Site icon Lucky Sebastian

Redmi 5, mungkin pilihan lebih baik dari Redmi 5 Plus ?

Pembuka – Pemahaman Kita akan Spesifikasi

Seperti menganggap CC mesin lebih besar lebih baik, demikian pengertian kita tentang smartphone dibesarkan. Bukan hal mudah memang mengerti tentang spesifikasi smartphone secara menyeluruh, apa peran tiap bagiannya. Tidak semua bagian dan fitur smartphone terukur dengan jelas, banyak bagian yang bertalian juga dengan nilai yang subjektif di dalamnya. Akhirnya banyak dari kita hanya bergantung dengan angka-angka, karena angka-angka ini lebih mudah dimengerti untuk dibandingkan. Angka hasil benchmark, angka mega pixel kamera, angka tipe prosesor dan lain sebagainya.

Kebutuhan setiap orang akan smartphone sebenarnya berbeda-beda, sangat kustom, terhadap bagaimana cara mereka menggunakan smartphone, dan apa kebutuhan utamanya. Tentu saja semua berharap smartphone-nya bisa melakukan apa saja,  seperti yang ditawarkan smartphone flagship, tetapi ada satu batasan terbesar lainnya adalah budget.

Budget disini bukan berarti hanya keterbatasan dana yang mereka miliki untuk memiliki sebuah smartphone, tetapi bisa juga sejauh mana mereka menganggap smartphone penting, sehingga memberikan mereka batasan berapa budget yang rela mereka keluarkan untuk sebuah smartphone. Ada yang merasa smartphone sangat penting, sehingga harga smartphone flagship yang biasanya tinggi, seharga motor, lebih mahal dari notebook, tidak menjadi masalah. Ada yang merasa untuk mereka smartphone memang perlu, tetapi menganggap harga yang pantas dikeluarkan untuknya terbatas.

Setiap saat kita sekarang “dihujani” berbagai smartphone model baru, begitu banyaknya sehingga kita juga sering dibuat bingung, mana yang baik dan cocok untuk kita. Apalagi pertempuran smartphone di harga budget sangat-sangat ramai. Semua jurus dikeluarkan oleh banyak vendor untuk memikat pembeli, salah satunya menyorot spesifikasi yang dianggap terbaik dari harga yang ditawarkan. Tidak mudah memilih smartphone mid-end dengan budget yang sesuai.

Terkadang kita juga bingung, dari satu brand saja, tipe smartphone mana yang cocok dengan budget kita, kadang pilhan harganya juga dekat-dekat. Semua tergoda dengan angka-angka spesifikasi, yang kadang membuat orang tidak yakin dari budget yang dimilikinya, apakah lebih baik memaksa menambah lebih untuk mendapat device lain, atau sebenarnya pilihannya sudah tepat.

Untuk sebagian besar pengguna smartphone budget, harga yang berbeda beberapa ratus ribu rupiah sangat berarti, seringkali mereka juga dilema, apakah membeli smartphone sesuai budget mereka, atau menambah sekian ratus ribu untuk memilih tipe di atasnya. Seringkali masalahnya budget tambahan ini memang benar-benar tidak ada, dan banyak orang merasa setelah membelinya, apakah pilihannya sudah tepat?

Semenjak Xiaomi Redmi 5A diluncurkan, smartphone budget ini menjadi sangat menarik, karena harga yang murah dan spesifikasi yang cukup di kelasnya. Bahkan banyak orang rela menambah hingga 50% diatas harga aslinya untuk mendapatkan device ini, karena hype terjadi.

Penerusnya Redmi 5 dan Redmi 5 plus pun menjadi fenomena yang menarik, berbeda dengan Redmi 5A yang hanya satu pilihan, kali ini konsumen dihadapkan dengan 2 pilihan yang cukup berdekatan secara harga. Keduanya tentu saja memiliki spesifikasi yang lebih baik dibanding Redmi 5A sebelumnya, tetapi sekali lagi angka-angka spesifikasi diantara 2 device ini melahirkan pandangan yang menarik, banyak orang menyangka Redmi 5 plus jauh di atas Redmi 5.

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, tampak belakang

Dalam penggunaan prosesor, Redmi 5 plus menggunakan Snapdragon 625 yang terkenal, dianggap sebagai prosesor mid-end terbaik, dan Snapdragon 450 yang diusung Redmi 5, (walau lebih baik dibanding Prosesor Redmi 5A, Snapdragon 425) dianggap tidak berkelas. Padahal Snapdragon 450 dan Snapdragon 625 ini prosesor yang sama persis, hanya berbeda clock speed saja, dengan konfigurasi yang sama. Snapdragon 450 dengan max clock speed 1,8 GHz, sementara Snapdragon 625 dengan max clock speed 2.0 GHz, hanya selisih sedikit.  

Banyak orang terlena dengan angka dan lupa, bahwa masih ada faktor lain yang menentukan kinerja sebuah smartphone. Sayapun tanpa pikir panjang dulu berpikir seperti ini ketika dua prosesor ini diperkenalkan, angka 4 dan 6 sepertinya beda kelas yang signifikan, sampai saat berkesempatan ngobrol dengan staff Qualcomm, ia meminta saya melakukan test untuk membuktikannya.

Saya mengingat lagi obrolan lama ini, dan melihat Redmi 5 dan Redmi 5 Plus menjadi device yang sangat tepat untuk melakukan test ini, dan ini, saya bagikan hasilnya.

Untuk test kali ini kita menggunakan perbandingan 2 smartphone dari Xiaomi :

Redmi 5 dengan RAM 2 GB dan Internal 16 GB, Layar 5.7” resolusi HD+, harga saat launching Rp 1.7 Jt rupiah

Redmi 5 Plus dengan RAM 3 GB dan Internal 32 GB, Layar 5.99” resolusi Full HD+, harga saat launching Rp 2.2 Jt rupiah.

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, Tampak Depan

Benchmark!

CPU speed, Geek Bench 4

Secara teori, walau menggunakan arsitektur yang sama Arm Cortex A53, Snapdragon 625 dengan 8 inti pada Redmi 5 Plus yang bisa berjalan maksimum di 2.0 GHz akan lebih cepat dibanding Snapdragon 450 pada Redmi 5 dengan maksimum di kecepatan 1.8 GHz.

Hasil test dengan aplikasi CPU Benchmark Geekbench 4 membuktikannya.

Single Core atau kinerja 1 core tercepat dari Redmi 5 tercatat 767 , sementara Redmi 5 Plus 877.

Untuk kinerja multi core, Redmi 5 mencatat skor 3534 sementara Redmi 5 Plus 4305.

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, Geekbench4 CPU Benchmark

 

AnTuTu v.7

Benchmark yang paling banyak digunakan sebagai patokan kecepatan smartphone yang beredar di Indonesia ini mengukur CPU, GPU, Memory, dan UX

Dengan clock prosesor yang lebih kencang hasilnya Redmi 5 plus memiliki skor yang sedikit lebih besar 76.069 dan Redmi 5 di 69.729. Perbedaan 6000 poin di benchmark AnTuTu bukan perbedaan yang besar, karena ada faktor UX yang harusnya mirip-mirip saja, dan pengukuran hasil memory Redmi 5 yang kita gunakan akan kalah poin karena menggunakan RAM yang lebih kecil 2GB dibanding 3GB pada Redmi 5 plus. Yang menarik justru perbedaan angka di GPU, walaupun tidak banyak. Untuk itu kita memerlukan uji grafis yang lebih khusus untuk mendapatkan hasil performa GPU yang lebih detail.

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, AnTuTu v7

 

Grafis

Secara spesifikasi, tidak ada perbedaan chip grafis pada Snapdragon 450 di Redmi 5 dan Snapdragon 625 di Redmi 5 Plus, keduanya sama menggunakan GPU Adreno 506.

Perbedaannya pada Redmi 5 Plus chip grafis ini harus men-tenagai layar dengan resolusi yang lebih tinggi FHD+ 2160 x 1080, sementara Redmi 5 hanya HD+ 1440 x 720. Seperti mesin yang lebih besar tetapi harus mentenagai body yang lebih besar, kemungkinan Redmi 5 bisa jadi malah lebih unggul di sini. Untuk itu kita coba lihat dalam 2 benchmark yang lebih khusus menitikberatkan pada kemampuan grafis.

Redmi 5 mencatat skor 803 untuk sling shot dan 808 untuk sling shot unlimited, sementara Redmi 5 plus mendapat skor 853 dan 859. Perbedaan angka grafisnya tidak banyak, karena pada benchmark ini masih ada physics skor yang melibatkan CPU.

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, SlingShot

Untuk melihat bagaimana pengaruhnya GPU yang sama dengan resolusi layar, kita beralih ke benchmark grafis berikutnya

Benchmark yang sering disebut sebagai test grafis untuk para gamer ini mengandalkan kemampuan grafis untuk menghasilkan sebanyak mungkin render frame pada satu waktu, yang sering dikenal sebagai FPS (Frame Per Second)

Disini terlihat pada angka yang diberi kotak merah, uji car chase, ketika resolusi layar berperan, FPS yang dihasilkan Redmi 5  6.8 fps, sementara Redmi 5 Plus 3.4 fps. Dengan GPU yang sama dan resolusi layar yang lebih kompak, Redmi 5 terlihat bisa menghasilkan fps 2x lebih baik. Jika kita memperhatikan kotak biru, pada car chase off screen, yang berarti resolusi layar tidak dihitung, angka skor menjadi mirip.

Pada test berikutnya seperti Manhattan dan T-Rex, kita lihat setiap kondisi real dimana resolusi layar disertakan, Redmi 5 malah bisa menghasilkan angka fps yang lebih baik.

Hasil uji ini memperlihatkan, bagi para penggemar game yang memilih smartphone budget, Redmi 5 bisa menjadi pilihan yang lebih menarik karena bisa menghasilkan fps rata-rata 2 kali lipat dibanding Redmi 5 plus.

Dari uji ini terlihat, GPU chip grafis yang sama antara kedua smartphone, Adreno 506, bekerja lebih optimal untuk layar Redmi 5 yang beresolusi HD+, dan lebih berat untuk mentenagai Redmi 5+ yang layarnya 2x lipat lebih rapat.

 

Penggunaan sehari-hari.

Dalam mengukur penggunaan sehari-hari, sebenarnya setiap orang bisa sangat berbeda-beda berdasarkan apa yang mereka lakukan dengan smartphonenya. PC Mark membuat sebuah benchmark yang dinamai PC Mark Work 2.0, mengukur productivity benchmark. Dianggap setiap orang setiap hari penggunaan standar smartphonenya adalah untuk browsing, membuat atau meng-edit dokumen (office), edit foto / video, dan data manipulation yang diterjemahkan sebagai swipe dan zoom gesture jari pada layar. Test ini melibatkan banyak bagian dari SoC atau prosesor, seperti CPU, GPU, memori, dan lain sebagainya. Hasilnya dibuat dalam angka skor.

Redmi 5 mencatat angka 4688 dan Redmi 5 plus sedikit lebih tinggi di angka 5023.

 

Dari hasil test ini, yang menarik Redmi 5 malah unggul di hasil video editing, dimana video editing biasanya membutuhkan kemampuan smartphone yang lebih baik.

 

Daya Tahan Baterai

Smartphone mid-end sekarang seringkali kapasitas baterainya di atas smartphone hi-end, angka 3000 mAh sepertinya sudah menjadi batasan minumum sekarang. Untuk menentukan daya tahan smartphone, kita sering hanya memperhatikan satu aspek, seberapa besar kapasitas baterai yang di bawa.

Ini seperti membandingkan truk dengan mobil keluarga, kapasitas tanki bahan bakar truk pasti lebih besar, tetapi apakah jarak tempuhnya dijamin lebih jauh dibanding mobil keluarga yang memiliki tanki bahan bakar lebih kecil?

Begitu juga dengan smartphone, kapasitas baterai harus dilihat juga lebih menyeluruh akan digunakan untuk mentenagai apa. Layar yang memiliki resolusi lebih tinggi, prosesor yang lebih kencang, tipe memori, fabrikasi prosesor, OS, dan lain sebagainya bisa menentukan irit atau tidaknya baterai smartphone.

Redmi 5 dilengkapi baterai Li-po 3300 mAh, sementara Redmi 5 Plus dengan baterai 4000 mAh, 21% lebih besar. Bila kita bertanya pada SPG Xiaomi sekalipun, mereka akan bilanga bahwa Redmi 5 Plus akan memiliki daya tahan yang lebih baik. Benarkah demikian?

PC Mark selain mengeluarkan uji produktivitas juga mengeluarkan uji daya tahan baterai. Smartphone dibiarkan menyala terus dan melakukan banyak hal secara otomatis, terutama untuk menjalankan simulasi penggunaan smartphone sehari-hari.

Hal yang sering lupa dilakukan saat melakukan benchmark daya tahan adalah kalibrasi kecerahan layar. Walau banyak video di Youtube tentang uji daya tahan baterai antar smartphone, tetapi hal yang jarang kita temukan adalah mereka mengkalibrasi kecerahan layar. Secara logika, layar yang lebih terang akan menggunakan daya yang lebih besar bukan? Perhatikan saja lampu, lampu dengan terang 100 watt akan menghasilkan angka meteran listrik yang lebih besar dibanding lampu 50 watt. Jadi untuk pengujian daya tahan baterai ini kecerahan layar smartphone harus diukur dengan light meter. PC Mark Battery 2.0 membuat acuan 200 nits, angka kecerahan layar yang cukup untuk melihat layar di ruang yang terang. Kedua unit dikalibrasi dengan kecerahan yang sama, 200 nits, dan mematikan kecerahan layar otomatis.

Redmi 5 Plus memiliki baterai besar 4000 mAh, tetapi Redmi 5 diuntungkan dengan ukuran layar yang lebih kecil dan perbedaan resolusi. Tetapi dalam pengalaman saya mencoba daya tahan baterai dengan resolusi yang lebih kecil, tetapi ukuran layar sama, hasilnya tidak signifikan,  hitungannya biasanya hanya belasan menit. Ukuran besar layar lebih memberikan impact.

Hasil uji PC Mark Battery:

Redmi 5 dengan baterai 3300 mAh menghasilkan skor 11 jam 30 menit

Redmi 5 Plus dengan baterai 4000 mAh menghasilkan skor 10 jam 44 menit

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, Daya Tahan Baterai

Ternyata pada uji daya tahan baterai, walau kapasitas baterai Redmi 5 Plus lebih besar, Redmi 5 lebih tahan lama dengan perbedaan yang cukup, 46 menit.

Selain ukuran layar dan resolusi yang lebih kecil, penggunaan SoC yang cenderung sama hanya berbeda clock CPU, malah menguntungkan Redmi 5

Untuk memantapkan uji baterai ini, dilakukan kalibrasi layar lagi dengan kecerahan yang sama, kemudian memutar film Annihilation dengan durasi 1 jam 55 menit.

Redmi 5 Plus atas- Redmi 5 bawah, uji memutar video

Redmi 5 Plus menghabiskan baterai 15% dari 4000 mAh, yang berarti sekitar 600 mAh

Redmi 5 menghabiskan 15% dari 3300 mAh, yang berarti 495 mAh.

Jadi kira-kira untuk menonton video, kedua device akan sama kuat, hanya dalam penggunaan energi, mengingat kapasitas baterai yang lebih kecil, Redmi 5 bisa dikatan lebih irit.

 

Charging speed

Baterai yang besar juga sebaiknya didukung dengan proses charging yang tidak lama. Walaupun secara teknis baik Snapdragon 625 di Redmi 5 Plus dan Snapdragon 450 di Redmi 5 sudah mendukung teknologi Quick Charging 3.0 dari Qualcomm, tetapi Xiaomi tidak mengadopsinya. Kemungkinan karena QC 3.0 membutuhkan charger khusus dan lisensi tambahan yang akan mempengaruhi harga jual. 

Charger yang disertakan untuk keduanya baik Redmi 5 dan Redmi 5 Plus sama,  5V – 2A.

Test menggunakan charger masing-masing bawaannya dengan angka persentase mulai charging dan  berhenti yang sama :

Redmi 5 membutuhkan waktu 1 jam 21 menit untuk mengisi 58% kapasitas baterai.

Redmi 5 Plus membutuhkan waktu 1 jam 29 menit untuk mengisi 58% kapasitas baterai

Test ini membuktikan kapasitas baterai Redmi 5 yang lebih kecil, membutuhkan waktu yang lebih sedikit untuk di charge ulang. Redmi 5 akan lebih cepat diisi ulang dibanding Redmi 5 Plus.

Beberapa komentar mungkin sempat kita baca, kalau Redmi 5 Plus saat dihubungkan dengan charger ber-standar  QC 3.0 akan mengeluarkan lambang quick charging, dan Redmi 5 tidak. Tetapi dalam pengujian terukur dengan charger QC 3.0, sepertinya trigger QC3 hanya berupa lambang saja. Saat artikel ini dinaikkan, charging QC 3.0 ini sudah dicoba pada update terbaru MIUI 9.5.4 di Redmi 5 Plus, dan tidak memberikan hasil lebih baik dibanding charging standar, selain lebih lambat, suhu baterai meningkat signifikan, yang biasanya maksimum di 33.2 derajat celcius dengan charger standar, menjadi 39.7 derajat celcius. Jadi sebaiknya jangan gunakan charger QC 3.0 untuk Redmi 5 dan Redmi 5 Plus.

Perbedaan Lain Redmi 5 dan Redmi 5 Plus

Selain bagian yang esensial yang sudah kita bahas, ukuran smartphone, layar, prosesor, dan harga, tidak ada bagian lain yang esensial yang berbeda antara kedua smartphone, Redmi 5 dan Redmi 5 Plus. Kelengkapan sensor, modem, hingga kamera yang disertakan juga sama.

Contoh metadata hasil kamera dari kedua smartphone bahkan memperlihatkan hasil yang identik.

Metadata Hasil Kamera Redmi 5 – Redmi 5 Plus

Redmi 5 – Redmi 5 Plus, Sensor

Konklusi

Pemahaman kita tentang spesifikasi smartphone terus berkembang, termasuk teknologinya. Terkadang angka-angka ini cepat membuat kita mengambil asumsi, prosesor dengan kepala 6 series dan 4 series dalam kebiasaan kita melihat angka, sering men-trigger kita secara langsung untuk langsung mengambil asumsi bahwa kepala 6 ini jauh lebih superior. Apalagi karena ini sekedar penamaan dimana tidak ada SoC Qualcom dengan kepala 5 saat ini, sehingga perbedaan 4 ke 6 mungkin terasa jadi lebih jauh.

Terima kasih juga kepada staff Qualcomm yang menyarankan saya melakukan pengujian untuk membuktikan apakah signifikan perbedaan Snapdragon 450 dan Snapdragon 625. Pengujian ini membuat kita melihat hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak terpikirkan, dan membuat kita belajar untuk melihat spesifikasi dengan lebih menyeluruh dan tidak langsung terpaku asumsi.

Saya sempat juga membuat polling, jika memilih Redmi 5 Plus dibanding Redmi 5 alasannya apa, salah satu jawaban yang cukup banyak dipilih adalah karena Redmi 5 menggunakan prosesor Snapdragon 450 yang dianggap kurang bertenaga. Hal yang menarik, karena ketika Redmi 5A keluar dengan Snapdragon 425, prosesor yang lebih bawah, banyak orang yang rela mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkannya, bahkan dengan angka pembayaran di atas harga Redmi 5 yang belakangan muncul. Cukup ironi, sama-sama prosesor seri 4, tetapi mendapat beda pandangan.

Dari hasil test ini kita bisa mengambil beberapa kesimpulan yang mungkin bisa menjadi panduan lebih bagi peminat mid-range phone ini, saat menentukan untuk memilih smartphone mana yang cocok untuk mereka dengan lebih mantap.

Pilih Redmi 5 Plus dengan Snapdragon 625.

Untuk mereka yang suka dengan layar lebih besar, dan membutuhkan RAM beserta internal storage yang lebih besar, karena tersedia varian 3/32  GB dan 4/64 GB, dan memiliki budget yang cukup tentunya.

Pilih Redmi 5 dengan Snapdragon 450

Untuk mereka yang ingin smartphone lebih berukuran kompak, lebih ringan, dan lebih mudah dikantungi, termasuk budget lebih terbatas.

Uji yang kita lakukan di atas mempertegas, jika budget lebih terbatas, tidak ada keharusan untuk memaksa naik ke Redmi 5 Plus, karena dari sisi kecepatan perbedaannya tidak signifikan dan sangat dekat. Angka-angka lebih besar sedikit di sisi benchmark CPU tidak berarti akan menjadi kinerja yang nyata dalam penggunaan sehari-hari. Malah dari sisi untuk menggunakan device ini bermain game, Redmi 5  terbukti bisa memberikan fps yang lebih baik, termasuk daya tahan baterai yang lebih baik untuk penggunaaan sehari-hari, dan waktu charging yang lebih singkat. Untuk pasar Indonesia Redmi 5 tersedia dalam 2 varian RAM/ROM, 2/16 GB dan 3/32 GB.

Jadi sebuah prosesor saja tidak bisa menjadi penentu akan lebih baiknya kinerja smartphone, karena smartphone terdiri dari banyak bagian / part. Dan dalam hal ini Snapdragon 450 yang secara kelas sedikit dibawah Snapdragon 625, ternyata bisa bekerja dengan sama baik bahkan lebih dibeberapa bagian karena faktor part smartphone lain, terutama ukuran dan resolusi layar. (Kondisinya mungkin akan berbeda jika ukuran dan resolusi layar yang digunakan sama.)

Pertanyaan yang mungkin timbul apakah kepadatan resolusi layar Full HD+ dan HD+ berpengaruh? Untuk faktor ini benar-benar bergantung terhadap daya kemampuan mata kita, apakah kita termasuk golongan vision 20/20, mata yang dianggap optimal daya pandangnya. Untuk itu bisa mencoba membandingkan bersebelahan jika diperlukan kepastian.

Bisa dipikirkan juga jika ada budget lebih, apakah loncat ke Redmi 5 Plus, atau tetap di Redmi 5, dan budget lebihnya dibelikan pelengkap lain, seperti power bank dan earphone.

Catatan tambahan

Saat artikel ini mulai dibuat, MIUI pada Redmi 5+ sedikit lebih baru dibanding Redmi 5, tetapi saat artikel ini selesai dan dinaikkan, malah terjadi kebalikannya, Redmi 5 memiliki versi MIUI yang lebih baru, tetapi tidak ada perbedaan yang benar-benar mencolok, hampir bisa dikatakan sama. Beberapa benchmark diuji lagi di versi MIUI paling akhir ini, tetapi tidak memberikan perbedaan.

Beberapa uji kita memberikan gambaran, jangan bergantung dengan satu benchmark saja, untuk melihat kemampuan sebuah device. Jadi kebiasaan hanya melihat AnTuTu menjadi sebuah patokan sudah harus diperbaharui. Pakai AnTuTu hanya sekedar perkiraan awal untuk mengetahui kira-kira dikelas mana device ini berada, mid-end atau hi-end.

Untuk melihat seluruh perbandingan spesifikasi Redmi 5 dan Redmi 5 Plus, bisa di klik di link ini:

https://www.gsmarena.com/compare.php3?idPhone1=8768&idPhone2=8959#china,redmi-5-plus,*

 

Exit mobile version