Galaxy S8 Camera Journey

Pre Journey

Salah satu hal penting yang dipertimbangkan konsumen saat memilih smartphone, sampai sekarang tidak bisa dipungkiri : kamera. Saking pentingnya, bahkan banyak brand yang dalam marketingnya hanya fokus pada kemampuan kamera, tanpa menyinggung bagian-bagian smartphone lainnya,  bahkan terkadang dengan berani mengatakan kamera smartphonenya lebih hebat dari kamera profesional sekelas DSLR, yang kemudian statement ini sering dikagumi kaum awam, tetapi dicibir para pengguna DSLR.

Dalam 1 bulan ini kebetulan saya sempat bepergian ke beberapa tempat yang menarik, bukan berlibur karena tidak banyak waktu bisa berleha-leha, tetapi juga bisa mengunjungi tempat-tempat yang menarik, yang sering menjadi objek wisata. Jadi bisa saja cerita kali ini mewakili mereka-mereka yang sebentar lagi akan memasuki musim liburan.

Ketika ada objek yang menarik, sulit untuk tidak mengeluarkan smartphone dan mengambil gambar. Di sini kita menemukan kegunaan utama kamera pada smartphone, kemudahan point and shoot di berbagai situasi. Sambil berjalan saja, smartphone bisa mudah dikeluarkan dan mengambil gambar, kemudian dikantungi lagi.

Karena umum digunakan, mengeluarkan smartphone dan mengambil foto tidak banyak mengundang reaksi dari orang sekitar, sehingga untuk memotret suasana atau candid seringkali menjadi lebih mudah. Dalam kondisi ini, kita juga menyadari pentingnya kita bisa mengakses aplikasi kamera dengan cepat saat mengeluarkan smarphone, tanpa harus direpotkan unlock screen, memilih icon camera dan menekan tombol rananya. Atau berpindah cepat ke menu kamera, saat smartphone sedang digunakan.

Double click home button, power button, shake phone, apapun caranya, memudahkan kita untuk bisa mengambil momen dengan cepat.

Dari kemudahan dan kecepatan ini, kita melihat kamera smartphone terbukti berhasil menyajikan banyak peristiwa-peristiwa khusus dengan cepat, misalnya reportase netizen, dari hal remeh temeh sampai kejadian luar biasa, yang dimungkinkan karena smartphone selalu ada bersama mereka.

Apa yang saya perhatikan ketika mem-backup data smartphone, atau melihat-lihat lagi data foto saya di google photos, ternyata saat kita memiliki smartphone dengan kemampuan foto yang baik, data fotonya jauh lebih banyak, dibanding smartphone dengan kemampuan biasa-biasa saja. Ketika sadar smartphone kita mampu mengambil foto dalam banyak situasi, kita lebih mudah mengeluarkannya dan mengambil foto. Saat kita menyadari kamera smartphone kita biasa-biasa saja, tidak banyak dorongan untuk mengabadikan momen.

Begitu pula jika melihat data di media sosial, ketika kamera smartphone kita bagus, ternyata kita cenderung lebih banyak membagikan hasilnya.

 

Galaxy S8+ dan Galaxy S8

Selama bepergian kali ini, saya membawa 2 buah smartphone yang sebenarnya “sama”, Galaxy S8 dan Galaxy S8+, uniknya untuk Galaxy S8+ ini, unitnya diperuntukkan dijual di negara Amerika, sehingga sedikit memiliki spesifikasi berbeda di sisi  prosesor dan sensor kamera.

Banyak yang mengatakan bahwa Galaxy S8 atau S8+ tidak berbeda dengan Galaxy S7 dan S7edge, karena menggunakan sensor dan teknologi yang sama. Mungkin orang mudah mengatakan ini karena Galaxy S8 tetap hadir dengan kamera satu lensa, tidak seperti kebanyakan flagship smartphone lain, yang sekarang menggunakan konfigurasi dual camera.

Apalagi score DxOmark yang diterima Galaxy S8 sama dengan Galaxy S7, dan keduanya tetap menggunakan ukuran kamera 12MP dan aperture f/1.7

Sebenarnya ada perbedaan dari sisi sensor dan cara pengambilan gambar di Galaxy S8.

Dari sisi sensor kamera, memang sejak Galaxy S7, Samsung sudah menggunakan 2 macam sensor, satu sensor kamera buatan Sony dan satu sensor buatan Samsung sendiri yang dikenal dengan sebutan ISOCELL.

Pada Galaxy S7 dengan ISOCELL, seri sensor kamera utama yang digunakan adalah S5K2L1 sementara pada Galaxy S8 S5K2L2.

Pada Galaxy S7 dengan Sony sensor, kamera utama menggunakan IMX260 dan Galaxy S8 IMX333.

Untuk kamera depan atau selfie jelas berbeda dari Galaxy S7 , karena ada update besaran kamera dari 5MP ke 8MP yang juga dilengkapi autofocus.

Kalau dulu Galaxy S7 untuk kamera selfie keduanya menggunakan sensor ISOCELL S5K4E6, sekarang di Galaxy S8 digunakan sensor S5K3H1 dan IMX320.

Pada test ini Galaxy S8 resmi Indonesia menggunakan sensor kamera ISOCELL dari Samsung, sementara Galaxy S8+ yang kebetulan keluaran AT&T untuk pasar Amerika menggunakan sensor Sony.

Pasti langsung pada bertanya, bagus yang manakah? Sebenarnya hampir sulit melihat perbedaan pada hasil ke-duanya, tetapi silahkan nanti mengamati sendiri di bawah.

Hal yang baru pada Galaxy S8 selain sensor adalah teknik cara pengambilan gambar. Berbekal prosesor atau SoC 10nm yang lebih baru dan cepat, dalam setiap kali tombol shutter ditekan, sebenarnya ada 3 buah atau multiple foto langsung diambil. Karena cepatnya, kita tidak sadar bahwa ada 3 foto diambil sekaligus, karena kecepatannya sama dengan mengambil 1 single foto. Dari ke 3 foto tersebut langsung di combine  untuk menghasilkan satu foto. Tujuannya dengan penggabungan 3 foto sekaligus, detail dan ketajaman foto bisa lebih baik, dan noise bisa dikurangi.

Setelah menggunakannya lebih sering, baru terasa ada perbedaan dengan Galaxy S7, terutama pada kondisi-kondisi khusus, misalnya objek dengan penerangan minim, perbedaan kontras yang besar, dan stabilisasi. Pada sisi stabilisasi ini, apalagi untuk video, terasa perbedaan yang lumayan antara Galaxy S7 dan Galaxy S8. Untuk foto-foto landsacape, algoritma penyambungan foto di Galaxy S8 juga jauh lebih sempurna, dan stabilisasi pada smartphone membuatnya lebih mudah dan terasa lebih smooth saat tangan kita bergerak.

Mari kita lihat lebih jauh bagaimana performa kamera Galaxy S8 dan S8+ sambil dilengkapi cerita  tentang fotonya, siapa tahu lebih menginspirasi untuk pergi liburan :-D.

Foto-foto di artikel ini tanpa edit, hanya dikompres agar lebih mudah dilihat di web. Link foto aslinya saya sertakan dibagian penutup.

 

Kondisi Cahaya Melimpah

Pada prinsipnya fotografi itu “menangkap cahaya” , jadi saat cahaya melimpah hampir semua smartphone saat ini bisa mengambil objek dengan baik. Yang membedakan adalah seberapa detail, warna, dan kontras yang bisa ditangkap.

Ini beberapa contoh saat Galaxy S8 mengambil foto di luar ruangan dengan penerangan sinar matahari.

 

CHIJMES hall ini dulunya sebuah komplek gereja (Convent of The Holy Infant Jesus), sekolah, dan panti asuhan, yang pada tahun 1941 area ini di bom oleh tentara Jepang. Ketika saya melongok ke dalam kapel, ternyata di dalamnya sedang dipersiapkan untuk pesta perkawinan dengan meja-meja bundar untuk jamuan, jadi lokasi ini sudah berubah bukan lagi untuk tempat ibadat tetapi sudah menjadi bagian tempat wisata. Di komplek ini bangunan-bangunan lain juga sudah menjadi tempat makan dan bar, untuk kehidupan malam di Singapura.

 

Hasil crop 100% gambar di atas, memperlihatkan detail setiap ukiran ornamen bangunan dan kaca patri yang jelas. Foto diambil kira-kira pukul 10 pagi dengan sinar matahari yang mulai naik ke atas dari belakang, yang seharusnya memberikan kontras yang cukup berbeda antara bagian belakang dan facade gedung, yang biasanya kamera smartphone akan “kebingungan” memilih kontras mana yang harus diikuti, mengikuti bagian belakang akan membuat facade menjadi lebih gelap, atau menerangi facade tetapi akan membuat bagian belakang termasuk langit menjadi over exposure. Galaxy S8 dengan auto HDR membuat foto bagian yang berbeda ini tetap bisa ditangkap dengan baik dan berimbang.

 

Pohon dan lampu di area pathwalk di CHIJMES

 

Sederetan ruko di belakang Beach Rd, sepertinya bangunan pecinan heritage yang tetap menjaga bentuk wajah lamanya, tetapi dengan polesan warna baru. Bangunan-bangunan berderet seperti ini yang sekarang banyak berubah menjadi tempat makan, memang menarik jika dipoles warna warni untuk tetap menjaga keasliannya tanpa ketinggalan jaman.

 

Saat mendekati jam 5 sore, Singapura masih berlimpah cahaya seperti siang hari. Ini salah satu kekuatan kamera Galaxy S8, detail yang jelas, dimana bangunan tinggi dengan garis vertikal dan horisontal yang berulang bahkan susunan genting, tetap memiliki detail dan sharpness yang baik. Kondisi repetisi pada tiang dan jendela gedung atau genting yang rapat, mudah menjadikan foto mendapat efek moire, yang baiknya pada smartphone ini tidak mudah terjadi. Foto diambil dari balkon hotel Fairmont, ke arah Raffles hotel yang mempertahankan gaya kolonial.

 

Jam setengah tujuh malam, membuat kita bertanya, apakah sebenarnya Singapura ini tidak salah time zone? Karena cahaya sore matahari masih bersinar, dan kita sekarang bisa melihat perbedaan suasana dengan foto di atas. Ambience cahaya kuning dari matahari senja bisa ditangkap dengan baik.  Hal ini yang diinginkan pengambil foto, yang terkadang otomatis AWB pada smartphone mengkompensasikan warna kuning pada tembok-tembok putih menjadi lebih putih.

 

Shade Area

Ada kalanya kita mengambil foto tetapi dalam area yang berbeda penerangan, dibawah sinar matahari, tetapi sebagian objek tertutup bayang-bayang dari atap, gedung, atau pepohonan. Mata kita bisa melihat semua objek dengan baik, tetapi tidak demikian dengan “mata” kamera smartphone, seringkali bagian dibawah bayang-bayang menjadi terlalu gelap, atau bagian yang terkena matahari langsung menjadi terlalu terang.

Fitur auto HDR (High Dynamic Range) pada Galaxy S8, langsung memproses perbedaan kontras secara instan yang dilakukan di dalam SoC (System on Chip) prosesor, sehingga hasilnya langsung bisa ditampilkan di layar smartphone, seperti apa foto yang akan kita dapat sebelum menekan shutter.

Banyak smartphone masih menggunakan fitur foto HDR dengan cara lama, selain membutuhkan waktu karena menggabungkan dua foto yang berbeda kontras, cara lama ini seringkali membuat foto terlihat artificial, tidak natural.

 

Foto ini diambil dari balkon business center Courtyard Marriott hotel Nusa Dua, Bali. Pohon-pohon dan gedung hotel yang tinggi menciptakan shade kontras dengan matahari yang menerangi kolam renang, yang membuat kamera smartphone akan sulit menangkap detail dan warna dari batang-batang dan dedaunan pohon.

HDR yang bisa dinyalakan terus atau di set auto pada Galaxy S8 untuk menyerahkan algoritmanya kepada sensor kamera smartphone, membuat foto ini bisa tampil natural dengan warna kolam tetap biru menarik, hijau daun dengan berbagai gradasi, dan batang pohon yang tetap terlihat coklat dan tertangkap detailnya tanpa menjadi siluet. Orang-orang di bawah yang sedang bersantap juga tertangkap dengan baik, juga detail lantai dan batu di pinggiran kolam.

 

Berenang kalau lagi panas-panas begini sepertinya sepertinya asik…

Foto ini lebih menggambarkan dengan jelas arah sinar datang, sementara sinar matahari sudah menerangi kolam, tetapi pada bagian teras tempat makan ini masih tertutup bayangan.

 

 

 

 

Di Dalam Ruangan

Sebenarnya kemungkinan besar, foto-foto yang kita ambil setiap hari kebanyakan berada di dalam ruangan. Foto di luar ruangan biasanya hanya saat kita pergi berlibur, atau untuk mereka yang bekerja di bidang properti 🙂

Ruangan ini penerangannya bervariasi, ada yang sangat cukup, ada yang kurang, bahkan ala kadarnya. Jadi ada saatnya foto di dalam ruangan cukup menantang.

 

Lobi hotel Fairmont Singapore ini menarik, karena hiasan bola-bola di langit-langitnya. Penerangan di lobi hotel biasanya cukup, tidak terlalu terang dan memiliki ambien cahaya kekuningan, karena warna kekuningan ini membantu mood untuk lebih rileks. Kebanyakan lampu di lobi hotel berupa lampu indirect atau spot, hanya menerangi bagian-bagian aksen tertentu.

 

Mint Museum of Toys di Seah St ini memamerkan banyak koleksi mainan, dari mainan vintage hingga mainan jaman sekarang, yang kebanyakan berupa figurin. Jangan membayangkan sekelas museum negara yang besar, letaknya hanya menyempil berupa ruko memanjang ke dalam. Seringkali posisi seperti ini dengan facade menghadap jalan yang penuh sinar matahari akan membuat foto “lorong” menjadi agak gelap ke dalam, tetapi Galaxy S8 bisa menangkapnya dengan baik, termasuk tulisan di dinding sebelah kiri yang dihasilkan projector.

 

Ini cafe yang menjadi bagian dari lobi hotel Marriott, uniknya satu sisi bertahan dengan pencahayaan buatan untuk memberikan ambien hangat, satu sisi lagi jendela-jendela besar menghadap ke kolam renang dipenuhi cahaya.

 

Ini ruang keluarga rekaan untuk demo next Samsung Frame, televisi yang bingkainya sudah seperti lukisan dan bisa diganti-ganti. Ketika sedang tidak menonton, televisi ini bisa untuk menampilkan lukisan2 maestro dunia yg sudah tersedia di dalamnya, atau foto2 keluarga. Ketika sedang menampilkan foto dan lukisan, sekilas sulit dibedakan dengan figura asli.

 

Kalau jalan-jalan ke mall, biasanya kita juga sering mengambil foto, apalagi mall nya menarik dan unik. Ini The Shoppes, Marina Bay Sands Singapura, mall kelas atas karena tenant mall nya banyak produk ber-merk. Mall ini unik dari sisi arsitektur yang banyak menggunakan pencahayaan alami dari bukaan di atap dan jendela-jendela besar menghadap teluk. Selalu menarik mencoba menangkap gambar dari kamera smartphone pada mall dengan dua pencahayaan, alami dan artificial, karena intensitas cahaya yang berbeda, dan melihat apakah kamera smartphone tetap sanggup menangkap ambience seperti aslinya, atau AWB kamera akan terkecoh.

 

Kamera smartphone akan mudah terkecoh dalam posisi foto seperti ini, apakah memilih pemandangan di luar jendela yang terang terlihat baik tetapi ruangan di dalam menjadi lebih gelap, atau sebaliknya, pemandangan di luar menjadi over exposure. Ini pentingnya kita memiliki menu foto HDR yang cepat dan mudah diakses, atau bisa standby setiap saat.

 

Iya benar, ada sungai kecil untuk naik perahu seperti di Venesia, bahkan di mall ini terdapat Casino. Mau coba peruntungan?

 

Eh ada yang jatuh…, area ice skating ini difoto sambil bergerak saat turun dari eskalator lantai atas. FYI, mungkin banyak yang tidak tahu, kebanyakan kita akan mem-foto ke arah Marina Bay Sands, sedangkan di lantai atas mall ini, ada ruang terbuka lengkap dengan tempat duduk susun ke arah sebaliknya, untuk melihat ke arah teluk dan Merlion, memandang Singapura dari sisi lain.

 

Ini kenapa kamera smartphone kita sebaiknya bisa cepat di akses, cepat fokus dan cepat shutternya, karena toko-toko di mall melarang untuk foto-foto :-D. Foto ini diambil dari luar, dari depan kaca etalase, saat rekan di dalam memberi kode minta difoto ganteng di sebelah mobil F1.

 

Mendung, Senja, dan Backlight

Foto matahari terbit dan terbenam salah satu foto favorit banyak orang. Hampir semua orang terpesona dengan rona gradasi warna kuning hingga merahnya. Apalagi saat kita pergi ke pantai seperti di Bali.

Courtyard Marriott di Bali memiliki private beach sendiri, hanya sayangnya pantai pribadi ini tidak berada di belakang hotel, harus naik kendaraan yang disediakan atau berjalan kaki beberapa menit. Kebetulan saya ke sini sebagai kontributor mewakili media online besar nasional meliput acara launching televisi Samsung yang baru.

Jadi awak media ternyata tidak mudah, mengikuti dengan seksama jalannya acara, mengambil foto, wawancara khusus jika diperlukan, kemudian segera menaikkan berita, tidak hanya satu, tetapi beberapa buah berita. Angkat topi untuk rekan-rekan media, mereka sibuk berkutat, untuk kita baca habis dalam sekejap. Seringkali mereka masih berkutat hingga larut malam hari untuk menurunkan tulisan, hasilnya banyak yang tidak sanggup bangun lagi pagi hari untuk mengejar foto matahari terbit, termasuk saya, jadi tidak ada foto pantai kali ini 😀

 

Setidaknya sempat menikmati senja di Uluwatu, ketika matahari mulai terbenam, dan tari kecak yang terkenal pun dimulai.

 

Tari kecak juga sekarang sudah ber-transformasi, dengan adanya punakawan, dan banyaknya interaksi mereka dengan penonton, sehingga tarian satu jam ini dengan irama yang berulang terasa menarik.

 

Hanoman menjadi tokoh sentral di tari kecak, yang membantu membebaskan putri Shinta dari Rahwana. Di tengah era kemajuan teknologi ini, dalam tari kecak, Hanoman bisa berbaur dengan pengunjung dan mengajak selfie bareng.

 

Sebenarnya foto ini memakai fitur yang bukan peruntukkannya, yatu fitur untuk food photography, dimana warna akan diolah lebih “jreng” dan bisa ditentukan bagian mana yang lebih fokus dan sisanya dibuat lebih blur.

 

Mendung!

Ya bagaimana lagi, satu yang tidak bisa kita atur saat bepergian adalah cuaca. Foto-foto di luar gedung memang lebih cantik saat langit biru. Lagipula foto ini diambil hampir jam 7 malam ( I told you.. Singapura “salah” timezone kan? ), dari lantai 70 Swissotel The Stamford, foto diambil dari balik kaca tentu saja. (Mungkin selain drone, hanya tukang bersih kaca gedung tinggi yang bisa mengambil foto-foto dari ketinggian tanpa terhalang :-p)

 

Dari ketinggian ini kita bisa melihat sekaligus Marina Bay Sands dan Esplanade-Theatres on The Bay, yang dari atas sini tidak lagi tampak seperti durian.

 

Nah ini jika gambar di atas kita bikin lebih lengkap sampai ke laut lepas.

 

Tentu banyak orang mau di foto dengan latar belakang seperti ini, mungkin terlihat lebih tidak pasaran dibanding foto di atas ayunan di Maribaya saat dipamerkan di Instagram 🙂

Lantai 70 ini sebuah resto fine dining, Equinox, yang kabarnya punya michelin star, tetapi restonya benar-benar hampir gelap suasananya. Hasilnya kalau kita foto di depan jendela ini akan sangat-sangat backlight dan kebanyakan kamera smartphone akan menampilkan foto siluet. Karena tidak terbantu cahaya dari resto, untuk foto ini, walau sudah support HDR, saya perlu minta bantuan snapseed untuk sedikit menerangkan bagian wajah.

 

Walau di foto keesokan harinya pukul 12 siang, mendung masih saja betah, ini jembatan gantung menuju Marina Bay Sands. Ternyata kalau trotoar pejalan kaki bagus, aman dan mudah di akses, kita rela juga menikmati jalan-jalan lebih jauh. Seharusnya orang Singapura sehat-sehat nih di banding orang Jakarta, karena banyak jalan, termasuk saat ke stasiun MRT.

 

Kalau foto ini langitnya biru, pasti jauh lebih menarik, cuma foto ini memperlihatkan, untuk foto arsitektur Galaxy S8 ini sangat ok, coba saja lihat gambar di bawah.

 

Ini crop 100% gedung Marina Bay Sands dari gambar di atas, dan sekarang kita bisa melihat sharpness dari Galaxy S8 membantu menampilkan detail, baik dari bagian kaca facade, dan bagian bawah lantai paling atas yang ternyata tersusun dari banyak segitiga.

 

Low Light, Selamat Malam

Salah satu tantangan besar pada smartphone adalah foto lowlight. Untuk menangkap lebih banyak cahaya, selain aperture besar, bukaan rana harus lebih lama, supaya cahaya bisa lebih banyak masuk, hanya saja efeknya, gambar rentan goyang. Untuk itu OIS (Optical Image Stabilization) atau EIS (Electronic Image Stablization) hampir harus dipastikan ada untuk membantu hasil foto lebih tajam.

Tidak cukup sampai di sana, ISO yang besar membantu menangkap foto dalam gelap lebih baik, tetapi biasanya juga diikuti meningkatnya noise. Jadi perlu algoritma software kamera yang baik untuk menekan, supaya gambar malam hari tidak noise. Di sini Galaxy S8 dengan multiple shoot nya untuk mengatasi noise diuji.

 

Marina Bay Sands di malam hari. Jika ini menarik dan cantik, harusnya Jakarta diijinkan mengolah waterfront citynya seperti Singapura?

 

Bagian lain dari Singapura, ternyata lebih rapat dengan bangunan tinggi. Semua gambar dari ketinggian ini diambil dari balik kaca dan sembunyi-sembunyi, karena ternyata pihak resto tidak mengijinkan kita mengambil gambar, padahal banyak rekan sudah memasang tripod, bahkan sudah mulai merekam timelapse, semua terpaksa diangkat lagi. Selain mudah berbayang, mengambil foto dari balik kaca (yang biasanya tidak terlalu bening) di malam hari, dan tidak mencolok, membutuhkan kamera yang bisa benar-benar cepat dan tidak mudah goyang, karena kita hanya memegangnya dengan tangan. Mungkin bisa di cek di foto aslinya yang link nya ada di bawah, apakah foto malam hari ini saat di zoom, masih tetap bisa menampilkan detail yang cukup jelas dan baik.

 

Kali ini kita foto waterfront city Singapura dari arah bawah. Selain menggunakan mode auto, untuk foto malam hari kita bisa juga bereksperimen dengan mode pro, dimana kita bisa mengatur ISO, shutter speed, AWB, dll. Pada foto ini saya mencoba menggunakan ISO yang lebih kecil dan bukaan agak lama, supaya foto lebh tidak noise tetapi tetap bisa menangkap objek dengan baik.

 

Kadang nama jalan di Singapura Inggris banget, kadang Melayu sangat.., iya bras basah berarti beras basah, dulunya lokasi ini tempat mengeringkan beras.

 

Hal yang sulit di foto malam hari dengan smartphone adalah menangkap adegan yang bergerak. Pada Galaxy S8, kita bisa coba menangkap banyak momen bergerak dengan mengambil gambar sambil merekam video, atau terus menekan shutter yang otomatis akan mengambil puluhan foto dalam sekejap dengan burst mode.

 

 

Foto lowlight lain yang sering kita ambil, biasanya saat kita sedang mampir ke cafe dan makan. Cafe umumnya tidak memiliki lampu-lampu yang terang, dan warna lampunya kebanyakan kuning untuk mengejar ambience yang santai. Kondisi ini mengakibatkan kamera smartphone sering salah AWB (Auto White Balance), atau saat pencahayaan kurang, gambar menjadi gelap.

 

Pizza dari Cafe Supply & Demand (Sepertinya pemiliknya lulusan fakultas ekonomi) , berada di sebelah makan sutra yang terkenal. Keduanya berada di dekat Esplanade outdoor theatre. Foto ini diambil dengan mode food. Semua bertanya-tanya rumput apa yang ada di atas Pizza…

 

Cafe di pinggir pantai senantiasa panas.. Jadi minuman segar begini akan 2x terasa lebih enak.

 

Kita pindah ke lantai atas cafe, lantai atas ini jauh lebih gelap dibanding di cafe bawah, karena disini tempat orang minum beer dan menikmati pemandangan ke arah waterfront. Untuk foto makanan pun repot di lowlight seperti ini, dan menggunakan flash selain mengganggu tamu lain juga membuat foto makanan tidak menarik,  kita coba foto lowlight Galaxy S8 tanpa flash pada sate milik tamu lain 😀

 

Disini Galaxy S8 diuji untuk tetap bisa mengambil foto yang “proper”

 

Minta tolong kepada staf cafe untuk mengambil foto bersama… say..cheese! (lihat bandingannya dengan foto di bawah)

 

Nah ini sebagai pembanding, kamera Sony a7SM2 (seharga 40jt an body only) dengan sensor kamera full frame, difoto oleh si mbak staf cafe yang sama. (Walau tidak lebih bagus, tetapi not bad lah yah kamera Galaxy S8 setelah melihat hasil kamera full frame ini)

 

 

Makro dan Bokeh

Galaxy S8 cukup istimewa untuk foto makro dan menangkap detail dari objek yang di foto. Jarak kamera ke objek bisa cukup dekat.

 

ArtScience Museum di depan Marina Bay Sands bentuknya unik, sebenarnya melambangkan bunga lotus, yang juga tumbuh di kolam di depannya.

 

Karena foto makronya detail, saya tidak bosan-bosan foto doggy peliharaan. Dengan aperture f/1.7 otomatis bagian belakang akan bokeh / blur secara alami.

 

Ini crop 100% dari foto di atas untuk memperlihatkan detail.

 

Doggy ini hampir dibuang pemiliknya karena cacat saat dilahirkan, sepertinya tergencet hingga mukanya sedikit deform lebih gepeng, hidungnya miring, dan sebelah matanya buta. Saat dia tidur, mata nya yang buta malah seperti senantiasa melihat. Istri saya memungut dan mengasuhnya, bahkan menamakannya Prince, katanya biar ganteng dan jangan rendah diri karena cacat. Sekarang dia jadi doggy paling pede diantara peliharaan kami yang lain :-D. Di foto dengan penerangan lampu kamar biasa.

 

 

Ini patung clay yang dipamerkan di art gallery Raffles City, di foto dari balik kaca.

 

Masih di pameran art gallery, patung ini memang memiliki warna merah yang berbeda antara baju dan hati. Salah satu perbaikan yang dilakukan kamera di GalaxyS8 dibanding pendahulunya adalah bisa menangkap range warna merah yang lebih baik, yang terkadang meleset saat mengambil foto bunga, misalnya bunga bougenville.

 

Artificial bokeh. Berbeda dengan aperture besar yang otomatis membuat area fokus lebih sempit dan sisanya menjadi blur, foto bokeh juga bisa dibuat secara artificial melalui algoritma software. Salah satu fungsi dual camera yang sedang ramai digunakan sekarang adalah untuk mencoba menghasilkan foto bokeh yang lebih baik, dan Samsung di Galaxy S8 belum menggunakannya. Tetapi sudah cukup lama Samsung menyertakan fitur selective focus, yang saya perhatikan makin baik algoritmanya. Jika fitur ini digunakan, maka kita akan bisa menentukan nantinya setelah foto diambil, apakah akan fokus pada objek di depan, atau background di belakang, atau keduanya

Ini kita coba fokus pada objek di depan

 

Saat dipilih untuk fokus ke bagian belakang, ini hasilnya.

 

Benda-benda bernilai seni banyak dipajang menjadi ornamen-ornamen khusus, termasuk juga di hotel. Penambahan lampu sorot menjadikannya lebih menonjol karena termasuk bermain dengan bayang-bayang.

 

 

Panorama

City skyline, pantai, pegunungan, landscape, terasa lebih indah dan lengkap jika di foto memanjang atau sering dikenal dengan istilah panorama. Kita bisa mengambil foto landscape dari jarak jauh dalam satu bingkai foto, atau dalam jarak lebih dekat dengan menggabungkan beberapa foto dalam satu gerakan, misal kiri ke kanan atau atas ke bawah. Terkadang fitur panorama ini juga berguna untuk mengambil gambar yang lebih utuh malah di area sempit, misalnya ruang kantor, atau kamar. Hanya saja semakin sempit ruangan, foto panorama ini mudah terdistorsi.

Ini bebarapa foto panorama yang diambil menggunakan Galaxy S8, smartphone ini memiliki stiching foto steady yang lebih baik dibanding Galaxy sebelumnya. Kita bisa memilih untuk mengambil panorama dengan posisi smartphone landscape atau potrait. Hanya foto panorama ini semakin panjang semakin besar file nya

 

Satu capture kamera tidak cukup untuk menangkap seluruh waterfront city, disini kita membutuhkan bantuan fitur Panorama.

 

Yah mendung-mendung juga lumayan untuk foto panorama Marina Bay Sands. Landscape daerah ini benar dipikirkan dengan baik, bahkan sepanjang jembatan gantung diberikan tempat khusus untuk orang-orang bisa berfoto baik selfie, maupun mengambil foto gedung-gedung waterfront. Semakin banyak orang berfoto, semakin banyak “iklan” gratis tentang negara Singapura dibagikan mereka lewat media sosial. Panorama ini diambil dalam mode kamera panorama posisi landscape.

 

Panorama ini diambil dalam mode kamera panorama potrait, sehingga bagian vertikal lebih banyak tertangkap.

 

Area kolam renang yang besar bisa menarik untuk didapat fotonya lebih utuh dengan mode panorama.

 

Liputan

Salah satu kegiatan rutin saya adalah ikut menghadiri acara-acara launching, kebanyakan launching smartphone. Biasanya pada acara tersebut saya mencoba melakukan live tweet/blog. Mengambil foto dan langsung mengirimkan ke twitter beserta caption penjelasannya. Pekerjaan ini saat dilakukan sendiri, menjadikan smartphone pilihan terbaik, karena kita bisa melakukannya dengan segera dalam satu device, mengambil foto, mengetik caption, dan upload.

Saya pernah bertemu team TheVerge , portal IT Amerika yang terkenal itu diacara launching smartphone di New York. Mereka sering melakukan live tweet/blog untuk acara launching besar, dan mereka bekerja dalam team. Ada sekitar 4-5 orang , yang satu mengambil gambar selama acara dengan DSLR yang langsung terhubung ke laptop, 2-3 orang bergantian mengisi caption dan memberikan komentar, dan mereka juga memasang tripod dengan kamera yang berjalan terus sebagai backup. No wonder live blog mereka bagus, karena dikerjakan dalam satu grup.

Acara launching biasanya cenderung berada di tempat yang gelap, karena fokus kita selalu ke layar depan panggung. Kira-kira seperti kita menonton bioskop. Pembicara berada di depan panggung besar, yang berarti kita berusan dengan backlight, antara memilih tulisan dan gambar di layar terlihat jelas, tetapi pembicara akan menjadi siluet, atau sebaliknya. Dalam kondisi ini saya benar-benar membutuhkan kamera smartphone yang bisa cepat mengambil foto yang baik di kondisi lowlight, tidak goyang, dan setelah shutter ditekan, foto bisa langsung diisi caption dan di upload, begitu terus menerus sampai keynote selesai.

 

Galaxy S8 termasuk smartphone dengan kamera yang bisa diandalkan untuk liputan seperti di atas, beberapa kali saya menggunakannya, selalu ada yang komentar: “smartphone apa itu, kok gambarnya jelas?”

 

Layar besar presentasi ini bukan hasil dari back projector, tetapi layar LED, intensitas kecerahan  layarnya tinggi. Ini QLED TV dari Samsung yang baru, saat resmi diluncurkan untuk pasar Indonesia.

 

Kelemahan smartphone adalah tidak punya zoom optical, kalaupun ada, baru sebesar 2x. Untuk foto seperti ini kita harus mau maju ke dekat panggung, dan berusaha seminim mungkin menangkap siluet dari tokoh-tokoh di panggung. Satu lagi “kelemahan” kamera smartphone, saat launching yang mengundang artis (termasuk SPG), mereka cenderung menoleh ke arah kamera besar DSLR dulu saat sesi foto :-D… (ngga sadar apa kalau mereka posting instagram biasanya  juga pakai kamera smartphone :-p)

 

Satu lagi yang seringkali sulit adalah mengambil foto produk yang seringkali diletakkan di tempat yang tidak terang, dan di bawahnya diberi backlight untuk meng-hilite tampilan produk terlihat lebih catchy. Kondisi ini seringkali membuat foto produk menjadi tidak mudah, hasilnya tidak jelas jika kamera smartphone kita tidak mumpuni.

 

Keynote seperti Qualcomm Tech Day ini isinya berupa data-data dan grafik, disajikan cepat, bergantian, dalam banyak topik. Kita membutuhkan foto apa yang ditampilkan saat presentasi  untuk jelas terbaca, selain untuk live blog, hasil foto yang jelas kita butuhkan untuk nanti dilihat kembali saat menyusun artikel. So kamera smartphone kita harus sanggup diajak kerja dengan cepat “setengah-setengah”, dalam artian saat mengambil foto kemudian sedang menulis caption untuk live tweet, belum selesai menulis, pembawa keynote sudah berganti slide, smartphone harus bisa kembali lagi ke posisi kamera dengan cepat, mengambil gambar baru, dan meneruskan live tweet yang terpotong tadi.

 

Biasanya saat launching, media-media yang menurunkan berita akan memiliki foto utama yang sama. Saya mencoba menelusuri berita-berita yang sama dari berbagai media dan kemudian meng-compare apakah hasil foto Galaxy S8 cukup mumpuni untuk liputan. Ini hasilnya (Hasil Galaxy S8 di pojok kiri atas). (Dari berbagai foto ini kita bisa melihat bahwa benar layar presentasi menghasilkan backlight yang membuat wajah para penampil gelap, atau kalau coba dipilih ke wajah penampil, background akan over contrast)

 

Penutup

Sebenarnya kita masih punya topik kamera lain yang bisa dibicarakan untuk Galaxy S8, selfie dengan autofocus, wide selfie, dan foto dalam air, karena Galaxy S8 sudah dilengkapi dengan standar IP68 yang membuatnya tahan air dan debu. Kita buat lagi nanti sebagai cerita terpisah.

Setelah menggunakannya lebih lama, terasa memang ada peningkatan kualitas kamera di Galaxy S8 dibanding pendahulunya Galaxy S7, terasa di sisi noise yang lebih baik pada foto-foto lowlight, hasil foto yang akurat warnanya dan tidak terlalu warm,  kemudahan mengambil foto panorama yang lebih steady, dan stiching yang lebih baik. Di sisi video, kestablilan dan kualitas gambar juga meningkat.

Foto-foto asli dan banyak foto lain dari Galaxy S8 termasuk contoh videonya bisa dilihat di link ini:

https://goo.gl/nqvydk

Mana foto yang dihasilkan lewat Galaxy S8 dengan sensor ISOCELL, atau GalaxyS8+ dengan sensor Sony, tinggal dilihat pada bagian exif atau metadata file info di gambar aslinya. Jika model dikatakan SM-G950F, ini berarti Galaxy S8, sementara jika modelnya SM-G955U ini berarti Galaxy S8+ AT&T.

Menurut saya, kamera Galaxy S8 ini sangat mumpuni untuk diajak mengambil foto berbagai objek dan di-segala suasana. Fitur kamera yang tersedia cukup lengkap dan mudah di akses, dengan UI yang sederhana dan mudah dimengerti. Auto HDR nya sangat membantu, dan hasilnya terlihat natural. Autofocus yang menggunakan teknologi dual pixel, masih bisa dikatakan tercepat saat ini. Salah satu kamera smartphone terbaik  yang asik untuk diajak jalan-jalan sekaligus bekerja membuat dokumentasi. Dan saat kita set layar Galaxy S8 pada performance mode, foto-foto yang kita ambil akan tampil dengan warna dan detail terbaiknya.

Selamat siap-siap liburan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Galaxy S8 Camera Journey

  1. Bagus banget nich pemaparan hasik jepretan S8 series-nya. Objektif dan mewakili apa yang dilihat mata penulis saat itu dengan yang ditangkap lensa smartphone. Sangat informatif dan membuka cakrawala baru mengenai dunia fotografi mobile bagi orang awam. Ditunggu ulasan berikutnya mengenai si calon daily driver saya, Galaxy S8 Maple Gold…. heheheeee

    • Lucky on

      Thank’s berat ya sudah mampir dan memberi ulasan. Semoga sekarang sudah punya S8 Maple Gold nya 🙂

Leave a Reply