Xiaomi Redmi Note 9 Pro, in-depth Review

Prolog

Melihat harga dan spesifikasi yang diusungnya di atas kertas, sebenarnya sudah bisa tutup mata saja untuk memilih Redmi series terbaru ini, sulit ditemukan lawan yang sepadan di range harga yang sama.

Dari awal melihat harganya diumumkan, saya sudah berpendapat, device ini akan segera sold out, dan benar saja, kabarnya dalam 4 jam pembukaan pertama flash sale, 20 ribu unit habis dipesan.

Usaha Xiaomi yang terus menerus untuk menyampaikan spesifikasi hardware kepada calon konsumen, dan harga yang lebih terjangkau di kelasnya, memang akhirnya membuahkan hasil. 

Walau saya sering menyebutnya “brainwash” atau cuci otak, tapi sebenarnya cara ini salah satu penyampaian yang penting dan lebih mudah terukur, nilai sebuah barang berdasarkan kekuatan teknologi hardwarenya, karena pemahaman ini sebenarnya paling sulit untuk kebanyakan konsumen.

Tapi setidaknya sekarang konsumen lebih terbuka dengan lebih banyak pengetahuan akan opsi untuk dibandingkan, seperti prosesor atau SoC yang digunakan, seberapa besar RAM, seberapa besar kapasitas baterai, selengkap apa kemampuan kamera, dan lain-lain, yang akan jadi patokan perbandingan di atas kertas, tanpa sempat mencoba barangnya saat memilih smartphone.

Patokan ini berguna saat memilih smartphone secara online, untuk  menjadi patokan awalnya.

Untuk mid-range kali ini Xiaomi me-release 2 tipe device, Redmi Note 9 dan Redmi Note 9 Pro, keduanya memiliki varian dari warna, besaran RAM dan internal storage.

Dan di review ini menggunakan varian tertinggi, Redmi Note 9 Pro 8/128 GB

Desain dan Layar

Garis besar desain Redmi Note 9 Pro banyak sama dengan smartphone brand lain, ditampilkan di bagian belakang dari sekumpulan lensa kamera dalam bentuk bujur sangkar, menonjol dari body sekitar 2mm, hanya saja dimana brand lain banyak meletakkan kotak lensa kamera ini di bagian pinggir, Redmi Note 9 series memilih di tengah dan ditambah aksen, seperti garis kurva di dua lensa atas dan tambahan blok hitam agar kamera terlihat memanjang. Xiaomi ingin desainnya tampak simetris, baik tampak depan dan belakang.

Redmi Note 9 Pro Tampak Belakang
Quad Camera Dengan Frame Tambahan

Ada 3 warna yang disediakan Glacier White (putih), Interstellar Grey (abu), dan Tropical Green (hijau).

Dari ketiga warna ini hanya 1 yang berbeda desain, yaitu Tropical Green. Pada pilihan warna hijau ini, kamera dibuat hanya kotak square tanpa tambahan blok hitam di bawahnya, dan juga warna bodynya terdiri dari 2 warna hijau yang berbeda.

Sepertinya warna Tropical Green ini menjadi warna jawara atau pilihan dari Redmi Note 9 Pro.

Layar besar 6.67” LCD, Baterai 5020 mAh membuat device ini cukup berat di atas 200 gr atau tepatnya 209 gr.

Bagusnya Xiaomi ini selalu ingin mid-rangenya tampil seperti flagship dengan menggunakan kaca pelindung Gorilla Glass 5, baik di layar depan dan body bagian belakang. Untuk menghemat atau mungkin juga untuk mengurangi berat, frame body yang digunakan bukan metal, melainkan plastik.

Yang terlihat menonjol adalah ceruk di bawah tombol volume, sensor biometrik sidik jari buatan FPC sekaligus tombol power. Untuk menyalakan sebenarnya cukup sentuh saja tanpa perlu ditekan, dan sensor ini bekerja sangat baik dan cepat, dan bisa diregistrasi untuk 5 sidik jari.

Tombol Power sekaligus Fingerprint Sensor di Frame Samping

Yang lebih repot sebenarnya mematikan device, karena tombol ini di dalam ceruk, sehingga perlu diraba lebih tepat dan ditekan.

Penempatan sensor sidik jari di samping ini lebih jarang digunakan, karena area pembacanya lebih kecil, dibanding sensor sidik jari di body belakang. Tetapi saja pribadi lebih menyukai penempatan sensor di samping ini dibanding di belakang, karena bisa diakses tanpa perlu mengangkat device dari meja, cukup dengan menyentuhnya dengan jari telunjuk yang sudah diregistrasi. 

Cara mengaksesnya terlihat lebih natural sesuai kemungkinan cara kita memegang device, dari jempol saat mengeluarkan dari kantung, akses sidik jari saat device di meja, dengan tangan kiri, dan lain sebagainya.

Dulu hanya Sony yang banyak menggunakan sensor sidik jari di samping ini, Samsung juga pernah menggunakannya, dan sekarang digunakan oleh Xiaomi di Redmi Note 9 Pro.

Di bagian bawah masih terdapat jack audio, USB-C, dan mic dan single speaker, sementara dibagian kiri terdapat slot SIM card komplit, 2 SIM card 4G yang bisa berjalan bersamaan dan satu slot untuk memory eksternal.

Xiaomi sepertinya tahu bahwa dia tidak ada lawan dengan fitur jaman dulu yang tetap diminati banyak orang, infrared remote control, yang diletakkan dibagian atas bersama dengan mic ke dua.

Bagaimanapun juga walau TV dan beberapa perangkat device sudah menggunakan koneksi bluetooth untuk pengendalian, tetapi device dengan remote infrared masih sangat banyak digunakan.

Remote Infrared

Layar Redmi Note 9 Pro berukuran 6.67 inci, ukuran yg cukup besar, dan dibagian atasnya terdapat lubang kamera selfie di tengah. Karena itu Xiaomi menamakannya Dot Display.

Dagu frame di bagian bawah masih sedikit agak besar karena kebutuhan driver layar.

Resolusi FHD+ 2400 x 1080, berpanel LCD dan menggunakan color gamut NTSC 84%, dilapisi pelindung kaca Gorilla Glass 5 dengan perbandingan layar 20:9 sinematik.

Dot display di layar LCD sudah cukup lama ada, hampir berbarengan dengan punch hole di layar AMOLED. Hanya saja Samsung sebagai pemilik paten punch hole di layar AMOLED, baru beberapa waktu lalu mengizinkan brand lain menggunakan teknologi ini.

Mengingat harganya, tidak bisa sebenarnya diprotes penggunaan layar LCD pabrikan lokal China, Huaxing Optoelectronics ini, agar Redmi Note 9 Pro bisa sangat kompetitif dalam harga.

Harapan saya sebenarnya smartphone ini akan lebih sempurna jika menggunakan panel layar AMOLED, tetapi harganya pasti akan naik jauh.

Sejatinya kalau kita berangkat dari smartphone layar LCD, ke Redmi Note 9 Pro ini, tidak akan terasa banyak perubahan. Tetapi kalau sudah terbiasa menggunakan layar AMOLED akan terasa warna layar LCD ini sedikit off, walaupun sudah menggunakan color gamut NTSC yang lebar. Lagipula sebenarnya pabrikan China sendiri sudah banyak yang meninggalkan standar color gamut NTSC ini yang patokan warnanya tidak standar sesuai device-device jaman now.

Tapi saya percaya tidak akan banyak yang mempermasalahkan hal ini, karena mata kita cepat beradaptasi. 

Jika mata kita tidak terlatih dan terbiasa dengan layar bagus, tidak akan terasa bahwa Redmi Note 9 pro ini tidak terlalu crisp atau detail saat menampilkan video, dan kalau tidak disebelahkan dengan layar AMOLED, tidak akan terasa warna yg dihasilkan lebih dull dan kurang tajam.

Kecerahan layar ini sangat cukup untuk dilihat mata saat di dalam ruangan atau diluar, tetapi sebenarnya kecerahan maksimumnya saat bukan mode auto, tidak mencapai 200 nits.

Slider Kecerahan Mentok Tidak Mencapai 200 nits di mode bukan auto

Diukur dengan perangkat light meter untuk bisa di benchmark sesuai standar PCMark Battery, saat slider kecerahan layar digeser maksimum, tidak mencapai 200 nits yang menjadi standar, hanya sekitar 190 an.

Sepertinya panel layar ini penyumbang borosnya daya pada Redmi Note 9 Pro, karena dengan baterai 5020 mAh, PC Mark battery “hanya” mendapat skor 10 jam 20 menit, masih kalah dengan Mi 10 yang baterainya “hanya” 4780 mAh dan mendapat skor di atas 12 jam. Kecerahan max slider Mi 10 yang menggunakan layar AMOLED mencapai 450 nits tanpa mode kecerahan otomatis.

Tetapi pencapaian 10 jam 20 menit ini di skor PCMark Battery adalah angka yang sangat bagus, pada pemakaian standar mudah melewati penggunaan sehari penuh.

Kali ini kebiasaan Xiaomi terjadi lagi walau sebelumnya sudah banyak devicenya diperbaiki, widevine DRM (Digital Right Management) nya tidak didaftarkan lagi ke google, sehingga hanya memiliki Widevine CDM level L3. Pada level ini, streaming film resmi semisal Netflix, Google Movie, dkk, hanya bisa dalam resolusi SD atau standar (sekitar 480p atau 360p) tidak bisa HD.

Sebagai catatan tambahan mengenai layar di Redmi Note 9 Pro, saya mendengar memang ada yg komplain dengan warna tertentu yang tidak rata, misalnya warna abu-abu, di tempat gelap terlihat penerangan layar tidak rata, atau bleeding, dimana cahaya terlihat menyusup di pinggiran layar.

Sebagai orang yang kebetulan sempat mengalami perkembangan smartphone android dari awal, dimana dulu hampir semua smartphone android menggunakan layar LCD, problem di atas senantiasa berulang, bukan problem baru.

Layar LCD membutuhkan backlight, atau penerangan dari belakang layar yang didistribusikan oleh polarizer agar merata. Backlight ini bisa di sisi kiri kanan sumbernya atau atas bawah. Semakin besar layar semakin harus lebih kuat backlight.

Pengertian mudahnya seperti kita menonton wayang kulit, kita menonton wayang dalam bentuk bayangan, dan di belakang boneka wayang terdapat backlight atau sumber lampu. Jaman dulu mungkin obor, kemudian petromax, jaman sekarang mungkin sudah lampu sorot, menghasilkan bentuk bayangan yang lebih jelas.

Wayang Kulit dengan backlight, sumber: internet

Tergantung penempatannya, backlight ini sangat mungkin bocor atau bleeding, misalnya di sisi kiri atau kanan, berarti itu sumber backlightnya, akan terlihat lebih terang di saat kita menatap layarnya di tempat gelap sambil menampilkan warna polos seperti hitam/abu-abu. Ini bisa terjadi karena seal body yang kurang rapat atau karena berusaha membuat frame lebih tipis, dan juga bisa dari kualitas LCD panel.

Keberadaan backlight ini pula yang membuat warna hitam pekat sulit dicapai di LCD, karena backlight tetap menyala, sehingga jika di depannya terdapat thin film warna hitam, akan menjadi sedikit abu-abu.

Jadi harusnya kalau kita mengenal karakter LCD panel, tidak perlu diributkan karena kita tidak melihat warna polos di ruang gelap, kita melihat konten yang ditampilkan layar. Saat layar menampilkan konten jarang terlihat bleeding dan ketidakrataan penerangan.

Memang mungkin saja bagi orang-orang yang perfect yang kadang sering disebut OCD oleh netizen, hal ini dianggap mengganggu.

Saya pikir baiknya mereka ini memilih device dengan layar AMOLED saja, lebih mahal, tetapi tidak bikin senewen.

Device mid-end dengan harga “terjangkau”, ya pasti ada bagian tertentu yang harus kita relakan tidak semua bisa perfect, tetapi dari sisi harga menarik.

Mungkin saja nanti akan ada versi Redmi Note 9 Pro Plus, siapa tahu, yang menggunakan layar AMOLED dengan harga lebih tinggi.

Walau RAM sangat cukup dan SoC cukup powerful, terkadang swipe atau scrolling di Redmi Note 9 Pro masih sering tersendat-sendat. Saya menduga penyebabnya touch responsiveness di layar LCD ini juga kurang tinggi frekuensinya, atau mungkin masalah di OS. Semoga nanti di upgrade berikutnya sudah diperbaiki agar berjalan lebih mulus.

Tetapi overall saya percaya tidak banyak yang menyadari beberapa kekurangan di layar ini, sesuai target penggunanya, jadi akan terasa layarnya akan terasa baik-baik saja.

Secara ukuran dengan tinggi 166mm , Lebar 77mm, dan tebal body 9mm (tidak termasuk protruding camera), Redmi Note 9 Pro cukup nyaman digenggam, dengan bantuan kontur lengkung pada frame body yang memudahkan telapak tangan memegang atau menggenggamnya. Tetapi berat 209 gr nya membuat tangan juga cepat lelah, lebih nyaman digunakan dengan penyangga di meja jika perlu waktu penggunaan yang lama.

Performa

Mid-range smartphone sekarang spesifikasi di atas kertasnya tidak main-main. Xiaomi sendiri menyadari untuk menarik pengguna, akan meletakkan spesifikasi dari sisi prosesor atau SoC sebagai nilai jual utama.

Redmi Note 9 Pro menjadi device pertama yang menggunakan SoC Snapdragon 720G. G ini koda dari Gaming, atau Qualcomm menyebutnya elite gaming, optimalisasi kinerja SoC untuk bermain game yang lebih baik. Intinya elite gaming ini utamanya saat bermain game memindahkan beban kinerja yang dijalankan SoC cluster hemat daya lebih cepat ke cluster yang mampu bekerja lebih tinggi. 

Xiaomi sendiri memiliki game booster, yang sepertinya dimanfaatkan seperti elite gaming ini.

Walaupun dari sisi nama Snapdragon 720G lebih bawah dari pendahulunya Snapdragon 730G yang sudah banyak digunakan berbagai device, tetapi sebenarnya 720G ini kinerjanya lebih bagus.

Snapdragon 730G diperkenalkan April 2019, sementara Snapdragon 720G lebih baru di Januari 2020, ini memungkinkan optimalisasi yang lebih baik walau secara arsitektur keduanya mirip.

Ini perbandingan di antara keduanya

Hampir semua arsitektur di kedua chip sama, hanya saja di bagian klaster CPU betkinerja cepat, Snapdragon 720G Kryo 465 (Cortex A-76) clockspeed nya malah lebih cepat 0.1 GHz, dan DSP (Digital Signal Processor yang lebih tinggi).

Untuk ISP kamera, Snapdragon 730G sedikit mendukung resolusi kamera zero shutter lag sedikit lebih besar.

Dari arsitektur dan clockspeed sedikit lebih tinggi bisa diperkirakan kinerja Snapdragon 720G akan sedikit lebih tinggi dari Snapdragon 730G walau dalam seri nama sedikit lebih di bawah.

Hasil uji benchmark akan membuktikan hipotesa ini.

Hasil uji Antutu 

AnTuTu Benchmark

Redmi Note 9 Pro dengan Snapdragon 720G mendapatkan skor 277.825.

CPU 99.187

GPU 71.779

Device dengan Snapdragon 730G skor 249.712

CPU 81.832

GPU 71.201

Terlihat perbedaan clock speed pada Kryo 465 (CA-76) walau hanya 0.1 GHz memberikan performa yang berbeda pada hasil benchmark AnTuTu di bagian CPU

Untuk lebih memastikan lagi kita gunakan Geekbench 5 yang bisa memberikan hasil kerja CPU single core tercepat dan multi cores.

Geekbench 5

Redmi Note 9 Pro Snapdragon 720G

Single Core 565

Multi Cores 1667 

Snapdragon 730G

Single Core 423

Multi Cores 1567

Buat para gamers, kinerja chip grafis atau GPU menjadi sangat penting. Apalagi device dengan Snapdragon series biasanya untuk mengejar FPS tertinggi hanya aka menggunakan kerja CPU hanya sekitar 4-5% saja, dan di atas 80% akan mengandalkan kinerja GPU.

Untuk kinerja GPU kita ukur dengan 3DMark:

3DMark

Redmi Note 9 Pro Snapdragon 720G

Sling Shot Extreme Open GL ES 3.1 : 2505

Sling Shot Extreme Unlimited Open GL ES 3.1: 2675

Sling Shot Extreme Vulkan: 2343

Snapdragon 730G

Sling Shot Extreme Open GL ES 3.1 : 2353

Sling Shot Extreme Unlimited Open GL ES 3.1: 2127

Sling Shot Extreme Vulkan: 1855

Dari sini kita melihat walau penggunaan GPU yang sama, Adreno 618, kinerja grafis Snapdragon 720G lebih baik, terutama saat menggunakan vulkan API.

Semakin baik angka Vulkan, biasanya game-game modern yang support API ini akan bisa dijalankan dengan lebih optimal.

Untuk melihat FPS yang dihasilkan dari berbagai skenario Graphic API, kita coba dengan GFXBench. Hasilnya:

Terlihat di benchmark GFXbench kebanyakan API grafis lebih baik hasilnya di Snapdragon720G, yang ditandai dengan FPS yang lebih besar. Ini akan sangat mendukung mid-range smartphone ini menjalankan game-game dengan lebih lancar dan baik.

Saat diuji real dengan game PUBG, game bisa dijalankan dengan lancar, apalagi otomatis Game Booster dari Xiaomi otomatis menyala saat mendeteksi game dimainkan.

Sayangnya seperti banyak diinginkan para penggemar gaming, seri Snapdragon 720G ini tetap mengikuti seri Snapdragon 7 pendahulunya hanya bisa di setting grafis tertinggi di Smooth Ultra, belum Smooth Extreme.

Saya menduga ini memang pilihan dari Qualcomm sendiri karena mereka selalu berpedapat, bukan FPS tertinggi dalam game yang dipentingkan tetapi kemudian kondisi FPS ini naik turun karena throttling, tetapi yang dipentingkan FPS yang stabil, sekaligus juga konsumsi daya yang terukur selama bermain game.

Frame Rate yang stabil memang memberikan pengalaman bermain game yang lebih baik, dibanding FPS yang naik kemudian turun jauh, akan membuat permainan tidak konsisten.

Untuk mereka yang tidak terlalu mementingkan kinerja grafis untuk bermain game, Redmi Note 9 Pro ini juga mendapat skor yang baik di PCMark 2.0 untuk performa menjalankan aplikasi sehari-hari seperti browsing, membuat email, edit foto, dll, dengan hasil angka di 7768.

PCMark 2.0 Performance

Untuk pekerjaan sehari-hari ini kinerjanya sama dengan Snapdragon 730G yang memperoleh skor di 7773.

Angka mendekati 8000 ini angka yang cukup untuk mengetahui bahwa device akan bisa melakukan segala pekerjaan yang umumnya orang lakukan pada smartphone dengan lancar.

Redmi Note 9 Pro seperti kebanyakan device Xiaomi, tidak memiliki IP rating seperti tahan debu dan air. Tetapi pada jeroan devicenya sendiri sudah dilapisi coating khusus, oleophobic nanocoating (P2i) agar device jika kemasukan sedikit air atau lembab tidak sampai mudah rusak atau korslet, yang kita kenal dengan istilah splash proof

Sebenarnya di belahan dunia lain, Redmi Note 9 Pro maksimum hanya memiliki RAM sebesar 6GB, tetapi untuk Indonesia (dan India) RAM ini ada varian 8GB seperti yang dicoba dalam review ini, varian dengan RAM 8GB dan internal storage 128GB. Versi lainnya RAM 6GB dengan storage 64GB. RAM nya sendiri sudah LPDDR4x sementara internal storage UFS 2.1.

Yang menjadi catatan, manajemen RAM dan baterai dari Xiaomi terkenal sangat ketat. Sebenarnya kita berharap dari RAM yang besar kita bisa melakukan multitasking dengan lebih leluasa, aplikasi bisa dipanggil ulang dari RAM dengan instan, dan berpindah aplikasi secara cepat.

Redmi Note 9 Pro, masih sering dalam waktu yang cukup cepat menutup aplikasi yang sedang berjalan di belakang. Terutama ketika device diletakkan di meja. Jadi aplikasi-aplikasi yang memang membutuhkan waktu berjalan yang lama di belakang, seperti misalnya PCMark Battery, atau Battery log untuk memantau kinerja baterai, sering ditutup.

Bagusnya kita masih bisa mengunci aplikasi ini agar tidak ditutup dan dibiarkan untuk berjalan terus. Saya berharap Xiaomi dengan MIUI nya menggunakan kemampuan AI, untuk bisa memberikan perlakuan device yang berbeda saat melihat RAM nya sangat cukup dan kapasitas baterai juga cukup, untuk melonggarkan manajemen RAM dan baterainya yang ketat.

Saat di test, Redmi Note 9 Pro ini sudah menggunakan OS Android 10 dengan antar muka (UI) MIUI 11.0.2.0 .

Bagian yang menambah nilai jual dari device ini sekarang hadirnya NFC, yang berguna bagi mereka yang tinggal di kota dan sering melewati jalan tol untuk memeriksa dan mengisi saldo e-money dan kartu flazz lewat smartphone langsung tanpa harus mampir ke ATM atau ke gerai-gerai seperti Indomaret.

NFC Support di Redmi Note 9 Pro

Selain itu NFC juga bisa diprogram dengan bantuan sticker NFC untuk menjalankan aplikasi tertentu saat disentuhkan, misal menjadi mode silent ketika diletakkan di meja samping tempat tidur, atau menjalankan map saat diletakkan di smartphone holder. Harga sticker NFC ini juga murah dan bisa dibeli dengan mudah di online-store.

Baterai dan Charging Turbo

Redmi Note 9 Pro dilengkapi baterai 5020mAh. Sekarang ini walau angka 5000 an bukan yang paling besar, karena sebagian device ada yang 6000mAh, tetapi angka ini sudah jaminan bahwa device rata-rata akan bisa bertahan untuk digunakan 1 hari tanpa charging.

Mengingat dukungan SoC Snapdragon yang terkenal akan efisiensinya, device ini dalam test PCMark Battery secara terkalibrasi kecerahan layar hampir 200 nits (karena mentoknya kecerahan layar) mendapat skor 10 jam 20 menit.

Kecerahan 200 nits ini sebenarnya kecerahan yang tinggi untuk di dalam ruangan, kalau kita gunakan automatic brightness jarang sekali kecerahan layar akan di set hingga 200 nits, kecuali berada di luar ruangan yang cukup terik.

Dengan skor tersebut sudah jaminan Redmi Note 9 Pro akan bisa digunakan rata-rata seharian dari pagi hingga berangkat tidur tanpa takut kehabisan baterai.

Sebenarnya daya tahan baterai Redmi Note 9 Pro ini bisa lebih, seperti yang sempat diutarakan di atas, layar LCD ini sepertinya menguras banyak daya jika backlight-nya dibuat mentok di 200 nits. Masih lebih baik hasil di Mi 10 yang walaupun menggunakan prosesor flagship, baterai kapasitas lebih kecil sedikit di 4780mAh, tetapi bisa menghasilkan skor di atas 12 jam.

Yang menjadi perhatian adalah fast charging atau di Xiaomi sering disebut Turbo Charging. Keberadaan charging cepat ini memang terasa diperlukan, selain karena ukuran kapasitas  baterai sudah sedemikian besar, yang kalau tidak ada fast charging akan terisi sangat lama, keberadaan fast charging juga bisa mengubah kebiasaan kita men-charge device.

Terkadang kita meninggalkan device saat tidur sambil di charge, kebiasaan ini bisa berubah karena cepatnya proses charging, kita bisa mencharge sambil mandi dan bersiap-siap di pagi hari, ketika selesai mandi atau siap-siap akan berangkat smartphone sudah penuh.

Pengisian cepat juga sekarang tidak terlalu mengkhawatirkan seperti banyak dianggap orang bahwa baterai akan cepat rusak, karena impact nya tidak terlalu besar bagi ketahanan baterai karena sudah memiliki chip untuk mengatur kecepatan charging.

Turbo charge Redmi Note 9 Pro berjalan saat kondisi baterai di bawah 85%, setelah mencapai 85% pengisian melambat hingga 100% agar kondisi baterai segera dingin.

Dibutuhkan waktu 55 menit untuk mengisi dari 19% baterai ke 85%, dan dari 85% ke 100% membutuhkan waktu 27 menit.

Redmi Note 9 Pro sudah dilengkapi charger 33 Watt (11V 3A), sementara devicenya sendiri mendukung pengisian 30 Watt.

Yang perlu diperhatikan selain charger adalah kabel USB-C charger bawaannya yang sekaligus menjadi kabel data. Kabel ini kalau kita lihat diberi warna orange pada ujung USB nya, baik ujung USB standar maupun USB-C (color coded).

Kalau kita gunakan kabel data yang lain, walaupun kepala chargernya sama, akan terbaca kecepatan chargingnya sebagai Fast Charging. Saya perkirakan ini jalan “hanya” di 15 Watt.

Tetapi dengan kabel bawaannya akan terbaca sebagai Turbo Charging (30W).

Jadi untuk mereka yang ingin bisa charging maksimum di Redmi Note 9 Pro nya ini, perhatikan charger dan kabel bawaannya sebagai satu perangkat.

Kamera

Redmi Note 9 Pro mengusung 4 lensa kamera belakang:

64MP kamera utama, f/1.89, tetracell menjadi 16MP, sensor Samsung ISOCELL GW1

8Mp ultra-wide, f/2.2, 108 derajat (koreksi distorsi), sensor GalaxyCore GC8034

5MP lensa makro, f/2.4, sensor Samsung ISOCELL S5K5E9

2MP lensa depth untuk potrait/bokeh, f/2.4, sesor GalaxyCore GC02M1

4 Kamera Belakang

Kamera depan/selfie

16MP f/2.48, sensor Omni Vision OV1GA1Q

Kamera Utama 64MP

Kamera utama 64 MP secara default akan menjadi 16MP dengan teknologi tetracell, menyatukan 4 pixel kecil (0.8 micron) menjadi 1 pixel besar (1.6 micron). Tetapi kita memiliki pilihan untuk memotret dengan full 64 MP.

Berbeda dengan mode 16MP yang bisa mengambil beberapa gambar sekaligus dari sekali jepret (MFNR – Multi Frame Noise Reduction) dan mengolahnya menjadi satu gambar terbaik, saat menggunakan mode 64MP, kamera hanya bisa mengambil 1 frame saja. Jadi pastikan mode 64MP diambil disaat kondisi cahaya sangat cukup untuk hasil yang baik, biasanya di bawah matahari.

Keuntungan 64MP ini bisa mendapatkan detail yang lebih baik karena tingginya resolusi. Saat mengambil gambar dengan mode full 64MP ini, Redmi Note 9 Pro juga sanggup memberikan tekanan rana yang instan, tidak menunggu sampai gambar selesai diambil atau lag. Padahal secara spesifikasi SoC Snapdragon tidak menjamin zero shutter lag saat resolusi di atas 32MP

Secara keseluruhan main camera ini bisa dikatakan menghasilkan gambar yang bagus untuk kelas mid-range smartphone, detailnya dapat, HDR nya juga bagus, dan warna-warna bisa ditampilkan dengan menarik, terutama untuk foto-foto outdoor.

Dibawah ini contoh detail yang bisa dihasilkan. Bahkan untuk cropping (foto kucing) tetap menghasilkan detail yang baik.

Di dalam ruangan standar dengan penerangan lampu yang tidak terlalu kuat, agak mudah detail menjadi lebih kabur, atau sedikit gerak saja membuatnya kurang fokus. Untuk itu di dalam ruangan harus dipastikan objek diam dan tangan kita saat mengambil foto juga steady.

Yang harus diperhatikan adalah penggunaan AI. Penggunaan AI ini sebenarnya bagus untuk mengenali objek dan membuat hasil foto di proses sebagai gambar terbaik sesuai karakter objek, misalnya warna langit lebih biru, makanan lebih pop up, tanaman lebih hijau, dan lain sebagainya.

Tetapi seringkali ditemukan saat AI ini diaktifkan preset setting proses pengolahan gambar dan warnanya terlalu berlebihan menurut saya, seperti daun terlalu hijau, sehingga tampak tidak terlalu alami warnanya dan cukup jauh dengan dengan warna aslinya. 

Karena proses pematangan warna lewat AI yang cukup tinggi ini, seringkali detail halus seperti alur pada kelopak bunga, menjadi hilang, tertutup warna dengan saturasi tinggi.

Tetapi memang soal warna ini tergantung selera masing-masing, lama kelamaan kita bisa menentukan kapan AI ini perlu jalan dan kapan tidak, dan menunya pun mudah dijangkau.

Pada kamera utama ini juga disematkan fitur foto untuk malam hari atau Night Photography. Hasilnya bagus, noise terjaga, objek terlihat lebih terang dan jelas, suasana malam tertangkap dengan baik. Sepertinya Xiaomi semakin mastering dalam algoritma foto lowlight ini.

Night Mode

Untuk perekaman Video sendiri, Redmi Note 9 Pro sudah mendukung resolusi 4K dengan 30FPS.

Tetapi untuk pengambilan gambar saat kita bergerak, misalnya sambil berjalan biasa, maka resolusi yang bisa lebih steady hanya HD (1280×720), sementara kalau kita berkendara bisa  1080 30FPS.

Resolusi lainnya yang lebih tinggi seperti 1080 60fps dan 4K 30FPS, sepertinya membuat EIS tidak bisa bekerja dengan baik sehingga gambar mudah bergoyang, lebih cocok digunakan untuk video saat kita diam atau menggunakan bantuan gimbal.

Ultra-Wide

Lensa ultra wide Redmi Note 9 sebenarnya memiliki FOV (Field Of View) atau area tangkapan 119 derajat, Tetapi karena lensa yang lebar ini, biasanya terjadi distorsi pada hasil foto, terutama di bagian kedua ujung, untuk itu distorsi bisa otomatis dikoreksi hanya FOV mengecil menjadi 108 derajat.

Lensa ultra lebar ini sekarang sangat dibutuhkan, karena bisa mengambil gambar dengan cakupan sesuai mata kita melihat (mata kita FOV nya sekitar 120 derajat). Biasanya lensa ultra lebar ini bermanfaat untuk mengambil seluruh gambar dalam ruang yang sempit, atau fofo-foto arsitektural atau pemandangan / landscape.

Secara cakupan lensa ultra lebar Redmi Note 9 Pro sudah mencukupi, tetapi secara hasil sepertinya harus sedikitdibenahi.

Biasanya lensa lebar ini bisa menghasilkan gambar-gambar yang lebih dramatis, misal pemandangan dengan awan bergulung-gulung, apalagi saat sore hari atau pagi hari. Tetapi lensa ultra lebar Redmi Note 9 Pro ini cenderung membuat langit lebih datar, lebih tidak detail, over bright, tidak terlalu terlihat kedalamannya. Demikian juga objek terlihat lebih gelap. Sepertinya HDR pada lensa uitra lebar ini kurang bekerja degan baik. Semoga update software berikutnya bisa memberikan hasil yang lebih mumpuni.

Lensa Makro

Akhirnya Xiaomi menaikkan resolusi lensa makronya ke 5MP, setelah banyak produknya menggunakan resolusi 2MP saja.

Dengan resolusi 5MP kita masih memiliki kesempatan untuk membuat hasil foto makro menjadi lebih dekat lagi dengan melakukan zoom in setelah foto diambil, sementara 2MP akan mudah pecah.

Lensa Makro – Detail

Mengambil gambar dengan lensa makro ini butuh tangan yang steady dan cahaya yang cukup untuk hasil yang lebih baik.

Lensa Depth 

Lensa depth ini bisa dikatakan hanya asisten untuk membantu smartphone menentukan mana objek di bagian depan dan mana background, dari hasil 2 lensa (utama dan depth) yang berbeda focal length.

Hasil foto potrait atau bokeh di Redmi Note 9 Pro cukup bagus untuk kelas kamera 3 jutaan. Sangat bergantung dengan cahaya untuk meghasilkan pemisahan objek depan dan background yang baik.

Setelah gambar diambil, ukuran bokeh masih bisa di-adjust ke bukaan lebih besar atau kecil, semakin besar bukaan terkadang objek menjadi tidak terlalu tegas di bagian pinggirnya.

Karena sifatnya yang artificial, mengatur besaran ini lebih fokus kepada semakin blurnya background, sementara untuk objek fokus nya tidak semakin sempit seperti kalau kita menggunakan lensa bukaan lebar pada kamera DSLR.

Tetapi untuk hasil bokeh di smartphone, hasil dari Redmi Note 9 Pro enak untuk dilihat.

Kesimpulan

Di situs mi.com , Redmi Note 9 Pro dibanderol 3.4 juta untuk versi 6/64, dan 3.8 juta untuk versi 8/128.

Melihat harga dan spesifikasinya, device ini akan menarik pembeli,

Kekuatan smartphone ini tentu di SoC atau prosesornya yang bagus, Snapdragon 720G, ditandem dengan RAM yang besar dan storage yang mencukupi. Kinerjanya akan memuaskan untuk banyak pengguna termasuk mereka yang demanding untuk bermain game di smartphone mid-range.

Kameranya secara keseluruhan juga menjadi daya tarik, bisa diandalkan, dengan resolusi besar, teknologi tetracell, menghasilkan detail yang jelas, juga bisa diandalkan untuk foto low light.

Kemudian baterai kapasitas besar 5020mAh dan fast charging juga menjadi daya tarik di device ini untuk bisa digunakan tanpa charging, setidaknya dalam seharian pemakaian umum.

Kehadiran NFC menjadi daya pikat tersendiri, dan Infrared blaster untuk remote juga masih banyak yang setia menggunakannya.

Sebenarnya dengan spesifikasi ini, Xiaomi bisa membandrol smartphone ini dengan harga beberapa ratus ribu lebih tinggi, tetapi pilihan memepetkan harga untuk bersaing di area mid-range yang sudah gontok-gontokkan dengan banyak brand lain, bisa jadi menguntungkan dalam sisi jumlah penjualan dan gaung brand yang semakin berkibar.

Device ini bisa dikatakan sangat bagus di kelasnya walau tidak bisa dikatakan sempurna, dengan beberapa kekurangan yang sudah dijabarkan di atas. Tapi melihat sisi harga dan spesifikasinya, agak sulit dilawan oleh brand-brand lain, kalau pembaca ingin meminangnya, go ahead, jangan banyak pikir.

2 replies on “Xiaomi Redmi Note 9 Pro, in-depth Review”

  1. Avisenna on

    Terima kasih banyak atas ulasan Anda tentang Redmi Note 9 pro..
    Namun, saya sedang ‘dilematis’
    karena harga LG V40 yang merupakan incaran saya dulu (mantan flagship) sudah di 3 jutaan juga..
    Yang manakah yg lebih baik untuk saya pinang..?
    ~ atas jawabannya saya ucapkan terimakasih banyak..

  2. Dhanz on

    Lebih Reno 9 Pro ini sih Om… Apalagi masih garansi resmi dan device baru yang sangat terjamin updatenya..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.