Jalan Panjang Smartphone Lipat, Flip and Fold

Slow Motion

Sekarang ini flagship smartphone sudah semakin sedikit berinovasi. Perubahannya paling besar “hanya” mengganti chipset terbaru yang lebih kencang, dan mengadu hasil kamera yang lebih baik.

Bisa dikatakan chipset sekarang sudah sangat cepat untuk ukuran smartphone dan penggunaan sehari-hari, mengganti chipset yang lebih kencang tidak terasa, kecuali kita bermain game berat atau merender/mengedit video di smartphone.

Hasil kamera pun beda-beda tipis, walaupun DxOmark punya ukuran angka, tetapi real-world test dari kebanyakan orang, banyak yang tidak sepakat. Jadi masalah hasil kamera adalah subjektif.

Saat ini kita bisa melihat vendor yang punya plan jauh ke depan, atau vendor yang sekedar mengisi part smartphone dengan sekedar spek tertinggi saja tanpa visi ke depan yang jauh.

Vendor yang memiliki visi jauh akan sudah bisa membaca, bahwa suatu saat flagship smartphone akan melambat dan inovasinya akan incremental, sehingga harus dilakukan inovasi lebih jauh untuk mendorongnya tetap menarik dan memiliki kelebihan.

Disinilah kita melihat mengapa Samsung sekarang memimpin dalam perkembangan smartphone lipat, yang dikenal dari seri Z, Flip dan Fold. Dan ide ini dimulai jauh-jauh hari ketika Samsung keukeuh menggunakan layar AMOLED yang saat itu belum matang, berbeda dengan vendor lainnya yang mengadopsi LCD.

Fold The Beginning

Panel layar OLED atau brand Samsung dinamakan Super AMOLED, yang dikembangkan terus menerus oleh Samsung, sampai pada suatu masa bisa menjadi tipis dan fleksibel, Samsung menamakannya YOUM Display, dan diperkenalkan di acara CES 2013.

Acara  Customer Electronic Show ini menjadi ajang global untuk memamerkan inovasi dan produk terbaru dari para vendor elektronik seluruh dunia, tidak hanya smartphone, tetapi juga PC, televisi, laptop, dan lain-lain, yang diadakan di Las Vegas, Amerika Serikat.

Para media yang diundang ke acara tersebut dan menyaksikannya memenuhi ruangan dengan suara “Wow!” berulang kali saat layar fleksibel ini didemonstrasikan.

Pada acara tersebut juga diperlihatkan prototype smartphone dengan layar yang ujung tepinya melengkung, seperti yang kita banyak lihat di flagship smartphone beberapa tahun belakangan ini, termasuk layar melengkung di satu sisi yang akhirnya di tahun depannya, 2014, menjadi smartphone Galaxy Note Edge.

Tapi yang menarik di acara tersebut Samsung memperlihatkan sebuah iklan menarik yang menjadi visi kedepan Samsung dengan layar Youm, sebuah device yang ketika dilipat menjadi smartphone, dan saat dibuka menjadi tablet, “that flexibility”

Samsung’s Youm Folding Smartphone Ad from the CES 2013 keynote

Butuh waktu 6 tahun dari iklan impian Samsung ini, hingga akhirnya di tahun 2019, Galaxy fold pertama diperkenalkan. Dan benar, iklan ini bukan sekedar impian, tetapi sebuah visi.

The Next Generation

Project Galaxy Fold akhirnya diperlihatkan di tahun 2019, sepertinya belum selesai benar, dan pertama kali hanya ditunjukkan sekilas. Itupun sudah membuat gonjang-ganjing yang seru.

Ada cerita di belakangnya kenapa Samsung tumben memperlihatkan device barunya yang sepertinya belum selesai. Saat itu dikabarkan ada berita dimana kontraktor pembuat mesin untuk memproduksi layar Youm Samsung, dikabarkan diam-diam menjual peralatannya ke negara lain termasuk skemanya.

Next generation device ini menjadi pertarungan kedigdayaan inovasi teknologi antar vendor, termasuk sebuah pertarungan prestige. Sebagai perusahaan yang susah payah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengembangkan proyek ini, tentu keberhasilan ini tidak rela diakui oleh yang lain.

Ada dua kemungkinan yang bisa dilakukan layar Youm untuk mengubah bentuk dan fungsi smartphone yang kini sudah ada, yang pertama membuatnya menjadi ringkas, yang kedua membuatnya berubah bentuk menjadi kategori device yang berbeda.

Sebenarnya belasan tahun lalu saat ponsel masih disebut handphone belum smartphone, masih hanya untuk telepon, sms, dan kalau sedikit canggih bisa foto dan mendengar lagu MP3, handphone lipat ini sudah cukup umum. Hanya saja handphone lipat ini berarti layar di bagian atas, dan keypad di bagian bawah.

Kemudian cerita itu hilang tergantikan smartphone yang semakin maju, dan layar yang semakin besar, tetapi cita-cita untuk tetap bisa melipatnya menjadi lebih kecil untuk kemudahan dibawa dan dikantungi tetap menjadi impian.

Banyak orang merasa smartphone sekarang menyenangkan dengan layar ukuran besar, tetapi sebagian orang merasa smartphone besar ini sulit dikantungi. Smartphone sekarang rasio layarnya panjang, sehingga tidak semua kantung celana cukup, seringkali nongol.

Bahkan karena besarnya layar atau tingginya smartphone sekarang ini, hampir dipastikan tidak bisa dikantungi di kantung kemeja depan, karena mudah jatuh saat menunduk.

Maka dengan teknologi modern sekarang yang bisa membuat layar bisa dilipat, dibuatlah smartphone yang bisa dilipat menjadi setengahnya untuk kemudahan dibawa, dan ketika dibuka tidak kehilangan kenyamanan layar besarnya. Samsung menamai smartphone ini dengan istilah Flip.

Ide berikutnya mewujudkan impian banyak orang.

Saat ini kebanyakan dari kita masih menggunakan beberapa device, seperti smartphone, tablet, dan pc atau laptop. Kadang data kita jadi tercecer ada di salah satu device

Membawa laptop cukup merepotkan, ditinggal di mobil takut hilang, dibawa kemana-mana terasa berat. Tetapi smartphone saja terkadang layarnya tidak cukup besar untuk presentasi atau mengolah data seperti office.

Banyak device juga membutuhkan banyak koneksi, misalnya kartu SIM untuk data.

Dilipat jadi Smartphone

Jadi banyak pengguna device berharap satu device bisa mudah di bawa, tetapi memiliki layar yang besar yang bisa digunakan lebih optimal untuk produktivitas, dan folding phone adalah jawabannya.

Dilipat cukup kecil untuk menjadi smartphone, dibuka cukup besar untuk menjadi tablet.

Samsung menamai folding smartphone ini sebagai Fold.

Dibuka Jadi Tablet

Tantangan Teknologi

Ada 2 tantangan besar teknologi yang harus diatasi membuat smartphone lipat, pertama layar, kedua engsel.

Polyamide

Walaupun layar AMOLED fleksibel bisa dilengkungkan, tetapi dilipat dalam ukuran smartphone sangat ekstrim. Bayangkan kertas yang tipis saja kita lipat meninggalkan bekas. Di buka tutup berkali-kali kemungkinan kertas juga sobek.

Layar Youm semenjang tahun 2013 diperkenalkan, semakin tahun terus dikembangkan dan bisa semakin tipis, hanya seperti kertas tissue saja. Ini sudah bisa memecahkan masalah layar lipat, tetapi layar AMOLED ini tetap membutuhkan pelindung.

Sama seperti smartphone yang kita gunakan, layar AMOLED nya dilindungi oleh kaca, seperti kita kenal dengan kaca yang tahan gores dan benturan yang dinamai Gorilla Glass.

Tapi pada layar lipat, bagaimana kaca menjadi pelindungnya? Karena kaca tidak bisa dilipat.

Sebagai percobaaan pertama Samsung menggunakan bahan thermoplastic yang dikenal sebagai polyamide untuk melindungi layar OLED, yang kemudian dicoba oleh para Tech Reviewer dan Media, kemudian ada bagian layar yang disangka sebagai screen protector dan dikupas hingga layarnya rusak.

Jadi polymide memang bisa sebagai pelindung, tetapi tidak memberikan proteksi yang bagus, karena plastik tidak cukup keras untuk menahan goresan, misalnya dari debu, kuku, dan jari yang kotor

UTG, Ultra Thin Glass

Secara fisika, semua, atau hampir semua bahan bisa bisa dilipat, asal ketebalannya cukup tipis, jadi ini ide dari ultra thin glass. Kalau tidak tipis ya tidak bisa dilipat, melainkan akan pecah.

Misalnya kita lihat pensil yang terbuat dari kayu, tidak bisa dilipat tentu saja, akan patah.

Tapi coba lihat ketika saya coba serut… hasil serutannya tetap kayu, tetapi karena sekarang menjadi tipis, maka bisa dilipat.

Ultra Thin Glass ini teknologi baru hasil kerjasama Samsung dengan SCHOTT dan Dowoo Insys.

Banyak orang mengira teknologi ini masih harus menunggu lama, tetapi ternyata setelah Galaxy Fold yang masih menggunakan polyamide, Samsung bisa membenamkannya teknologi kaca ini di Galaxy Z Flip.

Kemudian teknologi kaca super tipis ini digunakan juga di Galaxy Fold 2.

Jadi bagaimana kaca bisa dilipat tidak pecah? Dengan dibuat sangat tipis.

Sebagai perbandingan, layar gorilla glass itu ketebalannya 400 micrometer atau 0.4 milimeter. Sementara ultra thin glass ketebalannya hanya 30 micrometer atau hampir 1/14 nya.

Untuk lebih mendapatkan gambaran lebih utuh betapa tipisnya layar ultra thin ini, diameter rambut kita sekitar 60-100 micrometer, jadi ketebalan ultra thin glass ini hanya setengah atau sepertiga diameter rambut kita.

UTG menawarkan beberapa kelebihan dibanding Polyamide, beberapa diantaranya:

Kaca menawarkan hasil layar yang lebih bening. Ini membuat tampilan layar yang sekarang namanya Dynamic AMOLED 2X , menjadi lebih maksimal warna dan kecerahannya.

Kaca menawarkan permukaan yang lebih rata dibanding thermoplastic, selain berpengaruh terhadap tampilan karena tingkat reflektif yang lebih rata, sentuhan jari juga akan tarasa lebih enak di kaca daripada di thermoplastic.

Kaca lebih tahan gores dibanding polyamide, dan saat artikel ini ditulis ada bocoran kemungkinan next Galaxy Fold 3 akan bisa ditulisi dengan s-pen, berarti Samsung sudah lebih maju lagi dalam pengembangan UTG, sehingga bisa ditulisi dan tidak baret.

Engsel

Tantangan teknologi berikutnya adalah engsel atau hinge. Kita mungkin berpikir, ah hanya melipat saja kan mudah engselnya, toh banyak ponsel jaman dulu juga dilipat.

Tidak semudah itu Alfonso…

Ponsel jaman dulu, termasuk laptop, menghubungkan 2 bagian yang terpisah, atas dan bawah yang layarnya di satu bagian saja. Kedua bagian ini terhubung dengan sebuah kabel flexible yang tipis dan tidak lebar.

Ilustrasi x-ray engsel di bawah layar

Tetapi kali ini di Flip atau Fold bagian atas dan bawah ini menjadi satu bagian oleh layar flexible yang lebih besar.

Sepanjang garis lipatan layar harus bisa bergerak rata, karena lipatan yang rata penting untuk membuat crease, atau tapak lipatan tidak membesar dan bisa dijaga minimal.

Engsel harus dibuat sedemikian rupa, sehingga di bagian lipatan layar ada jarak yang lebih renggang, agar layar memiliki area lebih luas hingga seminimal mungkin terjadi lipatan yang ekstrim sehingga layar terlipat rapat dan rusak.

Juga lipatan ini jika terlalu sempit, akan mendorong ujung-ujungnya keluar dari frame, makanya butuh area dengan diameter cukup saat dilipat.

Lipatan Layar dengan diameter sekecil mungkin

Karena ada jarak yang lebih renggang tersebut, ada kemungkinan engsel lebih mudah kemasukkan debu. Debu halus yang banyak akan membuat pergerakkan engsel terganjal, atau potongan debu yang keras bisa merusak giginya. Harus ada cara untuk bisa membersihkan debu ini.

Samsung menempatkan bristle yang terbuat dari carbon nylon fiber di dalam engsel, bristle ini seperti bulu2 pada sapu, yang saat engsel dibuka tutup akan membersihkan dirinya sendiri.

Proses buka tutup ini berarti engsel harus mempunya daya tahan untuk tidak mudah rusak atau durable.

Test laboratorium mensyaratkan setidaknya 200.000 kali bisa dibuka tutup tanpa rusak. Kalau setiap hari 100 kali dibuka tutup, maka unit setidaknya akan tahan selama 2000 hari atau 5.5 tahun.

Pada Flip dan Fold, dipikirkan nilai lebih, fitur lain apa yang bisa ditawarkan sebuah engsel selain untuk lipat melipat, yang membuatnya menjadi lebih berguna?.

Pada engsel Flip dan Fold, dibuatlah selain bisa bergerak halus,  bisa berhenti di sudut berapa pun. Dibuka 30 derajat bisa, 45 bisa, 70 bisa, tegak lurus bisa, hingga mendongak dan rata 180 derajat. Samsung menamakannya sebagai Flex Mode atau Free Stop.

Sudut yang bebas ini ternyata terasa berguna sekali sebagai sudut untuk melakukan video call, merekam video, foto, menghindari pantulan cahaya, dll.

Konsekuensinya dari kemampuan flex mode ini ada pada UI atau user interface. Misalnya saat kita merekam video untuk Youtube atau Instagram dll, kalau ditampilkan dalam posisi smartphone dibuka 90 derajat tegak lurus dan gambar ditampilkan penuh, maka gambar akan terlihat terlipat, menjadi tampilan yang aneh.

Untuk itu harus ada UI yang otomatis menggunakan kemampuan lipat ini untuk mendukung pekerjaan yang lebih baik, maka layar yang terbagi dua saat setengah melipat, akan menampilkan bagian atas video yang kita sedang rekam, dan bagian bawah panel dari video, seperti play, record, pause, dll.

Saat layar dibuka total, maka kita bisa menggunakan permukaan layar yang besar untuk membaca di area yang besar, menonton film dengan layar besar, melihat gambar dengan lebih detail, membaca komik, atau melakukan productivity dengan multi tasking, misalnya menampilkan meeting zoom di layar atas, dan di layar bawah presentasi atau bahan yang perlu kita sampaikan, dan masih bisa dikembangkan lagi dengan membuat bagian chatting WA untuk bercakap-cakap.

Itu salah satu ide mengapa kita memimpikan smartphone yang bisa dilipat, selain terlihat lebih futuristik secara style, lebih dari itu adalah produktivitas yang meningkat.

Ada satu bagian menarik dari teknologi engsel ini, bagaimana kalau kita tidak sengaja membukanya terlalu jauh melebihi 180 derajat, bukankah layar akan patah?

Ternyata Samsung memperhitungkan kemungkinan ini, dan membuat stopper yang sangat kuat pada dual CAM hingga engsel bisa menahan dari tekanan melebihi batas bukanya, dan tidak patah.

Bayangkan kalau sebuah pena digital atau Samsung menyebutnya S-pen bisa digunakan di layar lipat ini seperti s-pen pada tablet. Multitasking mungkin membuatnya bisa video meeting sambil mencatat poin-poin penting, seperti saat kita meeting biasa atau sedang kuliah.

Atau kita juga bisa sharing screen seperti sedang menulis di papan tulis saat virtual meeting, menjelaskan rumus, gambar, bagan, dll.

Dan akhirnya, konsekuensi lain yang harus dipikirkan adalah bagaimana tampilan aplikasi saat kita berpindah dari layar depan ke layar dalam yg lebih besar, ini membutuhkan App Continuity yang seamless. Jadi bicara smartphone lipat bukan saja bicara hardware, tetapi juga software, UI dan UX.

Flip Fold Trend

Dari awal folding phone diperkenalkan banyak yang bertanya, mengapa memilih dilipat? Bukankah ada cara lain misal di roll? Apakah akan ada bekas lipatan? Bagus mana layar yang terlipat ada di bagian dalam atau di bagian luar?

Melipat dan membuka seperti buku adalah cara tercepat mengakses konten di layar. Samsung sempat mengatakan mereka sudah mencoba berbagai cara menjadikan smartphone menjadi tablet. Bahkan kalau kita lihat video iklan impian CES 2013 di atas, bagian akhir memperlihatkan scrollable tablet.

Walaupun membuka secara mekanik dengan scroll akan terasa wow, tapi pada akhirnya kecepatan akses akan menjadi yang terpenting ketika kita menggunakan smartphone. Lihat saja kita selalu ingin akses fingerprint yang cepat, akses wajah yang cepat, nyala mati dengan cepat, membuka aplikasi dengan cepat. Jadi sementara ini lipat melipat masih menjadi akses tercepat.

Crease atau bekas lipatan adalah hal yang sementara ini tidak bisa dihindari saat smartphone lipat menggunakan layar di dalam, karena area lipatan yang sempit. Makanya ada beberapa model dari vendor lain menempatkan layar yang dilipat di depan, agar diameter lipatannya besar sehingga tidak ada bekas lipatan.

Mungkin untuk yang belum pernah memegang atau mencobanya akan berpikir lipatan ini mengganggu, tetapi setelah mencobanya dan menggunakannya, lipatan ini tidak akan terlihat dan tidak terasa mengganggu saat digunakan.

Layar di dalam juga lebih melindungi layar lebar yang sementara ini kekerasan UTG nya belum sekeras glass dari smartphone biasa. Pasir, kunci, uang logam, kotoran, di dalam kantong atas tas, bisa jadi menyebabkan layarnya mudah baret jika berada di luar, Sementara di dalam akan lebih terlindungi. Alasan yang masuk akal dan terbukti benar, setelah tipe layar lipat lain yang dibuat vendor lain mencoba layarnya di luar, walau terlihat lebih penuh dan irit layar, tetapi ternyata lebih rentan, dan produk selanjutnya juga menggunakan layar lipat di dalam.

Ingat Samsung sangat persistence atau “keukeuh” saat menggunakan dan mengembangkan layar AMOLED, yang berbeda dengan vendor lain, dan sekarang menuai hasilnya.

Saat ini hal yang sama dilakukannya dengan pengembangan Flip dan Folding phone, yang dinamai Z Flip dan Z Fold.

Menurut data riset Counterpoint tahun 2021 ini akan ada 9jt foldable smartphone terjual, dan ini sudah 3x lipat lebih banyak dari tahun 2020 lalu, dan Samsung akan menguasai 88% pasarnya.

Di Tahun 2023 diperkirakan perkembangannya akan menjadi 10x lipat.

Bisa jadi folding phone akan menjadi next flagship smartphone yang dikenal dan ditunggu-tunggu.

Kali ini memang kendalanya adalah teknologi lipat ini masih cukup mahal, karena biayar R&D yang tinggi dan jumlah pembuatan yang belum terlalu banyak.

Nanti tidak lama lagi teknologi ini akan lebih umum dan bisa diproduksi lebih masal dan harganya akan lebih terjangkau sehingga akan menggapai lebih banyak pengguna.

Tidak lama lagi kita akan melihat orang-orang membuka dan melipat smartphone, semakin umum di mana-mana, dan mungkin kita salah satu diantaranya. Semoga

*Artikel ini pertama ditayangkan untuk aplikasi Samsung Member di sini

One reply on “Jalan Panjang Smartphone Lipat, Flip and Fold”

  1. Pingback:Filosofi di balik Thom Browne Galaxy Foldable - Lucky Sebastian

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.