Ketika Tuhan Punya Ide Lain dengan AI

Knowledge & Wisdom

Kata pepatah bijak yang mungkin sudah kita sering dengar: “ Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah pilihan, tetapi menjadi tua dan bijaksana adalah anugerah”. Ini seperti pisau bermata dua, ketika setiap tahun kita dikirimi ucapan “Selamat Ulang Tahun”, umur selalu bergerak maju, banyak orang takut menjadi tua, dan kebijaksanaan seringkali menjadi penghibur, semoga setiap tambahan helai rambut perak, bertambah kebijaksanaan kita.

Ada 2 kekuatan yang dibanggakan manusia sebagai pembeda dengan makhluk lainnya, yaitu ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, knowledge and wisdom.

Knowledge me-refer kepada ilmu pengetahuan, dari informasi yang dikumpulkan, dari pengalaman, dan dari penalaran.

Wisdom me-refer kepada kemampuan untuk membedakan pengetahuan, mana yang baik atau benar, dan mana yang salah, mana yang harus dipertahankan, mana yang harus dilupakan.

Wisdom sering dibedakan dengan knowledge, knowledge menggunakan otak, wisdom menggunakan otak dan hati. Padahal sebenarnya kita tahu, hati (atau jantung) kita tidak digunakan untuk berpikir, keduanya baik knowledge dan wisdom, sama-sama bersumber dari olahan otak kita.

Katanya paling mudah penjelasannya begini, knowledge, dengan otak kita bisa belajar bagaimana membuat dan menggunakan senjata, tetapi dengan wisdom, kita tahu kapan boleh menggunakannya, atau lebih baik menempanya menjadi mata bajak.

Artificial Intelligence – Machine Learning

Sekarang kita memasuki era baru, dengan perkembangan internet dan teknologi yang pesat, masuklah kita ke era AI, Artificial Intelligence, atau sering disebut sebagai Machine Learning, kecerdasan buatan. Nah loh katanya yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah pengetahuan, dan sekarang mesin pun bisa belajar dan memiliki pengetahuan, bahkan dengan tingkat dan kecepatan belajar yang sangat tinggi.

Sepuluh tahun lalu, deep blue, sebuah komputer milik IBM mengalahkan juara catur dunia, Garry Kasparov.

Tahun lalu deepmind alphaGo, sebuah komputer AI milik Google, mengalahkan Lee Seedol juara dunia catur go (catur klasik China) dengan mudah. AlphaGo belajar dari ratusan ribu pertandingan catur Go yang di-input manusia untuk mendapatkan pengetahuan dan taktik tentang bermain catur Go.

Tahun ini Google membuat penerus alphaG0, dinamai alphaGo Zero. AlphaGo Zero tidak lagi diberi input permainan catur Go, tetapi diminta belajar melawan dirinya sendiri dari langkah-langkah random. Dalam waktu 3 hari setelah belajar sendiri, alphaGo Zero ditandingkan dengan original alphaGo yang telah mengalahkan juara dunia. Hasilnya dari 100 pertandingan, alphaGo Zero menang 100-0 melawan pendahulunya!

Elon Musk, pria yang dijuluki real Tony Stark Iron Man, pemilik Tesla dan Space X, pernah mengatakan bahwa manusia harus dari sekarang membuat regulasi tentang AI. Kemudian berdebatlah banyak orang, ada yang meng-iyakan, ada yang mengatakan mungkin Elon terlalu banyak menonton film apokaliptik seperti Terminator dan Skynet-nya.

Sebulan kemudian Elon merelease OpenAI nya, dan langsung mengalahkan juara dunia game DOTA Dendi Ishutin. Game DOTA ini membutuhkan strategi untuk bisa mengalahkan lawan, dan OpenAI bisa bergerak dan membuat strategi sangat mirip dengan manusia. Setelah 2 kali bertanding dan Dendi kalah, ia menolak melanjutkan game ketiga, tidak percaya sebuah “bot” AI bisa mengalahkannya dengan mudah.

Stephen Hawking, fisikawan kaliber kelas berat dunia yang terkenal, yang harus senantiasa duduk di kursi roda dan berbicara dengan alat bantu, memprediksikan, suatu saat manuisa akan digantikan robot AI.

Dan kita pun berimajinasi, suatu saat apakah dunia akan chaos seperti film Terminator atau The Matrix, dimana kita diperbudak AI, atau kita benar-benar akan musnah dan digantikan AI?

Imajinasi, ini satu lagi kemampuan otak kita selain ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Sepanjang sejarah, imajinasi berperan sangat penting untuk kemajuan teknologi. Ribuan tahun lalu, kisah-kisah mitologi berimajinasi bahwa manusia bisa terbang walau dengan sayap seperti burung. Ratusan tahun lalu, Leonardo da Vinci merancang banyak alat dari helikopter, tank, hingga prajurit robot. Bahkan film fiksi Star Trek dimulai sebelum manusia pertama menjejakkan kakinya di bulan. Dari banyak imajinasi itu, ternyata sekarang kita melihat hasil real-nya. Communicator, tablet, komputer yang berbicara dari Star Trek sudah kita lihat sekarang, eksplorasi luar angkasa sudah dimulai manusia, dan manusia terbang dengan pesawat setiap hari.

Imajinasi manusia tidak berhenti di sana, setiap hari cerita dari olah imajinasi manusia dihasilkan, menjadi novel dan film-film dengan tema menarik, bahkan disalahgunakan menjadi hoax. Tetapi kita tidak akan menghabiskan waktu bercerita tentang hoax di sini, kita akan bercerita tentang imajinasi dunia masa depan yang diolah untuk manusia, dari buku dan film-film yang mengejutkan. Sebentar lagi kan kita akan libur, siapa tahu cerita-cerita menarik ini ingin kalian kejar.

 

The Walking Dead

Film seri yang mengisahkan wabah yang mengubah manusia menjadi zombie, atau disebut walker, sampai sekarang masih belum ada ending-nya. Ini salah satu film seri yang paling terkenal selain Game Of Thrones.

Wabah ini tentu saja mendunia, karena sekarang cerita besar itu harus dalam skala yang besar untuk menjadi menarik. Kita digiring pada awalnya untuk melihat bahwa manusia harus bertahan hidup dari walker, tetapi ternyata akhirnya musuh terbesar manusia adalah manusia sendiri, manusia rela melakukan apa saja untuk memenangkan persaingan dan berkuasa atas manusia lain.

Saat di cerita awal kita mengira bahwa manusia baru berubah menjadi walker jika digigit oleh walker lain, tetapi tidak, ternyata manusia menyimpan DNA yang ketika ia mati wajarpun akan bangkit menjadi walker. Disinilah kisah apokaliptik ini menarik, saat di season 2 episode akhir, Hershel Greene, seorang bapak yang taat beragama, melihat peternakannya diserbu zombie walker, mengatakan quote yang menarik yang tertulis di kitab suci bahwa saatnya nanti tidak ada lagi kematian, dan manusia akan bangkit.

“Ketika Tuhan mengatakan bahwa pada akhirnya manusia akan bangkit dari kematian, aku pikir ternyata Tuhan memiliki ide yang lain” – Hershel Greene.

(Foreground) Hershel Greene (Scott Wilson) – (Background L-R) Andrea (Laurie Holden), Glenn (Steven Yeun), Lori Grimes (Sarah Wayne Callies), Carol (Melissa Suzanne McBride), T-Dog (Robert ‘IronE’ Singleton) and Rick Grimes (Andrew Lincoln) – The Walking Dead – Season 2, Episode 7 – Photo Credit: Gene Page/AMC

 

Black Mirror

Film seri di Netflix ini berkisah tentang satir kehidupan kita di era teknologi. Setiap episode biasanya berdiri sendiri, dan seperti namanya black, kisahnya seringkali kekelaman efek dari teknologi.

Dalam benak kita, sebagai orang yang dibesarkan “harus beragama” di Indonesia, ide tentang kehidupan kekal, entah di surga, entah di nirwana, entah di bumi yang baru, sudah pasti melekat. Bahkan tindak tanduk kita senantiasa diingatkan akan berbalas, kehidupan kekal untuk yang baik, dan kematian bagi yang jahat.

Abad dahulu memiliki catatan ketika agama menjadi kekuasaan absolut, senantiasa imajinasi manusia pun dikekang, jangankan berpikiran maju, imajinasi pun yang tidak sesuai dengan kaidah agama sering dianggap pengingkaran. Termasuk paham baru bahwa bumi bulat dan bukan pusat alam semesta, dan bumi beredar mengelilingi matahari. Tetapi sejarah membuktikan, imajinasi dan ilmu pengetahuan senantiasa tidak dapat dikekang, dan akan memperlihatkan sendiri kebenarannya.

Sekarang di era teknologi yang maju, tidak ada lagi kekangan seperti itu bagi manusia untuk berpikir dan berimajinasi, dan seringkali imajinasi ini dianggap memiliki hubungan yang erat dengan kreativitas. Seringkali manusia diajak untuk melihat kembali kepada anak kecil, yang bebas berimajinasi dan mengaitkannya dengan kebahagiaan manusia yang hilang seiring mereka menjadi besar atau dewasa. Dan black mirror ini bisa menjadi wakil dari imajinasi luas manusia tentang teknologi dan efeknya.

Salah satu episode dari Black Mirror yang membuat kita mangut-mangut, dan mungkin berpikir, jangan-jangan ini akan benar kejadian, bahwa sekali lagi Tuhan mungkin memiliki ide lain saat berbicara tentang masa depan dan hidup kekal ada di season 3 episode 4, San Junipero.

Manusia tetap tidak bisa mengalahkan sakit, hari tua, dan kematian. Tetapi bagaimana jika otak kita sesungguhnya adalah versi canggih dari memory card atau hard disk yang di masa mendatang bisa disalin, terus berpikir, dan terus hidup?. Bagaimana jika manusia yang otaknya mudah dimanipulasi, seperti saat bermimpi bisa merasakan seolah-olah mimpi adalah kejadian sungguhan, benar-benar bisa dibuat terus berada di dalam mimpi virtual? Inilah ide San Junipero, realita virtual untuk otak manusia saat mereka sakit dan tidak bisa bergerak, dan saat mereka akhirnya mati, untuk bisa terus “hidup kekal” di dalam server dengan realita virtual yang mereka pilih. Sick! 😀

 

Origin, novel Dan Brown.

Dan Brown ini memang novelis dengan imajinasi yang “liar” bagi sebagian orang. Novel The Da Vinci Code nya mencengangkan, terkadang sulit untuk orang membedakan hiruk pikuk karangannya yang mengubah pemahaman gereja dengan narasi baru, sebagai pembangkangan, atau sebenarnya hanya trik marketing.

Tetapi jika kita mau membaca karyanya, terlihat memang selain kisah dan alur ceritanya sangat menarik, banyak tulisannya berdasarkan riset dan lokasi nyata sehingga terlihat sungguhan, dan kemudian dengan pandai dia men-twist-nya menjadi lebih heboh. Kalau kita iseng, kita bisa membaca karyanya sambil membuka google maps.

Beberapa karyanya setelah the Da Vinci Code, masih terus menarik, malah terus di filmkan dan laris, apalagi diperankan oleh Tom Hanks sebagai Prof. Robert Langdon, seorang ahli simbologi.

Origin, a novel, adalah karya terakhirnya. Belum terlalu hiruk pikuk karena belum ada versi terjemahan bahasa Indonesianya, tetapi buat mereka penikmat teknologi, kisah kali ini sangat menarik. Teori yang kita pelajari dari dulu, seperti evolusi, big bang, hingga teknologi terkini seperti Tesla, Uber, Quantum Computer dan Artificial Intelligence dikisahkan dalam balutan cerita suspen yang seru, dan bumbunya tentu saja lagi-lagi dalam bungkus agama, sebagai trik marketing Dan Brown. (Dibandingkan baca berita 212, yang bungkusnya sama, dan menimbulkan perdebatan antara 35 ribu dan 7.5 juta), lebih baik kita mengeluarkan uang 29ribu rupiah untuk membeli novel ini dan menghabiskan waktu berhari-hari untuk melahap novel tebalnya hingga habis, selain terhibur, setidaknya kita diajak berimajinasi yang bikin manggut-manggut, siapa tahu sekali lagi Tuhan punya ide lain tentang manusia yang baru, bumi baru, dan kehidupan kekal, dan siapa tahu Elon Musk dan Stephen Hawking memang benar, AI ini “menakutkan”.

Inti utama buku ini kembali ke pertanyaan klasik tentang kehidupan, “darimana kita berasal, dan kemanakah kita nantinya?”

Buku digitalnya bisa dibeli di google play store, dengan diskon 85% untuk sekali pembelian bagi mereka yang belum pernah membeli buku di google, hingga dari harga diskon hampir 200rb, hanya perlu dibayar 29 ribu rupiah. Caranya simple, install google play books saja, dan nikmati diskon 85% untuk pembelian buku pertama. Selain via CC, kita juga bisa membayarnya via potong pulsa operator.

Manusia adalah penguasa dunia sekarang, tetapi 200 ribu tahun sebelum masehi, manusia bukan spesies yang berpengaruh di bumi. 65 ribu tahun sebelum masehi, manusia menemukan tombak dan busur panah sebagai senjata, dari sana manusia mulai mengambil alih dunia walau butuh waktu yang lama. Saat manusia menemukan roda dan manusia mengerti tentang ilmu berlayar dan melihat bintang sebagai panduan, manusia menjelajah ke tempat-tempat yang jauh, dan menemukan bahwa bumi tidak berujung. Bumi bulat. (Dan herannya masih saja di jaman now ada yang ingin kembali ke abad kegelapan dan mengatakan bumi datar..hmm)

Ilmu pengetahuan membuat manusia maju, setiap saat ada waktunya manusia leap maju dengan cepat, misalnya revolusi industri, kemajuan yang biasanya butuh beratus atau berpuluh-puluh tahun ditempuh dengan waktu yang lebih singkat karena ditemukannya alat-alat bantu yang berguna. Dan sekarang kita ada di leap berikutnya, revolusi internet, komputer, dan machine learning atau AI. Akankah AI menghianati manusia dan membuat dunia seperti di film Terminator? Atau seperti imajinasi dari Dan Brown?

Tahun 2050, manusia sebagi homo sapiens diperkirakan tidak ada lagi, tetapi telah berbaur dengan AI, dan menjadi spesies baru yang dinamakan Technium dikisahkan Dan Brown pada novelnya, sebagai wujud evolusi Darwin berikutnya, survival ofthe fittest. Mungkinkah? Entahlah, tetapi sekarang manusia sudah memahami rangkaian DNA, dan mencoba mengeliminasi mana DNA yang menyebabkan manusia lemah dan sakit. Ilmu kedokteran juga maju pesat, dan mungkin saja tidak lama lagi kita ini seperti handphone yang rusak, dan tinggal diganti partnya untuk terus hidup. Ide fiksi di film Matrix 18 tahun lalu, dimana skill atau ilmu tinggal diunduh ke dalam otak untuk menguasainya dalam waktu singkat, yang dulu pure imagination, sekarang seperti blip yang mungkin saja bisa dilaksanakan.

Mobil tanpa perlu supir sudah berjalan sekarang, penerbangan ke Mars sudah dirintis, ribuan pekerjaan yang dilakukan manusia, sebentar lagi akan diambil alih oleh mesin dan AI. Beberapa CS perusahaan sudah berganti tidak lagi ditangani manusia, tetapi oleh AI.  Ide tentang Winston, AI yang jauh lebih pintar dari Siri dalam cerita novel ini, ada kemungkinan besar tak lama lagi akan tercapai.

Sebagian pabrik perakitan mobil dan smartphone sudah dikerjakan robot, mereka tidak pernah mengeluh waktu lembur, presisi, tidak mengantuk, tidak membawa beban kekesalan saat putus dengan pacar yang mempengaruhi kinerja, dan tidak turun ke jalan untuk berdemo.

Sebentar lagi bus, taxi uber, tidak lagi memerlukan supir, dan mereka di klaim lebih tepat waktu dan taat peraturan di jalan. Bayangkan ributnya ojek pangkalan, supir taxi manual, supir angkot,  saat kendaraan online hadir, dan apa nanti efeknya ketika mobil angkutan tidak lagi memerlukan supir?

Mesin ATM yang ada di mana-mana dan m-banking saja menunjukkan, bahwa pekerjaan teller bank akan menjadi pekerjaan gelombang pertama yang akan hilang. Jalan tol digantikan e-money saja banyak orang sudah ribut, berapa banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Tunggu sebentar lagi ketika orang-orang tidak perlu membawa lembaran kertas uang untuk semua transaksi dan hanya butuh men-tap dengan smartwatch maupun handphone, bahkan tidak butuh kartu plastik. Berapa pekerjaan hilang di belakangnya, dari pabrik pencetakan kertas untuk uang, kurir pengantar kartu, sampai mereka yang hidup dari mengumpulkan uang receh.

Betapa hebatnya imajinasi, bahwa ia bisa saja menjadi inspirasi yang dalam sejarah seringkali ditertawakan pada jamannya, dan ternyata terbukti pada waktunya. Imajinasi tentang AI ini mungkin saja seperti yang dikhawatirkan oleh Elon Musk, dan ditakutkan oleh Stephen Hawking. Dan rasanya kita saja yang mendengar bahwa beberapa pekerjaan akan hilang dalam gelombang pertama AI saja sudah bergidik, bagaimana manusia akan bertahan?

Kemudian kita kembali berharap kepada cerita-cerita robot klasik, bahwa yang mereka kejar ingin menjadi manusia seutuhnya, memiliki hati dan imajinasi, dan merekapun ingin bermimpi saat tidur. Tetapi bagaimana kalau mereka benar hanya machine learning, pure knowledge?

Sepertinya Dan Brown yang berimajinasi saja bergidik, dan menutup kisahnya dengan masih membuka jawaban lain dari  pertanyaan, darimana kita berasal, dan kemana kita akan pergi?

Jadi siapa diantara manusia yang akan bisa bertahan bila saja imajinasi tentang AI ini benar terjadi? Bagaimana jika benar ternyata ide Tuhan ini tentang kebangkitan dan kehidupan kekal ternyata berbeda dengan yang kita bayangkan karena besarnya gap knowledge antara kita dan Dia?

Sebenarnya dari ketiga kisah imajinatif di atas, kalau kita tonton, baca, dan perhatikan, ada benang merah yang sama yang selalu diceritakan walau tersamarkan, yang mungkin kita lupa sebagai DNA asli manusia yang ada dalam otak, selain ilmu pengetahuan, kebijaksanaan, dan imajinasi, alur utama ceritanya senantiasa bercerita tentang manusia dengan iman, harapan, dan kasih, dan kasih senantiasa menjadi penyelamat paling akhir.

Live Long and Prosper.

Terima Kasih untuk ucapan Selamat Ulang Tahun, doa, harapan, dan kasih

Bandung, 4 Desember 2017

One thought on “Ketika Tuhan Punya Ide Lain dengan AI

Leave a Reply