi, misal email, social media maupun chat app.

Selain gif ini bisa untuk keperluan kerja, bagi mereka yang eksis di sosial media dan grup chat, akan banyak konten gif menarik yang bisa dibagikan, tidak lagi tergantung dan hanya men-share animasi buatan orang lain atau bergantung aplikasi gif maker di PC. Selain mengubah video menjadi gif, kita juga bisa menambahkan tulisan/oretan dengan S-Pen pada hasilnya untuk menambah keunikannya.

 

#Pinch – Screen Off Memo

Pada Galaxy Note 5 salah satu fungsi menarik adalah screen off memo, dalam keadaan layar mati, keluakan S-Pen dan kita bisa menulis instan diatas layar hitamnya.

Pada Galaxy S7 diperkenalkan fungsi Always On Display, dimana pada saat layar mati bisa ditampilkan gambar, jam, atau kalender, plus notifikasi yang selalu menyala di atas layar.

Pada Galaxy Note 7, kedua fungsi ini digabungkan, sekarang catatan penting yang sering kita tulis dalam kertas kuning post-it dan tempel di depan layar komputer atau meja kerja, bisa dilakukan di layar AOD Galaxy Note 7, cukup dengan menuliskan screen off memo dan pilih tanda pin. Maka pesan tersebut akan selalu ditampilkan diatas layar walaupun layar dalam keadaan mati (AOD). Tulisan ini akan ditampilkan sebagai AOD selama satu jam defaultnya, dan bisa diperpanjang. Always On Display yang sebelumnya menampilkan notifikasi tetapi tidak bisa di tap, sekarang bisa di tap, termasuk jika kita sedang memutar lagu, – play, pause, stop, next song, bisa dilakukan saat AOD untuk akses yang cepat dan tetap hemat daya karena tidak perlu menyalakan layar.

 

Iris Scanner

Saya sempat membuat survey kecil di Twitter, dari 4 bocoran yang baru di Galaxy Note 7, mana fitur yang paling menarik untuk orang-orang?. Ternyata hampir setengah memilih Iris Scanner.

Pada Galaxy Note 7 yang baru, ada 2 bundaran tambahan dibagian depan smartphone, sejajar speaker kuping. Pada bagian kiri adalah “lampu”  infra red bergelombang panjang, dan di sebelah kamera depan ada kamera iris scanner. Iris adalah bagian mata kita yang berwarna, yang melingkar mengelilingi pupil. Sebagai orang Asia, kebanyakan warna iris kita adalah coklat tua, kalau bule bisa hijau atau biru.

Ketika dinyalakan,  sinar infra merah sebenarnya menerangi mata kita. Efek sinar infra merah ini membuat mata dan sebagian muka kita ditamplikan di layar Galaxy Note 7 akan terlihat hitam putih atau seperti video di acara-acara pencari dunia lain. Sinar infra merah ini membuat kontras yang jelas dibagian iris, untuk lebih memudahkan iris scanner membaca polanya dan memastikan itu adalah benar pola mata kita. Infra merah ini juga yang memungkinkan kita tetap bisa menggunakan biometric security ini di tempat temaram. Sinar infra merah yang dikeluarkan memenuhi syarat keamanan, tidak akan bekerja jika mata terlalu dekat, atau dipancarkan terlalu lama. 

Harap dibedakan iris scanner dengan retina scanner. Kalau kita menonton film-film spionase seperti Mission Impossible dimana ada adegan mata diletakkan dekat pemindai, itu kemungkinan adalah retina scanner, membaca bagian retina dalam bola mata, tempat kita menerima cahaya untuk diterjemahkan menjadi gambar.

Saat perekaman pertama, akan terlihat di layar Galaxy Note 7 dimana mata kita harus diletakkan. Posisi terbaik untuk membacanya adalah tegak  lurus, jadi smartphone kita berada sejajar mata, hindari merekamnya dalam keadaan merunduk. Setelah iris kita terbaca 100%, fungsi security ini bisa digunakan. Mata yang sipit seperti mata saya, harus membelalakkan mata lebih besar agar bidang iris yang dibaca bisa lebih terlihat. Saat perekaman pertama sebaiknya kacamata dilepas, tetapi sesudahnya, walaupun kita berkacamata, iris scanner tetap dapat mengenali pola mata kita.

Unlock dengan iris ini cepat, cukup swipe layar, akan langsung terlihat layar terbagi dua, bagian atas untuk iris scanner dimana kita menempatkan posisi mata, dan bagian bawah adalah security backup, kita bisa memilih apakah menggunakan pattern atau pin. Semakin terbiasa, proses unlock ini akan semakin cepat, baru saja layar di swipe kunci sudah terbuka, karena kita sudah terbiasa dan tahu menempatkan posisi smartphone terhadap muka yang pas. Iris scanner membutuhkan jarak yang cukup, sekitar 20-30 cm antara smartphone dengan mata, posisi yang sama kebanyakan orang ketika membaca smartphone. Fungsi ini tidak bisa dilakukan jika jarak mata terlalu dekat dengan layar smartphone.

Tentu saja fingerprint scanner tetap ada di Galaxy Note 7. Iris scanner ini sebagai alternatif biometric security yang lebih advance dan lebih secure dibanding fingerprint. Tingkat kesalahan fingerprint sekitar 1:100.000 sedang iris scanner 1:1-2jt. Jadi kira-kira 10-20 kali lebih tidak mudah salah. Kemudian sidik jari kita rentan berubah karena jari senantiasa bersentuhan dengan banyak barang, bahkan sering terluka. Ini sebabnya 6 bulan sekali sebaiknya perekaman sidik jari diulang, karena sidik jari kita bisa mengalami perubahan.

Pada Iris mata, dilindungi lapisan “gelembung” kornea yang tebal, sehingga dalam 10-20 tahun jarang terjadi perubahan pola pada iris. Ada sekitar 240 kode unik pada iris mata, yang lebih kompleks dibanding fingerprint. Fingerprint saat ini sudah terbukti bisa dipalsukan, dengan cetakan sidik jari pada bahan lentur, sedang iris scanner jika dicopot bola matanya-pun tidak berguna, karena kondisi mata harus hidup baru bisa dibaca. Saya belum sempat mencoba apakah iris scanner ini bisa dibohongi dengan foto mata yang jelas, tetapi melihat kondisi bola mata harus hidup, sepertinya cara ini tidak akan berguna. Nanti kita coba lakukan eksperimen lanjutan.

Walaupun tingkat security belum tentu dianggap penting untuk semua orang, setidaknya iris scanner ini memberi kemudahan lain. Saat jari kita kotor, misal sedang makan atau bekerja dengan mesin, sidik jari yang berminyak tidak bisa lagi dibaca fingerprint. Iris scanner memberi kemudahan ini, cukup dengan menatap ke arah smartphone. Sekarang ini device kita dipenuhi informasi pribadi yang riskan jika tidak dikunci dengan sistem keamanan. Memasukkan pin dan pattern, dirasa sudah terlalu lambat untuk akses, dan mudah diingat oleh orang yang ikut melihat saat kita meng-inputnya.

Pengembangan dari security khusus Samsung yang dinami KNOX, pada Galaxy Note 7 disediakan palikasi yang dinamai secure folder, dimana kita bisa menyimpan foto, sms, email, dll, yang kita anggap private kedalam folder khusus, yang membutuhkan otentifikasi sebelum bisa diakses. Supaya saat device kita dipinjam teman atau anak, ada bagian-bagian data private kita, jangan sampai tidak sengaja terbuka dan terlihat.

Pada secure folder yang sama ini, bisa kita tambahkan aplikasi juga, misalnya Whatsapp, BBM, dll, sehingga dalam satu device kita bisa memiliki dua akun BBM atau WA yang berbeda. Misal satu akun digunakan untuk keperluan kerja, satu lagi untuk keperluan pribadi.

Bagi para pemilik Samsung Galaxy lain yang sudah support KNOX, bisa melakukan hal yang mirip dengan menginstall aplikasi Samsung My Knox di playstore disini 

Secure folder ini bisa dikunci dengan biometric security, baik fingerprint atau iris scanner, sehingga lebih cepat diakses dibanding via PIN atau Password.

Selain unlock screen dan secure folder, iris scanner juga bisa digunakan untuk otentifikasi web sign in, misal internet banking. Username dan password internet banking bisa kita gantikan dengan iris scanner. Web sign in ini juga berlaku untuk pembayaran play store atau log in social media atau web yang menerapkan login.

 

Spesifikasi

Jika membandingkan dengan Galaxy Note 5 sebelumnya, ada banyak peningkatan spesifikasi. Tetapi karena Galaxy S7 sedang hit, banyak yang membandingkan spesifikasi Galaxy Note 7 malah dengan Galaxy S7. Jika dibandingkan dengan Galaxy S7 apalagi S7edge, tidak ada perubahan spesifikasi utama, baik prosesor, besaran RAM, resolusi layar, kamera, dll. Paling kentara adalah perubahan pada ukuran memory internal. Galaxy Note 5 dan S7 untuk Indonesia, sama-sama memiliki internal 32 GB, sedangkan Galaxy Note 7 memiliki kapasitas 64GB internal storage, 2 kali lipat. Keberadaan eksternal storage atau slot memory card upto 256GB, membuat Galaxy Note 7 terlihat lebih menarik dibanding Galaxy Note 5 yang hanya memiliki internal storage 32GB.

Sebagian orang menanggap tidak ada perubahan penting di Galaxy Note 7 ketika membandingkan dengan Galaxy S7, karena dalam benak mereka, harusnya ada perubahan besar dari jenis prosesor. Padahal kalau kita merunut ke belakang, Galaxy Note 5 secara spesifikasi juga tidak berbeda prosesornya, kamera, dll, dibanding Galaxy S6, hanya ada peningkatan jumlah RAM dari 3GB ke 4GB.

Penjelasan mengapa Galaxy Note sekarang dinamai Galaxy Note 7 dan skip angka 6, memperjelas posisi device Galaxy Note series. Menurut Samsung supaya seri S dan seri Note seimbang namanya, dan tidak ada yang menganggap angka yang lebih kecil lebih less powerful dibanding angka yang lebih besar. Jadi memang posisi Galaxy Note 7 secara spesifikasi mirip dengan Galaxy S7 dengan beberapa kelebihan fitur baru.

Seberapa cepat Galaxy Note 7 ? Bocoran AnTuTu benchmark score nya kira-kira 143.000. Sedikit diatas score Galaxy S7 yang berkisaran 135.000, dan cukup jauh dibanding Galaxy Note 5 yang berada di kisaran 90.000. Dengan angka ini, Galaxy Note 7 akan masuk jajaran papan atas device-device  dengan komputasi tercepat.

Ini perbedaan spesifikasi Galaxy Note 5 dan Galay Note 7. (Sebagai catatan OS yang tercantum adalah OS saat device tersebut keluar. Sekarang ini Galaxy Note 5 sudah update ke OS marshmallow 6.0.1

 

 

Jika membandingkan dengan Galaxy S7, banyak orang berharap untuk melihat apa yang dilakukan Samsung dengan RAM 6GB,  jika benar penambahan jumlah RAM ini kesampaian di Galaxy Note 7 seperti bocoran sebelumnya. Pernyataan ini sepertinya terjadi setelah mereka melihat produk OnePlus 3, ternyata saat pertama di release, “gagal” me-manage RAM 6GB dengan baik.

Namanya konsumen seringkali memang tidak memperdulikan butuh atau tidak butuh, tetapi kalau bisa ada kenapa tidak? Ini analoginya mungkin mirip dengan kita memilih kendaraan. Setiap hari walau kita senantiasa pergi seorang diri atau berdua saja, tetapi tetap memilih mobil sekelas Kijang yang sanggup menampung 7 orang atau lebih. Sebagian besar saat dipergunakan, ruang yang ada dibiarkan kosong, tapi kita senang memikirkan suatu saat kita bepergian dengan keluarga yang datang atau teman-teman, kendaraannya siap. Kita tidak lagi memikirkan konsumsi bahan bakar, area parkir dan garasi.

Saya sendiri berpendapat, kebutuhan RAM memang makin lama akan sampai lah kepada standar 6GB, seperti sekarang kebanyakan device kelas atas sudah memiliki RAM 4GB. Ini dikarenakan semakin lama setiap aplikasi semakin berkembang dan membutuhkan ruang RAM yang besar. Tidak perlu berpikir game 3D kompleks, tetapi kita ambil contoh saja aplikasi chatting dan sosial media, semakin lama fungsinya bertambah, dulu hanya teks, kemudian bisa menerima gambar, kemudian bisa video, sticker, gambar animasi, berkirim file, grup chat, dll, yang akhirnya akan menempati ruang RAM lebih besar. Setiap aplikasi yang “standby” di RAM bisa di load dengan cepat, tetapi sebenarnya seberapa banyak aplikasi yang kita butuhkan untuk standby di RAM?

Ketika aplikasi yang sudah tidak kita butuhkan senantiasa ada di RAM, efeknya adalah konsumsi baterai. Aplikasi tersebut tetap jalan di background dan mengkonsumsi daya. Dengan RAM yang sangat besar, puluhan aplikasi yang sebagian besar tidak akan kita panggil lagi dan butuhkan, tetap berjalan di belakang. Sedangkan dengan RAM yang optimal atau cukup, aplikasi-aplikasi yang sudah tidak perlu disentuh akan ditutup dengan sendirinya digantikan aplikasi baru yang membutuhkan RAM.

“With great power comes great responsibility”, begitu kita dengar quote uncle Ben di Spiderman, jadi kalau RAM besar ini tidak bisa di manage dengan baik, hanya akan sia-sia.

 

#USB Type-C

Spesifikasi yang terasa baru di Galaxy Note 7 adalah perubahan port, dari micro USB ke USB Type-C. Sementara ini sudah banyak device android menggunakan port USB Type-C, yang sebentar lagi sepertinya akan menggantikan keberadaan micro USB. Sama halnya dulu ketika kita berganti dari mini USB ke micro USB. Secara bentuk, USB Type-C ini mudah dalam pemasangan, bagian atas dan bawahnya simetri, sehingga tidak peduli di colokkan terbalik, berbeda dengan micro USB yang tidak boleh terbalik. USB type-C pada Galaxy Note 7, secara fungsional, bisa mengantarkan data yang lebih cepat, karena sudah mendukung USB 3.0. Sementara itu kecepatan fast charging Galaxy Note 7 tidak berbeda dengan Galaxy S7. Pada paket retail, Samsung juga menyertakan converter dari micro USB ke USB-Type C, untuk memudahkan kita yang masih banyak memiliki asesoris berstandar micro USB.

#HDR

Ternyata tidak semua layar support untuk menampilkan High Dynamic Range video. Kebanyakan film-film yang dibuat dengan kamera yang baik, saat ditampilkan akan menurun kualitas nya, karena layar yang tidak sanggup menampilkan kedalaman warna dan kontras yang sesuai dengan film yang direkam. Hasilnya sebagian detail tidak tampak karena grouping warna dan kontras yang salah.

Tahun kemarin pembuat konten berlomba-lomba menaikkan resolusi ke 4K, tahun ini pembuat konten berlomba menaikkan kualitas film, supaya ketika ditampilkan di layar yang mendukung, terasa seperti saat tampil di cinema. Kualitas ini akan dikenal dengan dengan sebutah HDR movie atau video. Amazon, Youtube dan Netflix sudah memulai film-film dengan format HDR ini. Jika sementara ini konten-konten kita belum mendukung HDR, tetap ada menu untuk meng-enhance tampilan video, agar tampil lebih baik, termasuk video dari Youtube.

Samsung membenamkan chip khusus yang dinamai mDNIe, mobile digital natural image engine, yang mengatur image processing, untuk bisa mensupport layar Galaxy Note 7 menampilkan konten HDR video, seperti yang dimiliki  layar televisi high-end HDR saat ini. Kita tunggu uji dan komentar dari  displaymate, akankah menganugerahkan layar Galaxy Note 7 sebagai layar smartphone terbaik? (*update: beberapa jam kemudian setelah artikel ini direlease, Displaymate mengeluarkan hasil ujicoba test layar Galaxy Note 7, yang saya tambahkan di bagian bawah)

 

#Power Saving.

Untuk versi high-end, Samsung ini senantiasa unik, berbeda cara pendekatan dengan smartphone lain, terutama keluaran Tiongkok yang tidak segan-segan membenamkan kapasitas baterai sangat besar untuk mengejar daya tahan baterai. Samsung senantiasa mengejar daya tahan dengan teknologi efisiensi, apakah membenamkan prosesor yang berkinerja irit daya, RAM, layar, dll.

Baterai Galaxy Note 7 berkapasitas 3500 mAh, 500 mAh lebih besar dari Galaxy Note 5, tetapi 100 mAh lebih kecil dibanding Galaxy S7edge. Walau Galaxy Note 7 lebih tebal sedikit, hanya 0.2mm dibanding Galaxy S7edge, keberadaan silo untuk stylus dan tambahan digitizer dibawah layar untuk S-Pen, membuat kapasitas baterai tidak bisa bertambah banyak, belum lagi ditambah lengkung dibagian belakang Galaxy Note 7 lebih curam, yang memperkecil area untuk meletakkan baterai. Sehingga rasanya dengan keterbatasan tersebut masih bisa membenamkan baterai 3500 mAh, bisa dikatakan device ini  di desain yang baik.

Walau terasa memang lebih mudah korbankan sedikit ketebalan demi membesarkan kapasitas baterai, ada bagian-bagian desain yang tidak boleh di kompromi oleh team Samsung sekarang ini. Untuk tetap bertahan lebih baik dengan kapasitas baterai yang ada, Galaxy Note 7 memperkenalkan power saving yang baru, yang bisa di custom, bukan hanya menurunkan kinerja prosesor dan kecerahan layar,  ditambahkan fitur down-scaling resolusi layar, dari Quad HD (2560×1440) ke Full HD (1920×1080) pada settingan medium, dan ke HD (1280×720) untuk setting max, karena semakin rendah resolusi layar, semakin irit daya yang digunakan untuk menyalakannya.

Seberapa jauh kemampuan power saving ini, akan kita test nanti ketika sudah memegang unit retail resmi.

 

GraceUI, new TouchWiz

Sudah cukup lama banyak pro kontra dengan UI (user interface) dari Samsung yang dinamai touchwiz. Banyak yang beranggapan UI ini terlalu berat, banyak bloatware. Sebenarnya UI dari Samsung ini banyak memberi ide dan masukkan, fitur apa yang berguna dan sebaiknya ada pada pure android OS. Fitur terakhir yang sudah cukup lama ada di touchwiz dan akan muncul di android OS Nougat, salah satunya adalah fitur split screen. Semakin lama, OS android semakin lengkap dan semakin baik, dengan demikian banyak fitur yang dulunya “perlu” ditambahkan dalam bentuk UI, sekarang sudah tidak perlu lagi. Pada Galaxy S7, sebenarnya sudah terlihat touchwiz yang lebih mature dan berani menghilangkan banyak fitur yang dianggap hanya gimmick dan tidak diperlukan lagi. Beberapa aplikasi yang dulu default ada bawaan Samsung, misalnya music app, sekarang sudah tidak menjadi default. Aplikasi ini baru ada jika kita mau mendownloadnya di Samsung app store.

Grace UI (grace ini sebenarnya code name dari Galaxy Note 7) diperkenalkan sebagai touchwiz yang baru, yang sekarang terlihat lebih clean dan simple. Icon-icon lebih flat, background yang bersih, dimensi icon dan menu yang lebih seimbang, dan kustomisasi yang bisa dirangkai lebih jauh oleh pengguna, bukan lagi sebatas tema, tetapi juga icon dari pihak ke-3.

Menu kamera bisa menjadi salah satu contoh perubahan dari UI tersebut. Semua menu yang dulu harus di tap dan membutuhkan kerja 2 tangan, sekarang dapat diakses dengan satu tangan. Swipe ke atas dan bawah untuk berganti kamera belakang dengan kamera depan, swipe ke kiri dan kanan untuk mengakses berbagai mode kamera sampai efek kamera.

Butuh waktu untuk mencoba dan bisa bercerita lebih detail tentang new touchwiz UI ini, jadi akan kita update nanti setelah unit retail resminya bisa dicoba.

 

Penutup

Walau kita senantiasa berharap setiap flagship adalah lompatan jauh dari sisi teknologi, terkadang kita terkungkung, saat melihat lompatan ini hanya sebatas spesifikasi, seberapa lipat kecepatan prosesor, seberapa besar naiknya angkar RAM, seberapa tinggi resolusi layar, seberapa banyak memori penyimpan data. Permintaan ini akhirnya dikejar banyak vendor, dengan sebisa mungkin menaikkan semua angka ini sebagai prestise dari produk terbarunya. Tingginya angka-angka ini kalau kita pehatikan mudah sekali dikejar. Banyak brand memiliki spesifikasi prosesor, besaran RAM, resolusi, yang sama dengan brand lain. Hari ini brand A paling tinggi spesifikasinya, berbeda beberapa minggu saja akan disamai oleh brand B. Smartphone hi-end sekarang bisa dikatakan sudah sangat mumpuni spesifikasinya, jauh meningkat dibanding produk 3-4 tahun yang lalu. Walau kita tidak menutup mata masih akan banyak task atau pekerjaan berat yang nantinya bisa dikerjakan cukup melalui smartphone dengan spesifikasi yang lebih tinggi, ada baiknya diferensiasi mulai terlihat dengan banyaknya fitur yang lebih bisa benar-benar memudahkan dan membantu kita, baik untuk bekerja, bersosialisasi, bahkan bermain dengan lebih mudah. Bahasa mudahnya, kiranya smartphone benar-benar menjadi alat bantu yang berguna, yang sebisa mungkin menggantikan banyak task yang sebelumnya hanya bisa dan nyaman di kerjakan oleh berbagai device lain, misalnya PC. 

Samsung dengan Galaxy Note seriesnya, sejak awal memberi diferensiasi dua flagship yang berbeda dengan seri S. Terkadang diferensiasi ini tidak terlihat dari brand lain, hanya sekedar lebih besar lebih powerful. Diferensiasi ini terlihat dari keinginan Note series untuk menjadikan smartphone sebagai alat bantu pekerjaan yang lebih serius sekaligus menjembatani kreativitas. Saya menyukai langkah ini tetap dipertahankan sampai Galaxy Note ke 7, dengan masih bertambahnya fitur yang bisa memudahkan beragam aktivitas yang kita lakukan dengan sebuah smartphone.

Walau kita di Indonesia mungkin belum segera merasakan benefitnya, menyiapkan layar untuk mendukung HDR video, membuat kita bisa mengapresiasi langkah vendor yang siap mengantisipasi teknologi yang akan datang. Ini cukup menunjukkan ada upaya yang serius dari team R&D nya untuk menyiapkan standar baru kemampuan sebuah flagship.

Layar lengkung dan lebih komplitnya fungsi smartphone dengan tambahan S-Pen, bisa jadi malah membuat Galaxy Note sebagai seri yang lebih unggul dibanding seri S sebelumnya. Desain yang sama cantik dan ergonomis, aplikasi khusus edge panels yang sama hebat dengan seri S, plus diperkuat S-Pen, bisa menjadi nilai tambah seri Galaxy Note 7 dibanding seri Galaxy S7edge.

Kita coba lihat, apakah kehadiran Galaxy Note 7 bisa mengalahkan hype nya Galaxy S7edge, yang baru dinobatkan sebagai smartphone android yang paling laku di dunia, di paruh pertama tahun ini.

Oh ya, untuk Indonesia spesifikasi slot SIM nya lebih menarik lagi, sama dengan Galaxy S7, tersedia slot hybrid untuk kita bisa memilih menggunakannya sebagai dual SIM atau single SIM plus Memory Card. Atau kalau kita tahu triknya seperti banyak dijelaskan caranya di Youtube, kita bisa menjadikannya sebagai perangkat dual SIM plus memory card. Menarik!

——–

*Update: hasil uji test dari Displaymate

Saya sarikan saja isi penjelasan teknis displaymate yang panjang itu disini:

– Galaxy Note 7 menjadi smartphone pertama yang memiliki dual ambient sensor depan dan belakang.
Ambient sensor, yang menganalisa seberapa terang suasana di sekeliling smartphone, kemudian mengkompensasikan tingkat auto brightness layar agar sesuai dengan kondisi tersebut, misalnya saat malam gelap, brightness mengecil agar mata tidak sakit, saat dibawah matahari, brightness membesar agar layar tetap mudah dibaca.
Biasanya ambient sensor ini hanya ada 1 di depan. Bukan perkara mudah mengatur autobrightness, banyak device tidak tepat mengatur autobrightness, saat gelap terlalu terang, saat butuh terang dia agak dim,  sehingga perlu kita bantu setting secara manual, bahkan smartphone Sony pun baru terakhir memiliki mode auto brightness.
Kata Samsung, ambient sensor di depan kadang terhalang bayangan kita sendiri sehingga tidak akurat, makanya ditambahkan lagi satu sensor di belakang, supaya lebih akurat.
– Sudah cukup lama layar Super Amoled dari Samsung bisa di adjust untuk “memimik” bermacam gamut atau panduan standar warna. Sebelumnya ada :
Adaptive display yang menyesuaikan warna layar dengan ambient sekitar, misalnya jika dibawah lampu kuning, bagaimana warna putih tetap akan tampil putih bukan kuning.
AMOLED Cinema, untuk menonton film
AMOLED photo, untuk menampilkan foto dari kamera hi end yang mendukung standar Adobe RGB agar warna yang ditampilkan tepat.
Basic, untuk memimik warna layar LCD
Sekarang di Galaxy Note 7 dengan bantuan chip mNDIe, memiliki color gamut yang baru DCI-P3 , Digital Cinema Initiative, yang sekarang menjadi standar gamut televisi UHD . Selain untuk Digital Cinema, standar ini juga bagus untuk aplikasi2 imaging.
Menurut Displaymate, layar Galaxy Note 7 bisa mencapai 97% standar gamut DCI-P3 yang bisa dikatakan kualitasnya lebih bagus daripada TV 4K UHD kita di rumah (kalau punya :-D)
– Dalam mode display Basic yang memimic layar LCD, layar Galaxy Note7,  104% memenuhi standar sRGB, dengan ini layar Galaxy Note 7 dalam mode basic bisa dikatakan lebih baik dari kebanyakan layar HDTV, Laptop dan PC kita di rumah.
– Ketika automatic brightness dinyalakan dan dibawa ke tempat yang terang, layar Galaxy Note 7 sanggup menghasilkan brightness 1048 nits atau cd/m2. Ini kira2 sama terangnya dengan 1048 lilin diletakkan dalam satu area 1m x 1m atau 1m2. Dalam marketing Samsung, TV bisa mencapai teknologi HDR jika sanggup memiliki kecerahan sampai 1000 nits. Nah ini mungkin smartphone pertama yang layarnya bisa seterang televisi hi-end.
– Desain pixel layarnya yang oleh Samsung dinamai Diamond Pixel menurut Displaymate unik, karena terdiri dari pixel dan sub pixel, yang membuat kerapatan layar Quad HD 518 ppi nya terlihat sangat tajam, sehingga walaupun kita punya mata normal sehat yang disebut 20/20 vision, tidak akan bisa melihat titik pixelnya. Layar mobile resolusi 4K katanya menjadi percuma dan marketing gimmick saja, karena di layar Galaxy Note 7 pun sudah tidak bisa melihat pixelnya dan tidak akan berbeda dengan layar 4K diukuran layar tersebut.
(Ah kami tetap berharap next Galaxy punya layar 4K , untuk digunakan di Gear VR :-))
Jadi konklusi akhir kata Displaymate tentang layar Galaxy Note 7:

The Best Smartphone Display

The Galaxy Note7 provides many major and important state-of-the-art display enhancements, with mobile OLED display technology now advancing faster than ever. The Galaxy Note7 is the most innovative and high performance Smartphone display that we have ever tested. It leapfrogs the displays on the Galaxy Note5 and Galaxy S7 to become the Best Performing Smartphone Display ever!

http://www.displaymate.com/Galaxy_Note7_ShootOut_1.htm#Table
Exit mobile version