Byur, dan Smartphone-ku pun Almarhum

Kala ponsel yang kita kenal sekarang dengan sebutan featured phone, ponsel yang belum smart, sedang hype di Indonesia, dan SMS masih jadi tulang punggung chat, saya belajar menggunakan PDA (Personal Digital Assistant).

Maklum barang baru, semuanya masih titip teman yang pulang dari luar negeri, karena belum ada penjualnya di Indonesia. Gagah benar rasanya pakai Palm OS atau Pocket PC, yang sekarang semuanya sudah almarhum. Kita menyebutnya juga dengan komputer genggam, miniatur komputer untuk bekerja di jalan, bisa membuat jadwal, catatan digital, membuka office app, termasuk bermain game.

Palm V

Mungkin sudah jalannya, namanya barang elektronik bisa saja rusak. Dan saya juga mengalami PDA saya rusak, tidak ada reparasi yang bisa dan berani mencoba, karena mereka juga tidak pernah tahu jeroannya seperti apa.

Basis saya juga bukan di elektro, tetapi karena terdesak, akhirnya saya bongkar sendiri sambil belajar dari internet dan dari forum-forum luar.

Berhasil? Ya engga lah wkwkwk

Tapi setidaknya sudah mencoba, sudah belajar banyak, dan sudah lebih siap. Sampai kemudian bisa berhasil memperbaiki milik teman, bisa membuat device punya baterai cadangan dan terkoneksi dengan peralatan lain.

Kesenangan belajar dan mengoprek gadget ini akhirnya membawa saya lebih jauh punya toko kecil gadget, yang tentu saja sekalian menerima ngoprek software dan memperbaiki hardware, bahkan diangkat jadi service center resmi brand.

Dan tebak gadget rusak terbanyak karena apa? Karena kena air, dan kebanyakan kecemplung.

Saat itu ponsel tahan air jarang sekali, yang tahan air itu peralatan outdoor seperti GPS untuk mendaki gunung dan melaut. Karena banyaknya ponsel dan smartphone terkena air, saya sampai buat sendiri alat vakum khusus, hasil mengubah alat vakum makanan untuk mengeringkan kelembaban gadget. Perbaikan kena air ini kuncinya satu, kesabaran. Gadget bisa di dalam alat vakum hingga 2 minggu baru kemudian dirakit ulang dan dinyalakan.

Sebagian besar bisa sembuh asal mau sabar, yang biasanya rusak ketika orang tidak sabar dan ketika habis terendam dibersihkan dan berkali-kali coba dinyalakan karena penasaran, malah korslet.

Yang hampir bisa divonis akan mati adalah ketika gadget terendam air laut, apalagi dibiarkan seharian. Ketika kita buka korosifnya sudah menyebar bahkan meninggalkan bekas berwarna hijau di banyak komponen.

Banyak orang berpikir ah saya kan tidak mandi bawa smartphone, saya sangat berhari-hati  tidak akan smartphone terlepas dan masuk ke air. “Pasien” saya juga semua berpikir begitu mulanya, sampai ketika peristiwa kemasukan air terjadi.

Ada yang jatuh ke wastafel hingga ke kloset, bahkan jatuh di genangan air dan selokan.

Ada yang tidak sadar botol minumnya bocor tidak tertutup rapat di dalam tas yang berisi smartphone, tertumpah kopi, hingga kehujanan saat smartphone di kantung celana.

So, saat smartphone keluar dengan kemampuan tahan air, saya meyakini ini langkah bagus, dan saya percaya bahwa vendor pasti membuatnya karena berdasarkan data kerusakan.

The Guardian pernah merelease study, yang mengatakan 25% pengguna ponsel pernah merasakan ponselnya terkena air.

Lima tahun lalu, IDC pernah me-release riset, bahwa setiap hari 100rb unit smartphone rusak karena air, ini berarti 36.5 juta unit setahun, atau mencapai 11% dari smartphone yang beredar setiap tahun di Eropa saat itu, dan menghabiskan biaya perbaikan sebesar 153 triliun rupiah.

Menurut riset yang sama, kerusakan smartphone kena air adalah kerusakan kedua terbanyak, dimana yang pertama adalah kerusakan karena layar pecah akibat smartphone terjatuh.

Jadi kita melihat memang vendor seperti Samsung membuat jajaran smartphone tahan air adalah penting.

Di tahun 2014, Samsung merelease smartphone flagship pertamanya, Galaxy S5 yang tahan debu dan air. Tahan air di smartphone ini bisa dikatakan impresif, karena saat itu smartphone dengan baterai tanam belum musim, jadi Galaxy S5 ini masih bisa dibuka tutup baterai belakangnya dan dimasukkan baterai, sehingga celah tutup baterai harus benar-benar rapat. Juga port chargernya masih harus dilindungi flap penutup.

IP ratingnya pun bagus IP67. Saya ingat saat device ini di-release, Samsung Indonesia wanti-wanti, menyarankan jangan dimasukkan ke dalam air atau direndam. Tapi namanya Netizen, terutama di luar negeri, makin dilarang makin penasaran. Mulailah kita melihat torture test, Galaxy S5 direndam di kolam renang hingga dimasukkan mesin cuci.

Samsung Galaxy S5

Galaxy S7 di tahun 2016 menjadi cikal bakal flagship Samsung yang memiliki IP rating lebih tinggi, yaitu IP68. Torture test terhadap device ini semakin menggila hahahaha.

Yang mengejutkan di tahun 2017, Samsung menyematkan kemampuan tahan air ini kepada Galaxy Seri A yang baru, Galaxy A5 dan Galaxy A7.

Ini langkah yang menarik, melihat sebagian besar brand, kelas flagshipnya pun rata-rata belum dibuat tahan air.

Sayangnya kemampuan tahan air di Galaxy A ini pada seri penerusnya ditiadakan, tetapi sekarang kembali lagi di Galaxy A52 dan Galaxy A72 (2021) yang terbaru dengan IP Rating IP67..

Jadi apa sih IP Rating itu? Apakah water resistant atau waterproof?

Istilah water resistant dan waterproof ini sebenarnya tidak fix, ada pendapat yang berbeda-beda.

Ada yg mengatakan kalau water resistant itu tidak tahan direndam, dan kalau waterproof tahan direndam dalam air.

Tapi saya sendiri lebih menyetujui pendapat teknikal seperti ini:

Water Resistant: Device bisa menahan air masuk, tetapi dalam batasan atau kondisi tertentu.

Waterproof: Device tahan air, seberapa lama pun dia berada di dalam air.

Daya tahan terhadap air ini ada tingkatannya, dikenal dan ditandai dengan IP Rating, Ingress Protection Rating.

Tingkatan tahan air ini ditandai dengan 2 huruf IP dan kemudian 2 angka, misalnya IP67 atau IP68.

Kita ambil contoh IP67

IP itu Ingress Protection

Angka pertama yaitu angka 6 adalah daya tahan terhadap benda padat atau debu. Karena bukan saja air yang bisa masuk ke dalam device tetapi juga debu. Kalian tidak mau kan di layar ada debu yang tidak bisa di lap karena ada di dalam, atau pada lensa kamera ada debu sehingga hasif foto terganggu.

Semakin besar angka pertama ini, semakin tahan akan debu yang semakin kecil. Angka 6 adalah angka tertinggi tahan debu, jadi device sama sekali tidak akan kemasukkan debu sekecil apapun. Sementara angka 1 hanya bisa menahan objek padat lebih besar dari 50mm. Jadi ini lubang yang cukup besar, misal kisi-kisi. Lubang sebesar ini biasanya untuk menahan tangan masuk.

Angka kedua, yang berarti dicontoh ini angka 7 menunjukkan daya tahan terhadap cairan. Angka 7 ini berarti device bisa direndam ke dalam air hingga kedalaman 1M maksimal selama 30 menit, dan dijamin air tidak akan masuk.

Untuk lengkapnya IP rating ini bisa dilihat di bagan di bawah ini:

Terkadang ada angka IP Rating yang tidak komplit, misalnya IP6x. Ini berarti device hanya di test untuk keperluan tahan debu, tetapi untuk ketahanan airnya tidak di test.

Standar IP Rating ini dikembangkan di Eropa. Sebenarnya Amerika Serikat juga memiliki standar yang mirip, namanya NEMA Type Rating, berdasarkan nama asosiasi pembuatnya National Electrical Manufactures Association, tetapi IP Rating yg dikembangkan di Eropa lebih diterima dan digunakan secara global.

IP Rating ini tidak perlu disertifikasi oleh badan tertentu. Jadi Samsung cukup melakukan testnya di lab sendiri.

(Tetapi tetap ada badan-badan sertifikasi tertentu yang menyiapkan juga sertifikasi untuk IP rating.)

Misalnya Galaxy A52, untuk di label IP67, berarti Samsung akan merendamnya dalam air bening dengan suhu tertentu sedalam 1 M selama 30 menit, kemudian mengecek apakah ada kebocoran dari desain smartphone tersebut. Perbedaan IP67 dan IP68 di kedalaman dan waktu, IP68 boleh di bawah 1 meter dan dalam waktu yang lebih lama sesuai test.

Untuk test ketahanan debu, device akan dimasukkan ke dalam dust chamber dan kemudian partikel debu disemprotkan dengan bantuan kipas yang memang sudah didesain di dust chamber sehingga seluruh bagian smartphone ter-cover debu.

Setelah selesai dan didiamkan, device kemudian dibongkar dan di cek apakah ada debu masuk ke dalamnya.

Galaxy A52 IP67 Rating

Pernah terpikir ngga kenapa tidak semua smartphone dibuat dengan kemampuan tahan air?

Untuk mendapat perspektif atau insight-nya, kita perlu melihat sedikit teknis, bagaimana cara smartphone dibuat tahan air.

Kita lihat Galaxy A52, betapa banyaknya lubang yang mungkin dimasuki air. Misal di bagian bawah, ada lubang audio jack 3.5mm, mic, USB-C, Speaker,

Bagian Lubang-Lubang Galaxy A52 yang Mungkin dimasuki Air

Di bagian atas ada lubang mic kedua, dan ada sim tray.

Di bagian sisi kanan ada tombol volume dan power, yang kalau kita tekan akan membuat celah.

SIM Tray juga menjadi lubang besar untuk dimasuki air

Belum lagi celah sekeliling antara bagian belakang smartphone dan frame, juga celah yang sama antara layar dan frame.

Untuk membuat device tahan air, pertemuan antara frame dan penutup belakang, atau layar dengan frame, selain butuh lem khusus, juga harus ada tambahan gasket, pita tipis seperti karet ini menutup celah yang mungkin ada di pertemuan sambungan. Gasket ini biasanya bisa rusak setelah dibuka dan harus diganti

Gasket Seal

Ini mengapa device dengan kemampuan IP67 atau IP68 sangat tidak disarankan untuk diperbaiki atau diservis bukan di tempat resmi seperti Samsung Service Center, karena ketika pemasangan kembali bukan di servis resmi, kemampuan tahan airnya akan hilang, karena tidak mungkin mengganti gasket dan biasanya bagian penutup belakang dan frame tidak akan di lem kembali, kemungkinan hanya menggunakan double tape.

Part lubang audio dipilih yang khusus, ada rubber atau karet tambahan untuk menahan air.

Tambahan Karet Seal pada Jack Audio

USB-C juga memiliki karet tambahan di sekelilingnya untuk menahan air tidak bocor dan biasanya untuk device dengan IP rating seperti Galaxy A52, bahan material USB-C nya berbeda, yg lebih tahan terhadap korosif atau karat, misalnya mengandung nikel atau platinum.

Tidak sampai disitu USB-C ini karena menjadi port charging perlu tambahan perlakuan khusus, seperti sensor tambahan kalau port ini sedang basah, misalnya habis terkena air atau terendam. Ini menjadi notifikasi peringatan bagi kita di layar saat charging dalam keadaan port masih basah, untuk menunggu hingga kering benar.

Sensor juga harus bisa mematikan aliran listrik saat port basah, agar tidak korslet.

Rubber Seal tambahan pada USB-C

Bagaimana dengan lubang mic dan speaker?

Lubang mic dan speaker kan harus bisa menghantarkan suara, jika tertutup berarti suara tidak bisa masuk atau keluar. Nah ini menarik, jadi bagaimana membuatnya tahan air?

Samsung menggunakan bahan seperti Gore-Tex membrane. Membran fabric ini unik, dia bisa menahan air tapi breathable. Seperti jalan satu arah, demikian lapisan ini, bisa memblok air masuk tapi tetap berpori dan suara bisa dihantarkan.

Bahan ini mirip yang digunakan pada sepatu gunung atau jaket, dimana tidak bisa kemasukkan air, tetapi panas di dalam bisa keluar.

Pada bagian SIM card device yang tahan air, terdapat seal karet dekat bagian penutup, gunanya sama menutup celah dari air. Pastikan SIM tray ini menutup rata hingga rata dengan frame.

Seal Karet pada SIM Tray, menjaga air masuk

Kita lihat membuat smartphone tahan air bukan perkara sederhana, tidak cukup selesai dalam pembuatannya di pabrik, tetapi juga menyangkut layanan purna jual, karena setiap service selain harus mengganti gasket, me-lem dengan proper, dan harus melakukan uji ketahanan air. Belum lagi part-part tahan air ini tentu lebih mahal.

Ini yang menjadi faktor tidak banyak brand mau melakukannya kalau belum punya standar service center dan tenaga terampil yang bisa melakukannya, apalagi untuk smartphone kelas menengah atas seperti Galaxy A52, bukan hanya untuk flagship.

Memiliki IP Rating seperti IP67 bukan berarti smartphone kita bebas di rendam di mana saja.

Walaupun memiliki sertifikasi tahan air, tidak ada brand smartphone yang memberikan garansi kalau smartphone rusak karena air. Nah aneh kan, kok bisa?

Di dalam unit smartphone, Samsung menempatkan beberapa sticker liquid contact indicator, terutama dekat area yang mungkin jadi lubang pertama yang kemasukkan air, seperti SIM tray, jack audio, dll.

Sticker ini seperti kertas lakmus, akan berubah menjadi merah ketika kena cairan, dan bagian service akan mengetahui kalau device pernah kemasukkan air.

Sticker dari putih berubah menjadi merah jika terkena Air

Jadi kenapa tidak garansi? Karena daya tahan air ini bisa berkurang atau rusak karena pemakaian, kesalahan pengguna, dan umur.

Misal device beberapa kali terjatuh, bisa membuat celah terbuka. Kemudian kesalahan pengguna, misalnya kurang rapat menutup SIM card. Baterai kembung yg mengangkat tutup hingga terjadi celah.

Test di lab menggunakan cairan bening, tapi pengguna smartphone bisa saja membawa smartphone berendam di air laut, atau di kolam renang yang airnya mengandung bahan chlorine. Siapa pula yang mengukur kalau kita berenang tidak lebih dalam dari 1 meter.

Walau kemungkinan smartphone dengan IP67 kebanyakan tidak akan apa-apa, tapi resiko ini tidak bisa diantisipasi.

Jadi menurut saya fair, IP67 tetap memberikan proteksi dari banyak kejadian yang mungkin saja terjadi, tetapi liputan garansinya juga terbatas. Seringkali untuk banyak orang, nantinya yang terpenting adalah data di dalamnya, bukan sekedar unit smartphone-nya.

Device jatuh layar pecah, kita masih bisa mengganti layar dan melihat lagi data kita, tetapi ketika sudah korslet kena air, device tidak bisa menyala lagi, ganti mainboard, tetap saja data yang lama tidak bisa dilihat lagi.

Jadi untuk siapa sih device dengan IP67 ini, misal di Galaxy A52 atau Galaxy A72?

Pertama untuk mereka yang tidak mau ambil resiko, mau proteksi sebaik mungkin di smartphonenya dari kondisi luar. Jadi tidak spesifik, boleh siapa saja bidang apa saja yang merasa cocok dengan desain, dan kemampuan smartphone tersebut.

Kemudian mereka yang banyak bekerja di luar, misal arsitek, sipil, bagian konstruksi dll. Debu terkecil yang bisa masuk ke smartphone bukan saja dari luar, tetapi di dalam saku celana.

Pekerja Lapangan butuh Smartphone dengan standar rating IP67 atau IP68

Mereka yang suka melakukan aktivitas outdoor, bersepeda, motor, jelajah alam.

Mereka sang eksplorer, yang mau foto dan video dari sudut yang berbeda, misal dari dalam kolam.

Bahkan ojek online, jangan dianggap remeh. Banyak dari mereka motornya juga bagus-bagus di atas 30jt, jadi smartphone-nya juga tidak murah lah.

That’s it cerita saya yang rencananya dibuat sedikit, hanya cerita tentang IP67, kok lama kelamaan sepertinya memanjang terus.

Saat ini saya juga menggunakan Galaxy A52, menurut saya device ini memang layak menjadi penerus Galaxy A51 yang menjadi salah satu device paling diminati di Amerika Serikat. Fitur-fitur dari flagship hampir lengkap disini, layar bagus, baterai bagus, ukuran dan berat enak, desain menarik, kinerja untuk handle task sehari-hari bisa diandalkan, dan IP67 yang menyertainya membuat saya tidak ragu saat habis bepergian, di rumah menyemprot dan membersihkannya dengan alkohol, bahkan mencucinya di keran.

Termasuk membawanya ke kamar mandi untuk mendengar lagu, membaca berita, melanjutkan nonton sambil gosok gigi, tanpa khawatir rusak terkena air.

Psst… kalian juga sama kan ke KM bawa smartphone? wkwkwkwk.

See ya!

Artikel ini pernah direlease untuk Aplikasi Samsung Member, wadah untuk berbagi pengalaman, sharing pengetahuan, dan solusi dari device Samsung di Indonesia. Artikel aslinya bisa dibaca di sini:

https://r1.community.samsung.com/t5/galaxy-a/byur-dan-smartphone-ku-pun-almarhum/td-p/11094292

2 replies on “Byur, dan Smartphone-ku pun Almarhum”

  1. Joehanes on

    Bulan lalu saya servis ganti baterei galaxy note 9 di Samsung service center Plaza Marina Surabaya dan oleh petugas diinfo kalau ganti baterei maka kemampuan daya tahan air dari note 9 tersebut akan hilang, sebab tool mereka untuk memasang kembalj tidak bisa membuat serapat pabrik Samsung.
    Mohon info samsung service center mana yang bisa menjamin ketahanan ip bisa balik seperti semula.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.